Kamera 1
Sabtu, 16 Februari 2013
damai sertamu: MATERI KURSUS PERSIAPAN PERKAWINAN DALAM GEREJA K...
damai sertamu: MATERI KURSUS PERSIAPAN PERKAWINAN DALAM GEREJA K...: MATERI KURSUS PERSIAPAN PERKAWINAN DALAM GEREJA KATOLIK Oleh Silvester Nyawai Mahasiswa STKIP Widya Yuwana Madiun-JATIM A. Tujuan Adapun ...
Kamis, 07 Februari 2013
Saya dan Sakramen Ekaristi
Saya dan Sakramen Ekaristi
APA ITU MISTERI
EKARISTI? Yesus hadir di dunia sekarang ini dengan berbagai cara,
tetapi Ekaristi adalah saat di mana Yesus hadir secara paling istimewa.
Saat Misa, imam mengucapkan doa khusus yang merupakan pengulangan
kata-kata Yesus pada Perjamuan Malam Terakhir bersama dengan para
murid-Nya, "Inilah Tubuh-Ku. Inilah Darah-Ku." Dengan kuasa Allah, Yesus
hadir dalam Ekaristi saat imam mengucapkan kata-kata tersebut. Meskipun
yang kita lihat hanyalah sepotong hosti putih yang kecil, yang
bentuknya seperti roti dan rasanya juga seperti roti, namun demikian
sejak saat konsekrasi (saat imam mengucapkan doa tersebut) hosti bukan
lagi roti, melainkan Tubuh dan Darah Yesus yang hadir dalam Ekaristi.
Yah, memang sulit untuk memahaminya - malahan, rasanya tidak mungkin
membayangkannya. Namun, itulah kebenaran yang disampaikan Yesus kepada
kita, dan kita percaya pada-Nya. Banyak orang yang mempunyai pengalaman
yang menakjubkan mengenai kehadiran Yesus saat mereka menerima Ekaristi
dalam Komuni Kudus. Yesus mengasihi kita dan menyerahkan nyawa-Nya bagi
kita. Ia ingin senantiasa bersama-sama kita sampai akhir jaman.
Sebaliknya, Ia pun berharap kita mau membalas kasih-Nya. Yesus
menantikan balasan cinta kita kepada-Nya dalam Ekaristi. Kita dapat
mengatakan pada-Nya bahwa kita mencitai-Nya ketika kita menerima Komuni
Kudus dan ketika kita berdoa kepada-Nya kapan pun juga.
sumber : My Friend; St. Thomas Corner; www.daughtersofstpaul.com/myfriend
MENGAPA ROTI
KOMUNI DISEBUT HOSTI? Hosti berasal dari bahasa Latin `Hostia', artinya
kurban. Ketika Yesus wafat disalib, Ia mempersembahkan Diri-Nya sebagai
kurban untuk menghapus dosa-dosa dunia. Kurban adalah sesuatu yang kamu
relakan bagi orang lain. Selama Masa Prapaskah kita berkurban tidak
makan permen atau menonton acara TV favorit kita sebagai silih atas
dosa-dosa kita terhadap Tuhan.
Ketika kita
menerima Hosti, kita mempersatukan diri dengan kurban Kristus. Kita juga
mengatakan kepada Tuhan bahwa kita menyesal atas dosa-dosa kita. Tuhan
menjawab, “Baiklah, Aku mengampunimu.”
sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
MENGAPA HOSTI
BENTUKNYA BUNDAR? Kadang-kadang kita menerima Komuni Kudus apa adanya.
Kita maju untuk menerima hosti putih tanpa sungguh-sungguh berpikir
tentangnya. Karena iman, kita percaya bahwa hosti yang kita terima itu
adalah Tubuh Kristus, tetapi pernahkah kalian berpikir tentang hosti
yang kalian terima itu? Misalnya saja, mengapa bentuknya bundar?
Sebenarnya
hosti tidak harus berbentuk bundar atau pun bentuk khusus lainnya.
Sebagian Imam Katolik Roma menggunakan roti altar yang besar dan
memecah-mecahkannya sehingga potongan-potongannya memiliki bentuk serta
ukuran yang tidak beraturan. Sebagian imam lainnya menggunakan roti yang
dipotong-potong berbentuk kubus sebagai hosti.
