Kamera 1

Selasa, 04 Juni 2013

TIGA PESAN AKHIR FRANSISKUS KEPADA PARA SAUDARA

Sekali peristiwa Fransiskus ingin mau muntah karena penyakit perutnya. Begitu hebat dan keras muntahnya itu, sehingga darah terus keluar sepanjang malam sampai pagi harinya.

Ketika para saudara yang menemaninya melihat dia hampir mati dari rasa lelah dan sakit yang ekstrim, mereka berkata kepadanya dengan rasa sedih sekali sambil berlinang-linang airmata, ‘Bapak, apa yang akan kami lakukan tanpa engkau? Ke bawah asuhan siapakah kami engkau akan serahkan sebagai anak-anak yatim? Engkau selalu merupakan ayah dan ibu kami sekaligus; engkau telah mengandung kami dan membawa kami maju dalam Kristus. Engkau adalah pemimpin dan gembala bagi kami, instruktur  dan korektor, mengajar dan mengoreksi kami lewat teladan hidupmu, bukannya kata-katamu. Kemana kami harus pergi, domba-domba tanpa seorang gembala, anak-anak tanpa seorang ayah, orang-orang kasar dan sederhana tanpa seorang pemimpin? Ke mana kiranya kami harus pergi untuk menemukanmu, O Kemuliaan Kemiskinan, Pujian Kesederhanaan, yang suka mengingatkan kami akan sifat kedosaan kami? Siapakah sekarang yang akan menunjukkan jalan kebenaran kepada kami, orang-orang buta ini? Bagaimana kami akan mendengar mulutmu berbicara kepada kami, dan lidahmu memberikan nasihat kepada kami? Di manakah kami akan menemukan semangatmu yang berkobar-kobar, yang membimbing kami sepanjang jalan Salib, dan menginspirasikan kami kepada kesempurnaan Injili? Di manakah engkau akan berada sehingga kami dapat datang berlari kepadamu, untuk membuat terang mata kami? Ke manakah kami harus mencari engkau, penghibur jiwa kami? O Bapak, apakah engkau sedang meregang nyawa? Engkau meninggalkan kami terbuang, sedih dan penuh keputus-asaan!

‘Aduh sedihnya hari ini! Karena ini adalah suatu hari penuh airmata dan kepahitan, suatu hari desolasi dan kesedihan sedang menimpa diri kami! Tidak mengherankanlah, karena selama ini hidupmu merupakan terang yang secara tetap menyinari kami, dan kata-katamu yang seperti obor-obor menyala, selalu menerangi kami sepanjang jalan Salib kami kepada kesempurnaan Injili, dan kepada cintakasih serta meneladani Tuhan kita yang manis dan tersalib.

‘Bapak, paling sedikit berikanlah berkatmu kepada kami dan kepada saudara-saudara yang lain, putera-puteramu yang telah kau peranakkan dalam Kristus, dan meninggalkan kenangan akan kehendakmu yang akan selalu dapat diingat oleh para saudara, sehingga berkata, “Bapak kita mewariskan kata-kata ini kepada para saudaranya dan putera-puteranya pada saat ajalnya.”’

Kemudian Bapak yang tercinta memandang putera-puteranya dan berkata, ‘Panggillah Saudara Benediktus dari Piratro untuk datang kepadaku.’  Saudara ini adalah seorang imam yang suci dan bijaksana,  yang kadang-kadang merayakan Misa untuk Santo Fransikus pada saat terbaring sakit; karena betapa berat sekali pun sakitnya, dia selalu ingin mendengar Misa apabila dimungkinkan. Setelah Saudara Benediktus datang, Santo Fransiskus berkata kepadanya, ‘Tuliskanlah bahwa aku memberi berkatku kepada semua saudaraku dalam Ordo, dan kepada semua yang akan masuk Ordo ini sampai akhir dunia. Dan karena aku tidak dapat berbicara banyak disebabkan oleh kelemahanku dan rasa sakit dari penyakitku, aku ingin secara singkat membuat kehendak dan tujuanku jelas bagi semua saudara, baik yang ada sekarang maupun yang akan datang di kemudian hari. Sebagai sebuah tanda bahwa mereka mengingat aku, berkatku dan Wasiatku, aku ingin mereka untuk selalu mengasihi satu sama lain, sebagaimana aku telah mengasihi mereka. Hendaklah mereka selalu mengasihi dan menghormati Tuan Puteri Kemiskinan kita, dan tetap setia serta taat kepada para uskup dan klerus dari Bunda Gereja yang kudus.’

Pada setiap penutupan kapitel, Bapa kita selalu memberkati dan mengampuni semua saudara dalam Ordo, baik yang ada pada masa itu maupun yang akan datang, dan dengan semangat penuh gairah kasihnya dia sering melakukan hal itu di luar kapitel. Namun dia biasa mengingatkan para saudara bahwa mereka harus waspada jangan sampai memberi contoh buruk, dan dia mengutuk semua yang karena contoh buruk mereka menyebabkan orang-orang berbicara buruk tentang Ordo dan kehidupan para saudara, karena para saudara yang baik dan suci menjadi dipermalukan dan berada dalam kesukaran besar disebabkan oleh perilaku sedemikian. 

Sumber: Speculum Perfectionis seu S. Francisci Assisiensis legenda antiquissima auctore fratre Leone nunc primum eidit Paul Sabatier. English version: Mirror of Perfection by Leo Sherley-Price, dalam OMNIBUS, butir 87, hal. 1220-1221. 

Cilandak, 9 Oktober 2010  

Terjemahan bebas oleh Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sumber:  http://ofsindonesia.weebly.com/16/post/2013/02/6tiga-pesan-akhir-fransiskus-kepada-para-saudara.html

SANTO FRANSISKUS DAN SULTAN MESIR: TESTIMONI ABAD KE-13

Minister Jendral (S. Bonaventura) mengatakan kepada kami: Ini adalah beberapa anekdot yang diceritakan oleh Saudara Illuminato kepada kami, saudara itu adalah yang menemani Santo Fransiskus pada waktu mengunjungi sultan Mesir. 