Namun demikian,
pada umumnya Gereja Katolik menggunakan hosti yang bentuknya bundar
karena dua alasan: 1. Lebih mudah ditelan. 2. Bentuknya yang bundar
serupa dengan bentuk roti tradisional yang biasa dibuat di tanah
kelahiran Yesus. Mungkin kalian tahu roti Syrian atau roti "pita". Pita
berasal dari bahasa Arab yang artinya bundar (kata 'pizza' juga berasal
dari kata ini). Jadi hosti dibuat bentuknya bundar untuk mengingatkan
kita akan roti yang dipakai oleh Yesus. Lain kali saat kalian menerima
komuni, pandanglah hosti yang kalian terima baik-baik. Mungkin kalian
menemukan hal-hal baru lainnya di sana.
sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
APAKAH HOSTI
BISA RUSAK? Ada suatu mitos yang mengatakan bahwa begitu hosti telah
dikonsekrasikan dan menjadi Tubuh Kristus, hosti tidak akan pernah bisa
rusak. Hal ini tidak benar, karena Komuni Kudus masih tetap memiliki
kualitas roti dan anggur meskipun keduanya telah sepenuhnya diubah
menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Roti dan anggur tetap memiliki rasa dan
rupa asalnya dan tetap memiliki sifat-sifat asalnya pula, misalnya
batas kadaluarsanya.
Jarang sekali terjadi hosti melampaui batas kadaluarsanya, karena dua alasan:
1. Tingginya tingkat yang dibagi dan terbatasnya jumlah yang dikonsekrasikan, menjamin hosti dipergunakan sesegera mungkin.
2.
Hosti relatif kering karena tidak mengandung ragi. Keadaan lembab
menyebabkan berkembang biaknya bakteri - keadaan kering menghalangi
terjadinya hal tersebut.
Pada umumnya,
imam mengkonsekrasikan hanya cukup hosti untuk sekali Misa, dengan
sedikit sisa untuk keperluan kunjungan kepada mereka yang sakit. Diakon
yang menghantar Hosti Kudus kepada orang-orang sakit mempergunakan hosti
sesuai keperluan dan mengembalikan sisanya ke Tabernakel Gereja. Dalam
menghantar Hosti Kudus, Diakon harus sungguh cermat memperhatikan apakah
hosti yang hendak ia bagikan sudah dikonsekrasikan atau belum.
Bagaimana jika
hosti sungguh menjadi rusak? Di kebanyakan gereja terdapat suatu
wastafel khusus yang disebut “Sacrarium”. Wastafel ini tidak
menyalurkan airnya ke pipa-pipa pembuangan, tetapi langsung ke tanah.
Jika hosti yang telah dikonsekrasikan menjadi rusak, imam akan
merendamnya dalam air hingga larut, lalu menuangkan airnya ke dalam
Sacrarium. Hosti tidak boleh dikubur atau dibakar.
sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
APA ITU ADORASI
SAKRAMEN MAHAKUDUS? Ketika kamu maju untuk menerima Komuni Kudus di
gereja, pernahkah kamu bertanya kepada dirimu sendiri, “Apakah yang aku
makan?” Wah, itu pertanyaan yang salah! Komuni Kudus bukan suatu benda!
Seharusnya kamu
bertanya, “Siapakah yang aku terima?” Komuni Kudus adalah seorang
pribadi. Yaitu pribadi Yesus dari Nazaret - orang yang sama yang
dilahirkan pada hari Natal dan yang wafat disalib, Putra Tunggal Allah
yang Kekal.
Orang sering
melupakan hal ini karena Komuni tidak seperti seorang manusia atau pun
suatu makhluk ilahi. Ketika kita menerima Komuni Pertama kita, mungkin
kita memikirkannya, tetapi kemudian kita segera lupa akan hal tersebut.
Gereja
melakukan sesuatu untuk mengingatkan kita, yaitu dengan “Adorasi”.
Adorasi membantu kita menyadari bahwa Tuhan sungguh nyata hadir secara
pribadi dalam Sakramen Mahakudus. Imam mentahtakan Hosti Kudus dalam
suatu tempat yang disebut monstran (artinya `mempertontonkan'). Kita
bersembah sujud pada Yesus. Kita mengatakan pada-Nya betapa kita
mencintai-Nya dan menyembah-Nya. Inilah yang disebut “Adorasi Sakramen
Mahakudus”. Kita tidak menyembah roti, tetapi kita menyembah Putra
Allah.
Pada akhirnya, Yesus Sendiri memberkati kita secara pribadi. Sesungguhnya, bukan imam yang memberkati, melainkan Tuhan Sendiri.
sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
MENGAPA YESUS
MEMPERGUNAKAN ANGGUR UNTUK KOMUNI? Alkohol dapat menimbulkan banyak
sekali akibat buruk pada manusia. Alkohol dapat menyebabkan kecanduan
serta gangguan kesehatan yang serius. Ketergantungan pada alkohol dapat
menghancurkan keluarga dan pekerjaan. Jika demikian, mengapa Yesus
mempergunakannya dalam Komuni Kudus?
Pada jaman
Yesus, anggur adalah minuman yang paling umum. Air sulit didapat dan
biasanya kurang aman untuk diminum. Susu cepat sekali menjadi basi dan
harus diminum pada pagi hari. Orang-orang dalam Kitab Suci biasanya
menambahkan air untuk mengencerkan dan mengurangi kepekatan anggur. Hal
itu dilakukan agar anggur tidak terlalu keras bagi mereka.
Anggur
mempunyai daya penyembuh. St Paulus menganjurkan Timotius untuk
meminumnya. “Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkanlah
anggur sedikit, berhubung pencernaanmu terganggu dan tubuhmu sering
lemah.” (1 Timotius 5:23). Jika kalian tidak meminumnya secara
berlebihan, anggur dapat meredakan kegelisahan kalian dan memperlancar
kerja pencernaan. Jika kalian meminumnya terlalu banyak, anggur dapat
menyebabkan gangguan fisik dan emosional.
Pada dasarnya
Yesus menghendaki agar kita merasa tenang dan nyaman dengan
kehadiran-Nya. Ia menghendaki agar Komuni merupakan pengalaman yang
menyenangkan bagi kita. Terlalu banyak orang yang menyambut komuni
dengan dingin tanpa perasaan. Yesus ingin bersama-sama dengan kita tidak
dengan cara yang menakutkan. Oleh karena itu Ia mempergunakan makanan
dan minuman yang umum digunakan.
sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
MENGAPA IMAM
MEMBASUH TANGANNYA DALAM PERAYAAN MISA? Dalam Liturgi Ekaristi, yaitu
pada bagian Persembahan, imam membasuh tangannya dengan air serta
mengeringkannya dengan lap.
Membasuh tangan adalah hal yang biasa dilakukan para imam dalam Perjanjian Lama sesaat sebelum mereka mempersembahkan kurban persembahan
di Bait Allah. Kurban tersebut haruslah murni serta tak bercela, jadi
imam membasuh tangannya untuk menghilangkan segala noda rohani darinya.
Dianggap bahwa dosa dapat ditangkap dengan sentuhan, karenanya imam
berusaha menghilangkan “dosa” tersebut dengan suatu upacara.
Ponsius Pilatus
membasuh tangannya sebelum menyerahkan Yesus untuk dihukum mati. Dengan
demikian, ia ikut ambil bagian dalam mempersembahkan Kurban Salib. Sekarang para imam membasuh tangan mereka dalam Misa untuk mempersembahkan kurban yang sama, yaitu Kurban Misa yang kudus.
sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
MENGAPA IMAM
MENAMBAHKAN AIR KE DALAM ANGGUR PADA WAKTU MISA? Sebagian orang percaya
bahwa imam melakukannya untuk melambangkan persatuan antara kita dengan
Tuhan dalam Komuni. Air melambangkan manusia.
Dahulu, anggur
adalah minuman yang biasa dihidangkan pada waktu bersantap. Air dan
cairan-cairan lainnya seringkali kurang aman oleh karena kuman-kuman.
Alkohol yang terkandung dalam anggur bekerja sebagai pembasmi kuman.
Orang menambahkan air ke dalam anggur untuk menipiskannya dan juga
mengurangi kadar alkoholnya.