Pada suatu hari sultan ingin menguji iman dan semangat-penuh-gairah  Santo Fransiskus yang ditunjukkannya kepada Tuhan yang tersalib. Sultan memiliki karpet yang indah dan berwarna-warni dan dia pun menyuruh orang untuk menghamparkan karpet itu di atas lantai. Karpet itu hampir seluruhnya didekorasi dengan motif-motif dalam bentuk salib. Sultan berkata kepada orang-orang yang hadir: “Jemputlah orang itu yang kelihatannya seorang Kristiani sejati. Apabila ketika berjalan menuju kepadaku dia berjalan di atas karpet yang penuh dengan gambar salib ini, kita akan mengatakan kepadanya bahwa dia menghina Tuhannya. Sebaliknya apabila dia menolak berjalan di atas karpet, maka aku akan bertanya mengapa dia  menghina karena tidak mau mendekat kepadaku.” Lalu manusia yang dipenuhi Allah itu dipanggil. Orang ini menerima instruksi untuk tindakan-tindakan yang diambilnya dan juga kata-kata yang diucapkannya dari Allah sendiri: dia berjalan di atas karpet mendekati sultan. Sultan berpikir bahwa inilah kesempatan baginya untuk ‘menyerang’ hamba Allah itu dengan menghinanya. Sultan berkata kepada Fransiskus: “Kamu orang-orang Kristiani menyembah salib sebagai sebuah tanda istimewa Allahmu; kalau begitu, mengapa kamu berani-beraninya menginjak-injak salib-salib yang ditenun dalam karpet itu? Fransiskus menjawab pertanyaan sultan begini: “pencuri-pencuri (penjahat-penjahat) juga disalibkan bersama Tuhan kami. Kami memiliki salib sejati dari Tuhan dan Juruselamat kami Yesus Kristus; kami menyembahnya dan menunjukkan sembah bakti kami yang besar kepada salib itu. Kalau salib suci Tuhan  telah diberikan kepada kami, maka salib penjahat-penjahat itu telah ditinggalkan sebagai bagian anda. Itulah sebabnya mengapa saya tidak merasa bersalah samasekali menginjak-injak lambang-lambang para penjahat itu.

Sultan yang sama memberikan persoalan berikut ini kepada Fransiskus untuk dipecahkan: “Tuhanmu mengajarkan dalam Injil-Injilnya bahwa kejahatan tidak boleh dibalas dengan kejahatan; dan engkau harus menyerahkan jubahmu juga kalau ada orang yang menginginkan bajumu, dst. (Mt 5:39-40 dsj.). Dalam hal itu, maka orang-orang Kristiani tidak diperkenankan menyerbu dan menduduki tanah kami, kan?” Santo Fransiskus menjawab: “Kelihatannya Pak sultan belum membaca Injil Tuhan kami Yesus Kristus dengan lengkap. Di bagian lain Injil kita membaca: Jika matamu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, cungkillah dan buanglah itu (Mat 5:29). Di sini dia ingin mengajar kepada kita bahwa setiap manusia, bagaimana pun dia sangat berharga dan dia dekat kepada kita,  dan bahkan kalau dia begitu berharga bagi kita bagaikan biji mata, haruslah dicungkil dan dibuang, jika dia berupaya untuk membuat kita menyimpang dari iman dan cintakasih kepada Allah kita. Oleh karena itu adillah bagi orang-orang Kristiani untuk menyerbu dan menduduki tanah yang anda diami, karena anda menghujat nama Kristus dan  sedapat mungkin mengasingkan setiap orang dari sembah-bakti kepada-Nya. Namun, apabila Pak Sultan mau mengenal dan menerima, mengakui, dan menyembah sang Pencipta dan Penebus, maka orang-orang Kristiani akan mengasihi Pak Sultan sebagai diri mereka sendiri ……”  Semua yang hadir kagum mendengar jawaban Santo Fransiskus.

Sumber: Paul Oligny OFM (translator), THIRTEEN-CENTURY TESTIMONIES, dalam Marion A. Habig, ST. FRANCIS OF ASSISI – WRITINGS AND EARLY BIOGRAPHIES – English Omnibus of the Sources for the Life of St. Francis, Quincy, Illinois: Franciscan Press, Quincy College, 1991, hal. 1597-1617, khususnya no. 13, hal. 1614-1615). 

[translated from T. Desmonnets & D. Vorreux OFM (editors), Saint François D’Assise: Documents, Écrits et Premières Biographies (Paris, 1968), hal. 1433-1451] 

Cilandak, 15 Oktober 2010 [Peringatan Santa Teresa dari Avila, Perawan & Pujangga Gereja] 

Terjemahan bebas oleh Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Sumber :http://ofsindonesia.weebly.com/16/post/2013/02/7-santo-fransiskus-dan-sultan-mesir-testimoni-abad-ke-13.html