Alasan ketiga
yang sederhana adalah untuk menjadikannya cukup. Jika para tamu datang,
air akan dicampurkan ke dalam anggur untuk menjadikannya cukup. Sama
seperti halnya orang memecah-mecahkan roti agar lebih banyak orang dapat
memakannya. Menuangkan air ke dalam anggur adalah suatu tanda
keramah-tamahan pada masa Gereja Perdana. Mereka siap menerima siapa
saja yang datang ke perjamuan kudus mereka.
sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
MENGAPA IMAM
MEMECAHKAN SEKEPING KECIL KOMUNI DAN MELETAKKANNYA DALAM PIALA? Ada
banyak penjelasan simbolik dari tindakan yang biasa disebut
“memecah-mecahkan Hosti” ini. Alasan sebenarnya mungkin lebih sederhana.
Sari buah
anggur tetap berfermentasi walaupun telah menjadi anggur. Lama-kelamaan
anggur akan menjadi cuka dan mempunyai rasa yang asam.
Di masa lampau,
orang biasa meletakkan sepotong roti dan membiarkannya mengapung dalam
anggur untuk menyerap asam sehingga anggur menjadi lebih lezat rasanya.
Hal tersebut mungkin karena roti adalah sesuatu yang padat dan tetap
mengapung dalam anggur.
Di Eropa, dalam
abad pertengahan, orang membakar rotinya terlebih dahulu (toast) untuk
mencegah agar roti tidak menjadi terlalu lembek. Hal ini menjadi salah
satu alasan mengapa orang masih membicarakan `toast' (roti panggang atau
bersulang) ketika mereka minum anggur.
sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
MENGAPA ORANG
KATOLIK TIDAK BERBAGI KOMUNI DENGAN ORANG KRISTEN YANG LAIN? Pada
dasarnya ada dua macam Gereja Kristen: yang Independen dan yang Saling
Berhubungan. Gereja independen adalah gereja yang masing-masing
anggotanya bertanggung jawab secara pribadi atas keselamatannya dan
tidak diperlukan pertanggungjawaban kepada kelompok lain yang lebih
besar. Kebanyakan gereja Protestan termasuk dalam kelompok ini.
Keuntungannya ialah gereja independen memberikan lebih banyak
keleluasaan dan kebebasan pribadi bagi masing-masing anggotanya.
Kelemahannya ialah beban yang dipikul masing-masing pribadi terasa
berat. Gereja yang Saling Berhubungan adalah gereja yang masing-masing
anggotanya saling berbagi tanggung jawab dengan seluruh komunitasnya
demi keselamatan bersama. Gereja Katolik Roma termasuk dalam kelompok
ini. Keuntungannya ialah tidak seorang pun anggotanya yang harus memikul
tanggung jawab yang berat itu seorang diri. Kelemahannya ialah
anggotanya kurang dapat mengembangkan inisiatif pribadi.
Gambaran di
atas hanyalah penjelasan singkat mengenai salah satu dari
perbedaan-perbedaan yang ada antara gereja Katolik dan Protestan.
Gereja-gereja independen memberikan kebebasan kepada masing-masing
pribadi untuk menentukan apakah mereka percaya kepada komuni atau tidak.
Sebagian berpendapat bahwa komuni hanyalah suatu kenangan akan tindakan
Yesus, sementara yang lain percaya bahwa komuni adalah sungguh Tubuh
dan Darah Kristus. Orang Katolik yakin bahwa Komuni adalah sungguh Tubuh
dan Darah Kristus. Kita percaya bahwa Komuni adalah persekutuan antara
semua anggota gereja sebagai saudara yang saling berhubungan satu sama
lainnya dan Komuni adalah persekutuan antara kita dengan Yesus secara
pribadi.
sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
Rabu, 06 Februari 2013
APA ITU OFISI ?
APA ITU OFISI?
Para imam dan para anggota Ordo Religius menggunakan sebuah buku khusus
yang disebut “Breviary”. Breviary berasal dari bahasa Latin yang berarti
“pendek” atau “singkat”. Breviary berisi kumpulan doa dan mazmur yang
diambil dari Kitab Suci dan dari bacaan-bacaan rohani yang lain.
Breviary didoakan setiap hari pada jam-jam tertentu. Oleh karena itu,
Breviary juga disebut “Ibadat Harian” atau “Ofisi” (dari bahasa Latin
`officium', artinya kewajiban).
Ofisi adalah
bagian dari “peraturan hidup” yang ditetapkan oleh Santo Benediktus dari
Nursia. Pada abad kelima St. Benediktus menghimpun para pertapa dalam
suatu komunitas (komunitas = kelompok atau kumpulan) yang pertama di
Eropa. Ia menetapkan para biarawan dan biarawati berdoa empat hingga
delapan jam sehari, tidur delapan jam dan menggunakan waktu selebihnya
untuk bekerja dan belajar.