Selasa, 07 Mei 2013

Sejarah Para Bapa Gereja


  1. Santo Petrus (33-64 atau 33-67)
  2. Santo Linus dari Tuscany (67-76)
  3. Santo Anacletus (atau Cletus) dari Roma (76-88)
  4. Santo Clement I dari Roma (88-97)
  5. Santo Evaristus dari Yunani (97-105)
  6. Santo Alexander I dari Roma (105-115)
  7. Santo Sixtus I dari Roma (115-125)
  8. Santo Telesphorus dari Yunani (125-136)
  9. Santo Hyginius dari Athena, Yunani (136-140)
  10. Santo Pius I dari Aquileia (140-155)
  11. Santo Anicetus dari Emesa, Syria (155-166)
  12. Santo Soter dari Campagna, Italia (166-175)
  13. Santo Eleutheriusdari Nicopolis di Epirus, Yunani (175-189)
  14. Santo Victor I dari Afrika (189-199)
  15. Santo Zephyrinusdari Roma (199-217)
  16. Santo Callixtus I dari Roma (217-222)
  17. Santo Urban I dari Roma (222-230)
  18. Santo Pontian dari Roma (230-235)
  19. Santo Anterus dari Yunani (235-236)
  20. Santo Fabian dari Roma (236-250)
  21. Santo Cornelius dari Roma (251-253)
  22. Santo Lucius I dari Roma (253-254)
  23. Santo Stephen I dari Roma (254-257)
  24. Santo Sixtus II dari Athena, Yunani (257-258)
  25. Santo Dionysius, asal tidak diketahui (259-268)
  26. Santo Felix I dari Roma (269-274)
  27. Santo Eutychian dari Luni (275-283)
  28. Santo Caius dari Dalmatia (283-296)
  29. Santo Marcellinus dari Roma (296-304)
  30. Santo Marcellus I dari Roma (308-309)
  31. Santo Eusebius dari Calabria, Yunani (309-310)
  32. Santo Melchiades atau Miltiades dari Afrika (311-314)
  33. Santo Sylvester I dari Roma (314-335)
  34. Santo Markus dari Roma (336)
  35. Santo Julius I dari Roma (337-352)
  36. Liberiusdari Roma (352-366)
  37. Santo Damasus I dari Spanyol (366-384)
  38. Santo Siricius dari Roma (384-399)
  39. Santo Anastasius I dari Roma (399-401)
  40. Santo Innocentius I dari Albano (401-417)
  41. Santo Zozimus dari Mesuras, Yunani (417-418)
  42. Santo Boniface I dari Roma (418-422)
  43. Santo Celestinus I dari Campania (422-432)
  44. Santo Sixtus III dari Roma (432-440)
  45. Santo Leo I (Agung) dari Tuscany (440-461)
  46. Santo Hilarius dari Sardinia (461-468)
  47. Santo Simplicius dari Tivoli (468-483)
  48. Santo Felix III (II) dari Roma (483-492)
  49. Santo Gelasius I dari Afrika (492-496)
  50. Anastasius IIdari Roma (496-498)
  51. Santo Symmachus dari Sardinia (498-514)
  52. Santo Hormisdas dari Frosinone (514-523)
  53. Santo Yohanes I dari Tuscany (523-526)Martir
  54. Santo Felix IV (III) dari Samnium (526-530)
  55. Boniface II dari Roma (530-532)
  56. Yohanes II(Mercury) dari Roma (533-535)
  57. Santo Agapitus I dari Roma (535-536)
  58. Santo Silverius I dari Campania (536-537)
  59. Vigiliusdari Roma (537-555)
  60. Pelagius I dari Roma (556-561)
  61. Yohanes III dari Roma (561-574)
  62. Benedictus Idari Roma (575-579)
  63. Pelagius IIdari Roma (579-590)
  64. Santo Gregorius I (Agung)dari Roma (590-604)
  65. Sabiniandari Blera di Tuscany (604-606)
  66. Boniface IIIdari Roma (607)
  67. Santo Boniface IVdari Abruzzi (608-615)
  68. Santo Deusdedit (Adeodatus I)dari Roma (615-618)
  69. Boniface Vdari Naples (619-625)
  70. Honorius I dari Campania (625-638)
  71. Severinus dari Roma (640)
  72. Yohanes IV dari Dalmatia (640-642)
  73. Theodore I orang Yunani dari Leventine Koloni di Roma (642-649)
  74. Santo Martin I dari Todi (649-655)
  75. Santo Eugene I dari Roma (654-657)
  76. Santo Vitalian dari Segni (657-672)
  77. Adeodatus II dari Roma (672-676)
  78. Donusdari Roma (676-678)
  79. Santo Agatho dari Yunani dari Sicilia (678-681)
  80. Santo Leo II dari Sicilia (682-683)
  81. Santo Benedictus II dari Roma (684-685)
  82. Yohanes V dari Antiokia, Siria (685-686)
  83. Conon dari Yunani dari Thracian (?) (686-687)
  84. Santo Sergius I orang Siria dari Palermo (687-701)
  85. Yohanes VI dari Yunani (701-705)
  86. Yohanes VIIorang Yunani dari Calabria (705-707)
  87. Sisinnius orang Yunani dari Siria (708)
  88. Constantine dari Siria (708-715)
  89. Santo Gregorius II dari Roma (715-731)
  90. Santo Gregorius III dari Siria (731-741)
  91. Santo Zacharius orang Yunani dari Calabria (741-752)
  92. Stephen II (III) dari Roma (752-757)
  93. Santo Paulus I dari Roma (757-767)
  94. Stephen III (IV)dari Sicilia (768-772)
  95. Adrianus I dari Roma (772-795)
  96. Santo Leo III dari Roma (795-816)
  97. Stephen IV dari Roma (816-817)
  98. Santo Paschal I dari Roma (817-824)
  99. Eugene II dari Roma (824-827)
  100. Valentinus dari Roma (827)
  101. Gregorius IV dari Roma (827-844)
  102. Sergius II dari Roma (844-847)
  103. Santo Leo IV dari Roma (847-855)
  104. Benedictus III dari Roma (855-858)
  105. Santo Nicholas I (Agung) dari Roma (858-867)
  106. Adrianus II dari Roma (867-872)
  107. Yohanes VIII dari Roma (872-882)
  108. Marinus I dari Gallese (882-884)
  109. Santo Adrianus III dari Rome (884-885)
  110. Stephen V (VI) dari Rome (885-891)
  111. Formosus Uskup Porto (891-896)
  112. Boniface VI dari Roma (896)
  113. Stephen VI (VII) dari Roma (896-897)
  114. Romanus dari Gallese (897)
  115. Theodore II dari Roma (897)
  116. Yohanes IX dari Tivoli (898-900)
  117. Benedictus IV dari Roma (900-903)
  118. Leo V dari Ardea (903)
  119. Sergius III dari Roma (904-911)
  120. Anastasius III dari Roma (911-913)
  121. Landus dari Sabina (913-914)
  122. Yohanes X dari Tossignano (Imola) (914-928)
  123. Leo VI dari Roma (928)
  124. Stephen VII (VIII) dari Roma (928-931)
  125. Yohanes XI dari Roma (931-935)
  126. Leo VII dari Roma (936-939)
  127. Stephen VIII (IX) dari Roma (939-942)
  128. Marinus II dari Roma (942-946)
  129. Agapitus II dari Roma (946-955)
  130. Yohanes XII (Octavius) dari Tusculum (955-964)
  131. Leo VIII dari Roma (963-965)
  132. Benedictus V dari Roma (964-966)
  133. Yohanes XIII dari Roma (965-972)
  134. Benedictus VI dari Roma (973-974)
  135. Benedictus VII dari Roma (974-983)
  136. Yohanes XIV (Peter Campenora) dari Pavia (983-984)
  137. Yohanes XV dari Roma (983-996)
  138. Gregorius V (Bruno dari Carinthia) dari Saxony (996-999)
  139. Sylvester II (Gerbert) dari Auvergne (999-1003)
  140. Yohanes XVII (Siccone) dari Roma (1003)
  141. Yohanes XVIII (Phasianus) dari Roma1004-1009
  142. Sergius IV(Peter) dari Roma (1009-1012)
  143. Benedictus VIII (Theophylactus) dari Tusculum (1012-1024)
  144. Yohanes XIX (Romanus) dari Tusculum (1024-1032)
  145. Benedictus IX (Theophylactus) dari Tusculum (1032-1044)
  146. Sylvester III (Yohanes) dari Roma (1045)
  147. Benedictus IX (kedua kalinya) (Theophylactus) dari Tusculum (1045)
  148. Gregorius VI (Yohanes Gratianus) dari Roma (1045-1046)
  149. Clement II (Suitger, Lord Morsleben & Hornburg) dari Saxony (1046-1047)
  150. Benedictus IX (ketiga kalinya) (Theophylactus) dari Tusculum (1047-1048)
  151. Damasus II (Poppo) dari Bavaria, Jerman (1048)
  152. Santo Leo IX (Bruno) dari Alsace (1049-1054)
  153. Victor II (Gebhard) dari Swabia (1055-1057)
  154. Stephen IX (X) (Frederick) dari Lorraine (1057-1058)
  155. Nicholas II (Gerard) dari Burgundy (1059-1061)
  156. Alexander II (Anselmo da Baggio) dari Milan (1061-1073)
  157. Santo Gregorius VII (Hildebrand) dari Tuscany (1073-1085)
  158. Beato Victor III (Dauferius atau Desiderius) dari Benevento (1086-1087)
  159. Beato Urban II (Otto diLagery) dari Perancis (1088-1099)
  160. Paschal II (Raniero) dari Ravenna (1099-1118)
  161. Gelasius II (Giovanni Caetani) dari Gaeta (1118-1119)
  162. Callistus II (Guido dari Burgundi) dari Burgundy, Perancis (1119-1124)
  163. Honorius II (Lamberto) dari Fiagnano (Imola) (1124-1130)
  164. Innocentius II (Gregorio Papareschi) dari Roma (1130-1143)
  165. Celestinus II (Guido) dari Citta di Castello (1143-1144)
  166. Lucius II (Gerardo Caccianemici) dari Bologna (1144-1145)
  167. Beato Eugene III (Bernardo Paganelli di Montemagno) dari Pisa (1145-1153)
  168. Anastasius IV (Corrado) dari Roma (1153-1154)
  169. Adrianus IV (Nicholas Breakspear) dari Inggris (1154-1159)
  170. Alexander III (Rolando Bandinelli) dari Siena (1159-1181)
  171. Lucius III (Ubaldo Allucingoli) dari Lucca (1181-1185)
  172. Urban III (Uberto Crivelli) dari Milan (1185-1187)
  173. Gregorius VIII (Alberto de Morra) dari Benevento (1187)
  174. Clement III (Paulo Scolari) dari Roma (1198-1191)
  175. Celestinus III (Giacinto Bobone) dari Roma (1191-1198)
  176. Innocentius III (Lotario dei Conti di Segni) dari Anagni (1198-1216)
  177. Honorius III (Cencio Savelli) dari Roma (1216-1227)
  178. Gregorius IX (Ugolino, Count Segni) dari Anagni (1227-1241)
  179. Celestinus IV (Goffredo Castiglioni) dari Milan (1241)
  180. Innocentius IV (Sinibaldo Fieschi) dari Genoa (1243-1254)
  181. Alexander IV (Rinaldo) dari Ienne (Roma) (1254-1261)
  182. Urban IV (Jacques Pantalon) dari Troyes, Perancis (1261-1264)
  183. Clement IV (Guy Foulques atau Guido le Gros) dari Perancis (1265-1268)
  184. Beato Gregorius X (Teobaldo Visconti) dari Piacenza (1271-1276)
  185. Beato Innocentius V (Peter dari Tarentaise) dari Savoy (1276)
  186. Adrianus V (Ottobono Fieschi) dari Genoa (1276)
  187. Yohanes XXI (Petrus Juliani atau Petrus Hispanus) dari Portugal (1276-1277)
  188. Nicholas III (Giovanni Gaetano Orsini) dari Roma (1277-1280)
  189. Martin IV (Simon de Brie) dari Perancis (1281-1285)
  190. Honorius IV (Giacomo Savelli) dari Roma (1285-1287)
  191. Nicholas IV (Girolamo Masci) dari Ascoli (1288-1292)
  192. Santo Celestinus V (Pietro del Murrone) dari Isernia (1294)
  193. Boniface VIII (Benedetto Caetani) dari Anagni (1294-1303)
  194. Beato Benedictus XI (Niccolo Boccasini) dari Treviso (1303-1304)
  195. Clement V (Bertrand de Got) dari Perancis (1305-1314)
  196. Yohanes XXII (Jacques d'Euse) dari Cahors, Perancis (1316-1334)