Jam-jam tersebut ialah: Matins, saat fajar; Prime saat mulai bekerja; Terce jam 9:00, Sext siang hari; None jam 3:00 sore; Vespers saat matahari terbenam; dan Compline
sebelum tidur. Banyak umat Kristiani masih menggunakan Ofisi, baik
dalam bentuk lengkap maupun dalam bentuk ringkas. Taizé, sebuah
komunitas iman di Perancis, menerbitkan Ibadat Harian yang telah
disederhanakan.
Ibadat Harian
membantu kita untuk membiasakan diri beribadat kepada Tuhan sepanjang
hari - tidak hanya ketika kita bangun tidur atau hendak tidur. Ibadat
Harian adalah doa yang baik sekali digunakan dalam kelompok-kelompok
doa. Dengan saudara seiman, kita bisa saling berbagi pengalaman iman.
sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
Senin, 31 Desember 2012
Posts from the ‘BAHAN-BAHAN UNTUK PARA ASPIRAN’ Category SALIB TAU
SALIB TAU
Pada pertemuan persaudaraan tanggal 2 Mei (1999) yang lalu, seorang novis bertanya kepada Pater Petrus Aman OFM (pembicara pada pertemuan itu) mengenai arti dari SALIB TAU. Pada pertemuan khusus dengan para aspiran, postulan dan novis tanggal 16 Mei, secara singkat saya telah mencoba menjelaskan apa arti dari SALIB TAU itu. Dalam tulisan ini saya mencoba membuat agar pokok-pokok yang dibahas dalam pertemuan tanggal 16 Mei itu diperkaya lagi dan dibuat menjadi sebuah tulisan yang kiranya baik juga untuk dijadikan sebagai bahan pegangan bagi para anggota OFS yang lain.
Saya menggunakan beberapa sumber untuk tulisan ini:
- The Tau Cross – An Explanation of the Tau Symbol (Capuchin Franciscan friars of Australia Home Page, 1999).
- Ken E. Norian, TSSF, The Tau – A Franciscan Cross (Franciscaines, 1977, TSSF Home Page).
- Inna Jane Ray, The Tau of St. Francis: Signature of Sainthood (The Way of St. Francis, Volume II. Number 5, September-October 1996, halaman 11-13).
- Omer Englebert OFM, St. Francis of Assisi – A Biography (Servant Books, 1965/1979).
- 2Celano (versi dalam bahasa Inggris terjemahan Placid Hermann OFM, ada dalam Omnibus).
- LegMaj (versi Indonesia dan Inggris). LegMin (versi Inggris, ada dalam Omnibus).
- Keterangan/uraian mengenai ‘PujAllah’ dan ‘BrkLeo’, baik dalam FAK maupun Omnibus.
- Fioretti
- Pater Paul James OFM, Further Reflections on the Tau Cross I, II, III (FIA Contacts, February, May/August, November 1985).
- Leo Laba Ladjar OFM (penerjemah dan penyusun Pengantar dan Catatan), KARYA-KARYA FRANSISKUS DARI ASISI, Jakarta: Sekafi, setelah pembaharuan [dari FAK], tahun 2001 (cetakan pertama: 2001).
Memang tak dapat dipungkiri bahwa TAU adalah lambang yang sering terlihat dalam dunia Fransiskan dan rasanya tidak dapat dipisahkan dari para anggota keluarga Fransiskan, karena Fransiskus memang mempunyai preferensi lebih kuat atas tanda salib TAU ketimbang lambang-lambang lainnya. Sekarang, apa yang dapat kita ketahui tentang asal-usul salib TAU ini? Apa arti salib TAU ini bagi Fransiskus? Di mana tempat salib Tau ini dalam pengalaman hidup Fransiskan kita dewasa ini? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang perlu kita jawab. Semoga tulisan singkat ini dapat sedikit menjelaskan duduk masalahnya, sehingga ada pegangan bagi kita semua.
SANTO FRANSISKUS DAN SALIB TAU
Berakar pada sabda Allah. TAU adalah huruf ke-19 dalam bahasa Yunani, huruf terakhir bahasa Ibrani dan sangat mirip dengan huruf T yang kita kenal. Dikisahkanlah bahwa Santo Fransiskus bukanlah seorang yang mahir perihal tulis-menulis. Biasanya dia mendiktekan kepada saudara Leo, lalu sebagai tanda tangan dia menggambarkan salib dalam bentuk T (Englebert, hal. 12).
Kita dapat membaca Kitab Suci Perjanjian Lama ayat-ayat berikut ini: “Firman TUHAN [YHWH] kepadanya: ‘Berjalanlah dari tengah-tengah kota, yaitu Yerusalem dan tulislah huruf T pada dahi orang-orang yang berkeluh kesah karena segala perbuatan-perbuatan keji yang dilakukan di sana.’ Dan kepada yang lain-lain aku mendengar Dia berfirman: ‘Ikutilah dia dari belakang melalui kota itu dan pukullah sampai mati! Janganlah merasa sayang dan jangan kenal belas kasihan. Orang-orang tua, teruna-teruna dan dara-dara, anak-anak kecil dan perempuan-perempuan, bunuh dan musnahkan! Tetapi semua orang yang ditandai dengan huruf T itu, jangan singgung! Dan mulailah dari tempat kudus-Ku!’” (Yeh 9:4-6).
Sebuah legenda. Menurut Inna Jane Ray, pada salah satu perjalanannya ke Roma untuk berbicara dengan Paus Innocentius III perihal Ordo-nya yang baru, Fransiskus masuk ke dalam gereja Yohanes Lateran untuk menghadiri Misa Kudus. Menurut legenda, Fransiskus mendengar pembacaan ayat-ayat di atas. Tergerak oleh visi sang nabi (Yehezkiel) mengenai tanda huruf T pada dahi orang-orang, Fransiskus lalu mempermaklumkan bahwa huruf T ini akan menjadi tanda para Saudara Dina, orang-orang yang setia kepada Tuhan. Apakah memang itu yang sesungguhnya terjadi, tidak ada yang tahu.
Konsili Lateran IV dan dampaknya. Namun yang jelas, Paus Innocentius III menggunakan ayat-ayat Kitab Suci di atas sebagai tema homili pembukaan Konsili Lateran IV, pada tanggal 11 November 1215. Dalam kesempatan itu Sri Paus mengkaitkan ayat di atas dengan profanisasi. Tempat-tempat Kudus di Tanah Suci oleh orang-orang Sarasin (Muslim). Sambil mengacu kepada enam orang seperti tertulis dalam Yeh 9:2, Sri Paus berkata: “Siapakah keenam orang yang diberi kuasa untuk menjalankan hukuman itu? Andalah, para Bapa Konsili. Dengan segala senjata di tangan berupa ekskomunikasi, deposisi, suspensi dan larangan, anda akan menghantam tanpa rasa kasihan, mereka yang tidak ditandai dengan tanda salib pertobatan, yang masih berkeras hati membuat malu kota Kekristenan” (Englebert, hal. 140). Dengan demikian TAU menjadi sebuah lambang dari Konsili untuk pembaharuan spiritual di dalam Gereja. Pandangan umum adalah, bahwa Fransiskus hadir dalam Konsili Lateran IV itu. Ada penulis-penulis yang berpendapat bahwa Konsili inilah yang membuat Fransiskus menjadi sadar bahwa dia mempunyai sebuah peran yang harus dimainkan dalam pembaharuan Gereja, karena sejak saat itu dia pun mulai dan untuk seterusnya menggunakan TAU. Sri Paus berkata: “TAU mempunyai bentuk yang tepat sama dengan Salib Tuhan di Kalvari. Hanya mereka yang ditandai dengan tanda ini yang akan memperoleh belas kasihan, mereka yang telah membuat malu kedagingan mereka dan menyerupakan hidup mereka dengan hidup Juruselamat yang tersalib” (Englebert, hal. 141).
Memang sejak saat itu salib TAU, dengan cara bagaimana pun tidak dapat lagi dipisahkan dari Bapak Serafik kita. Fransiskus menggunakan TAU ini sebagai tanda-tangannya, menggambarkannya di pintunya dan menggambarkannya pada tulisannya (Englebert, hal. 142); juga di tembok (Celano, Tractatus de Miraculis atau Treatise on the Miracles of the Blessed Francis, 3).
Santo Bonaventura menulis: “Bahwasanya utusan Allah yang patut dicintai Kristus, patut kita ikuti