  197. Benedictus XII (Jacques Fournier) dari Perancis (1334-1342)
  198. Clement VI (Pierre Roger) dari Perancis (1342-1352)
  199. Innocentius VI (Etienne Aubert) dari Perancis (1352-1362)
  200. Beato Urban V (Guillaume de Grimoard) dari Perancis (1362-1370)
  201. Gregorius XI (Pierre Roger de Beaufort) dari Perancis (1370-1378)
  202. Urban VI (Bartolomeo Prignano) dari Naples (1378-1389)
  203. Boniface IX (Pietro Tomacelli) dari Naples (1389-1404)
  204. Innocentius VII (Cosma Migliorati) dari Sulmona (1404-1406)
  205. Gregorius XII (Angelo Correr) dari Venice (1406-1415)
  206. Martin V (Oddone Colonna) dari Roma (1417-1431)
  207. Eugene IV (Gabriele Condulmer) dari Venice (1431-1447)
  208. Nicholas V (Tommaso Parentucelli) dari Sarzana (1447-1455)
  209. Callistus III (Alfonso Borgia) dari Jativa (Valencia) (1455-1458)
  210. Pius II (Enea Silvio Piccolomini) dari Siena (1458-1464)
  211. Paul II (Pietro Barbo) dari Venice (1464-1471)
  212. Sixtus IV (Francesco della Rovere) dari Savona (1471-1484)
  213. Innocentius VIII (Giovanni Battista Cibo) dari Genoa (1484-1492)
  214. Alexander VI (Rodrigo Borgia) dari Jativa (Valencia) (1492-1503)
  215. Pius III (Francesco Todeschini-Piccolomini) dari Siena (1503)
  216. Julius II (Giuliano della Rovere) dari Savona (1503-1513)
  217. Leo X (Giovanni de'Medici) dari Florence (1513-1521)
  218. Adrianus VI (Adrian Florensz) dari Utrecht, Jerman (1522-1523)
  219. Clement VII (Giulio de'Medici) dari Florence (1523-1534)
  220. Paulus III (Alessandro Farnese) dari Roma (1534-1549)
  221. Julius III (Giovanni Maria Ciocchi) dari Roma (1550-1555)
  222. Marcellus II (Marcello Cervini) dari Montepulciano (1555)
  223. Paulus IV (Gian Pietro Carafa) dari Naples (1555-1559)
  224. Pius IV (Giovan Angelo de'Medici) dari Milan (1559-1565)
  225. Santo Pius V (Antonio-Michele Ghislieri) dari Bosco (Alexandria) (1566-1572)
  226. Gregorius XIII (Ugo Buoncompagni) dari Bologna (1572-1585)
  227. Sixtus V (Felice Peretti) dari Grottamare (Ripatransone) (1585-1590)
  228. Urban VII (Giambattista Castagna) dari Roma (1590)
  229. Gregorius XIV (Niccolo Sfondrati) dari Cremona (1590-1591)
  230. Innocentius IX (Giovanni Antonio Facchinetti) dari Bologna (1591)
  231. Clement VIII (Ippolito Aldobrandini) dari Florence (1592-1605)
  232. Leo IX (Alessandro de'Medici) dari Florence (1605)
  233. Paulus V (Camillo Borghese) dari Roma (1605-1621)
  234. Gregorius XV (Alessandor Ludovisi) dari Bologna (1621-1623)
  235. Urban VIII (Maffeo Barberini) dari Florence (1623-1644)
  236. Innocentius X (Giovanni Battista Pamfili) dari Roma (1644-1655)
  237. Alexander VII (Fabio Chigi) dari Siena (1655-1667)
  238. Clement IX (Giulio Rospigliosi) dari Pistoia (1667-1669)
  239. Clement X (Emilio Altieri) dari Roma (1670-1676)
  240. Beato Innocentius XI (Benedetto Odescalchi) dari Como (1676-1689)
  241. Alexander VIII (Pietro Ottoboni) dari Venice (1689-1691)
  242. Innocentius XII (Antonio Pignatelli) dari Spinazzola (Venosa) (1691-1700)
  243. Clement XI (Giovanni Francesco Albani) dari Urbino (1700-1721)
  244. Innocentius XIII (Michelangelo dei Conti) dari Roma (1721-1724)
  245. Benedictus XIII (Pietro Francesco-Vincenzo Maria-Orsini) dari Gravina (Bari) (1724-1730)
  246. Clement XII (Lorenzo Corsini) dari Florence (1730-1740)
  247. Benedictus XIV (Prospero Lambertini) dari Bologna (1740-1758)
  248. Clement XIII (Carlo Rezzonico) dari Venice (1758-1769)
  249. Clement XIV (Giovanni Vincenzo Antonio-Lorenzo-Ganganelli) dari Rimini (1769-1774)
  250. Pius VI (Giovanni Angelo Braschi) dari Cesena (1775-1799)
  251. Pius VII (Barnaba-Gregorio-Chiaramonti) dari Cesena (1800-1823)
  252. Leo XII (Annibale della Genga) dari Genga (Fabriano) (1823-1829)
  253. Pius VIII (Fracesco Saverio Castiglioni) dari Cingoli (1829-1830)
  254. Gregorius XVI (Bartolomeo Alberto-Mauro-Cappelari) dari Belluno (1831-1846)
  255. Pius IX (Giovanni M. Mastai-Ferretti) dari Senigallia (1846-1878)
  256. Leo XIII (Gioacchino Pecci) dari Carpineto (Anagni) (1878-1903)
  257. Santo Pius X (Giuseppe Sarto) dari Riese (Treviso) (1903-1914)
  258. Benedictus XV (Giacomo della Chiesa) dari Genoa, Italia (1914-1922)
  259. Pius XI (Achille Ratti) dari Desio, Milan, Italia (1922-1939)
  260. Pius XII (Eugenio Pacelli) dari Roma (1939-1958)
  261. Yohanes XXIII (Angelo Giuseppe Roncalli) dari Sotto il Monte (Bergamo) (1958-1963)
  262. Paulus VI (Giovanni Battista Montini) dari Concescio (Brescia) (1963-1978)
  263. Yohanes Paulus I (Albino Luciani) dari Forno di Canale (Belluno) (1978)
  264. Yohanes Paulus II (Karol Wojtyla) Wadowice, Polandia (1978-2005)
  265. Benedictus XVI (Y. Ratzinger) Bavaria, Jerman (2005-2013)
           266.  Fransiskus I (Jorge Mario Bergoglio) Buenos Aires, Argentina ( 2013 - .......... )


Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id

Sabtu, 27 April 2013

Sabtu, 16 Februari 2013

Kamis, 07 Februari 2013

Saya dan Sakramen Ekaristi

Saya dan Sakramen Ekaristi


 Ekaristi
APA ITU MISTERI EKARISTI? Yesus hadir di dunia sekarang ini dengan berbagai cara, tetapi Ekaristi adalah saat di mana Yesus hadir secara paling istimewa. Saat Misa, imam mengucapkan doa khusus yang merupakan pengulangan kata-kata Yesus pada Perjamuan Malam Terakhir bersama dengan para murid-Nya, "Inilah Tubuh-Ku. Inilah Darah-Ku." Dengan kuasa Allah, Yesus hadir dalam Ekaristi saat imam mengucapkan kata-kata tersebut. Meskipun yang kita lihat hanyalah sepotong hosti putih yang kecil, yang bentuknya seperti roti dan rasanya juga seperti roti, namun demikian sejak saat konsekrasi (saat imam mengucapkan doa tersebut) hosti bukan lagi roti, melainkan Tubuh dan Darah Yesus yang hadir dalam Ekaristi. Yah, memang sulit untuk memahaminya - malahan, rasanya tidak mungkin membayangkannya. Namun, itulah kebenaran yang disampaikan Yesus kepada kita, dan kita percaya pada-Nya. Banyak orang yang mempunyai pengalaman yang menakjubkan mengenai kehadiran Yesus saat mereka menerima Ekaristi dalam Komuni Kudus. Yesus mengasihi kita dan menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Ia ingin senantiasa bersama-sama kita sampai akhir jaman. Sebaliknya, Ia pun berharap kita mau membalas kasih-Nya. Yesus menantikan balasan cinta kita kepada-Nya dalam Ekaristi. Kita dapat mengatakan pada-Nya bahwa kita mencitai-Nya ketika kita menerima Komuni Kudus dan ketika kita berdoa kepada-Nya kapan pun juga.  

sumber : My Friend; St. Thomas Corner; www.daughtersofstpaul.com/myfriend


 Komuni
MENGAPA ROTI KOMUNI DISEBUT HOSTI? Hosti berasal dari bahasa Latin `Hostia', artinya kurban. Ketika Yesus wafat disalib, Ia mempersembahkan Diri-Nya sebagai kurban untuk menghapus dosa-dosa dunia. Kurban adalah sesuatu yang kamu relakan bagi orang lain. Selama Masa Prapaskah kita berkurban tidak makan permen atau menonton acara TV favorit kita sebagai silih atas dosa-dosa kita terhadap Tuhan.

Ketika kita menerima Hosti, kita mempersatukan diri dengan kurban Kristus. Kita juga mengatakan kepada Tuhan bahwa kita menyesal atas dosa-dosa kita. Tuhan menjawab, “Baiklah, Aku mengampunimu.”

sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com  

 Hosti = Kristus
MENGAPA HOSTI BENTUKNYA BUNDAR? Kadang-kadang kita menerima Komuni Kudus apa adanya. Kita maju untuk menerima hosti putih tanpa sungguh-sungguh berpikir tentangnya. Karena iman, kita percaya bahwa hosti yang kita terima itu adalah Tubuh Kristus, tetapi pernahkah kalian berpikir tentang hosti yang kalian terima itu? Misalnya saja, mengapa bentuknya bundar?

Sebenarnya hosti tidak harus berbentuk bundar atau pun bentuk khusus lainnya. Sebagian Imam Katolik Roma menggunakan roti altar yang besar dan memecah-mecahkannya sehingga potongan-potongannya memiliki bentuk serta ukuran yang tidak beraturan. Sebagian imam lainnya menggunakan roti yang dipotong-potong berbentuk kubus sebagai hosti.

Namun demikian, pada umumnya Gereja Katolik menggunakan hosti yang bentuknya bundar karena dua alasan: 1. Lebih mudah ditelan. 2. Bentuknya yang bundar serupa dengan bentuk roti tradisional yang biasa dibuat di tanah kelahiran Yesus. Mungkin kalian tahu roti Syrian atau roti "pita". Pita berasal dari bahasa Arab yang artinya bundar (kata 'pizza' juga berasal dari kata ini). Jadi hosti dibuat bentuknya bundar untuk mengingatkan kita akan roti yang dipakai oleh Yesus. Lain kali saat kalian menerima komuni, pandanglah hosti yang kalian terima baik-baik. Mungkin kalian menemukan hal-hal baru lainnya di sana.

sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com  


 Hosti
APAKAH HOSTI BISA RUSAK? Ada suatu mitos yang mengatakan bahwa begitu hosti telah dikonsekrasikan dan menjadi Tubuh Kristus, hosti tidak akan pernah bisa rusak. Hal ini tidak benar, karena Komuni Kudus masih tetap memiliki kualitas roti dan anggur meskipun keduanya telah sepenuhnya diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Roti dan anggur tetap memiliki rasa dan rupa asalnya dan tetap memiliki sifat-sifat asalnya pula, misalnya batas kadaluarsanya.

Jarang sekali terjadi hosti melampaui batas kadaluarsanya, karena dua alasan:
1. Tingginya tingkat yang dibagi dan terbatasnya jumlah yang dikonsekrasikan, menjamin hosti dipergunakan sesegera mungkin.
2. Hosti relatif kering karena tidak mengandung ragi. Keadaan lembab menyebabkan berkembang biaknya bakteri - keadaan kering menghalangi terjadinya hal tersebut.

Pada umumnya, imam mengkonsekrasikan hanya cukup hosti untuk sekali Misa, dengan sedikit sisa untuk keperluan kunjungan kepada mereka yang sakit. Diakon yang menghantar Hosti Kudus kepada orang-orang sakit mempergunakan hosti sesuai keperluan dan mengembalikan sisanya ke Tabernakel Gereja. Dalam menghantar Hosti Kudus, Diakon harus sungguh cermat memperhatikan apakah hosti yang hendak ia bagikan sudah dikonsekrasikan atau belum.

Bagaimana jika hosti sungguh menjadi rusak? Di kebanyakan gereja terdapat suatu wastafel khusus yang disebut “Sacrarium”.  Wastafel ini tidak menyalurkan airnya ke pipa-pipa pembuangan, tetapi langsung ke tanah. Jika hosti yang telah dikonsekrasikan menjadi rusak, imam akan merendamnya dalam air hingga larut, lalu menuangkan airnya ke dalam Sacrarium. Hosti tidak boleh dikubur atau dibakar.

sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com  


 Adorasi Sakramen Mahakudus
APA ITU ADORASI SAKRAMEN MAHAKUDUS? Ketika kamu maju untuk menerima Komuni Kudus di gereja, pernahkah kamu bertanya kepada dirimu sendiri, “Apakah yang aku makan?” Wah, itu pertanyaan yang salah! Komuni Kudus bukan suatu benda!

Seharusnya kamu bertanya, “Siapakah yang aku terima?” Komuni Kudus adalah seorang pribadi. Yaitu pribadi Yesus dari Nazaret - orang yang sama yang dilahirkan pada hari Natal dan yang wafat disalib, Putra Tunggal Allah yang Kekal.

Orang sering melupakan hal ini karena Komuni tidak seperti seorang manusia atau pun suatu makhluk ilahi. Ketika kita menerima Komuni Pertama kita, mungkin kita memikirkannya, tetapi kemudian kita segera lupa akan hal tersebut.

Gereja melakukan sesuatu untuk mengingatkan kita, yaitu dengan “Adorasi”. Adorasi membantu kita menyadari bahwa Tuhan sungguh nyata hadir secara pribadi dalam Sakramen Mahakudus. Imam mentahtakan Hosti Kudus dalam suatu tempat yang disebut monstran (artinya `mempertontonkan'). Kita bersembah sujud pada Yesus. Kita mengatakan pada-Nya betapa kita mencintai-Nya dan menyembah-Nya. Inilah yang disebut “Adorasi Sakramen Mahakudus”. Kita tidak menyembah roti, tetapi kita menyembah Putra Allah.

Pada akhirnya, Yesus Sendiri memberkati kita secara pribadi. Sesungguhnya, bukan imam yang memberkati, melainkan Tuhan Sendiri.

sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com  

 Anggur
MENGAPA YESUS MEMPERGUNAKAN ANGGUR UNTUK KOMUNI? Alkohol dapat menimbulkan banyak sekali akibat buruk pada manusia. Alkohol dapat menyebabkan kecanduan serta gangguan kesehatan yang serius. Ketergantungan pada alkohol dapat menghancurkan keluarga dan pekerjaan. Jika demikian, mengapa Yesus mempergunakannya dalam Komuni Kudus?

Pada jaman Yesus, anggur adalah minuman yang paling umum. Air sulit didapat dan biasanya kurang aman untuk diminum. Susu cepat sekali menjadi basi dan harus diminum pada pagi hari. Orang-orang dalam Kitab Suci biasanya menambahkan air untuk mengencerkan dan mengurangi kepekatan anggur. Hal itu dilakukan agar anggur tidak terlalu keras bagi mereka.

Anggur mempunyai daya penyembuh. St Paulus menganjurkan Timotius untuk meminumnya. “Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkanlah anggur sedikit, berhubung pencernaanmu terganggu dan tubuhmu sering lemah.” (1 Timotius 5:23). Jika kalian tidak meminumnya secara berlebihan, anggur dapat meredakan kegelisahan kalian dan memperlancar kerja pencernaan. Jika kalian meminumnya terlalu banyak, anggur dapat menyebabkan gangguan fisik dan emosional.

Pada dasarnya Yesus menghendaki agar kita merasa tenang dan nyaman dengan kehadiran-Nya. Ia menghendaki agar Komuni merupakan pengalaman yang menyenangkan bagi kita. Terlalu banyak orang yang menyambut komuni dengan dingin tanpa perasaan. Yesus ingin bersama-sama dengan kita tidak dengan cara yang menakutkan. Oleh karena itu Ia mempergunakan makanan dan minuman yang umum digunakan.

sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com  

 
MENGAPA IMAM MEMBASUH TANGANNYA DALAM PERAYAAN MISA? Dalam Liturgi Ekaristi, yaitu pada bagian Persembahan, imam membasuh tangannya dengan air serta mengeringkannya dengan lap.

Membasuh tangan adalah hal yang biasa dilakukan para imam dalam Perjanjian Lama sesaat sebelum mereka mempersembahkan kurban persembahan di Bait Allah. Kurban tersebut haruslah murni serta tak bercela, jadi imam membasuh tangannya untuk menghilangkan segala noda rohani darinya. Dianggap bahwa dosa dapat ditangkap dengan sentuhan, karenanya imam berusaha menghilangkan “dosa” tersebut dengan suatu upacara.

Ponsius Pilatus membasuh tangannya sebelum menyerahkan Yesus untuk dihukum mati. Dengan demikian, ia ikut ambil bagian dalam mempersembahkan Kurban Salib. Sekarang para imam membasuh tangan mereka dalam Misa untuk mempersembahkan kurban yang sama, yaitu Kurban Misa yang kudus.

sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


 Roti dan Anggur
MENGAPA IMAM MENAMBAHKAN AIR KE DALAM ANGGUR PADA WAKTU MISA? Sebagian orang percaya bahwa imam melakukannya untuk melambangkan persatuan antara kita dengan Tuhan dalam Komuni. Air melambangkan manusia.

Dahulu, anggur adalah minuman yang biasa dihidangkan pada waktu bersantap. Air dan cairan-cairan lainnya seringkali kurang aman oleh karena kuman-kuman. Alkohol yang terkandung dalam anggur bekerja sebagai pembasmi kuman. Orang menambahkan air ke dalam anggur untuk menipiskannya dan juga mengurangi kadar alkoholnya.

Alasan ketiga yang sederhana adalah untuk menjadikannya cukup. Jika para tamu datang, air akan dicampurkan ke dalam anggur untuk menjadikannya cukup. Sama seperti halnya orang memecah-mecahkan roti agar lebih banyak orang dapat memakannya. Menuangkan air ke dalam anggur adalah suatu tanda keramah-tamahan pada masa Gereja Perdana. Mereka siap menerima siapa saja yang datang ke perjamuan kudus mereka.

sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


 Roti dan Anggur
MENGAPA IMAM MEMECAHKAN SEKEPING KECIL KOMUNI DAN MELETAKKANNYA DALAM PIALA? Ada banyak penjelasan simbolik dari tindakan yang biasa disebut “memecah-mecahkan Hosti” ini. Alasan sebenarnya mungkin lebih sederhana.

Sari buah anggur tetap berfermentasi walaupun telah menjadi anggur. Lama-kelamaan anggur akan menjadi cuka dan mempunyai rasa yang asam.

Di masa lampau, orang biasa meletakkan sepotong roti dan membiarkannya mengapung dalam anggur untuk menyerap asam sehingga anggur menjadi lebih lezat rasanya. Hal tersebut mungkin karena roti adalah sesuatu yang padat dan tetap mengapung dalam anggur.

Di Eropa, dalam abad pertengahan, orang membakar rotinya terlebih dahulu (toast) untuk mencegah agar roti tidak menjadi terlalu lembek. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa orang masih membicarakan `toast' (roti panggang atau bersulang) ketika mereka minum anggur.  

sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com

 Hosti = Kristus
MENGAPA ORANG KATOLIK TIDAK BERBAGI KOMUNI DENGAN ORANG KRISTEN YANG LAIN? Pada dasarnya ada dua macam Gereja Kristen: yang Independen dan yang Saling Berhubungan. Gereja independen adalah gereja yang masing-masing anggotanya bertanggung jawab secara pribadi atas keselamatannya dan tidak diperlukan pertanggungjawaban kepada kelompok lain yang lebih besar. Kebanyakan gereja Protestan termasuk dalam kelompok ini. Keuntungannya ialah gereja independen memberikan lebih banyak keleluasaan dan kebebasan pribadi bagi masing-masing anggotanya. Kelemahannya ialah beban yang dipikul masing-masing pribadi terasa berat. Gereja yang Saling Berhubungan adalah gereja yang masing-masing anggotanya saling berbagi tanggung jawab dengan seluruh komunitasnya demi keselamatan bersama. Gereja Katolik Roma termasuk dalam kelompok ini. Keuntungannya ialah tidak seorang pun anggotanya yang harus memikul tanggung jawab yang berat itu seorang diri. Kelemahannya ialah anggotanya kurang dapat mengembangkan inisiatif pribadi.

Gambaran di atas hanyalah penjelasan singkat mengenai salah satu dari perbedaan-perbedaan yang ada antara gereja Katolik dan Protestan. Gereja-gereja independen memberikan kebebasan kepada masing-masing pribadi untuk menentukan apakah mereka percaya kepada komuni atau tidak. Sebagian berpendapat bahwa komuni hanyalah suatu kenangan akan tindakan Yesus, sementara yang lain percaya bahwa komuni adalah sungguh Tubuh dan Darah Kristus. Orang Katolik yakin bahwa Komuni adalah sungguh Tubuh dan Darah Kristus. Kita percaya bahwa Komuni adalah persekutuan antara semua anggota gereja sebagai saudara yang saling berhubungan satu sama lainnya dan Komuni adalah persekutuan antara kita dengan Yesus secara pribadi.  

sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com  


Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

Rabu, 06 Februari 2013

APA ITU OFISI ?

APA ITU OFISI? Para imam dan para anggota Ordo Religius menggunakan sebuah buku khusus yang disebut “Breviary”. Breviary berasal dari bahasa Latin yang berarti “pendek” atau “singkat”. Breviary berisi kumpulan doa dan mazmur yang diambil dari Kitab Suci dan dari bacaan-bacaan rohani yang lain. Breviary didoakan setiap hari pada jam-jam tertentu. Oleh karena itu, Breviary juga disebut “Ibadat Harian” atau “Ofisi” (dari bahasa Latin `officium', artinya kewajiban).

Ofisi adalah bagian dari “peraturan hidup” yang ditetapkan oleh Santo Benediktus dari Nursia. Pada abad kelima St. Benediktus menghimpun para pertapa dalam suatu komunitas (komunitas = kelompok atau kumpulan) yang pertama di Eropa. Ia menetapkan para biarawan dan biarawati berdoa empat hingga delapan jam sehari, tidur delapan jam dan menggunakan waktu selebihnya untuk bekerja dan belajar.

Jam-jam tersebut ialah: Matins, saat fajar; Prime saat mulai bekerja; Terce jam 9:00, Sext siang hari; None jam 3:00 sore; Vespers saat matahari terbenam; dan Compline sebelum tidur. Banyak umat Kristiani masih menggunakan Ofisi, baik dalam bentuk lengkap maupun dalam bentuk ringkas. Taizé, sebuah komunitas iman di Perancis, menerbitkan Ibadat Harian yang telah disederhanakan.

Ibadat Harian membantu kita untuk membiasakan diri beribadat kepada Tuhan sepanjang hari - tidak hanya ketika kita bangun tidur atau hendak tidur. Ibadat Harian adalah doa yang baik sekali digunakan dalam kelompok-kelompok doa. Dengan saudara seiman, kita bisa saling berbagi pengalaman iman.

sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com    

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya”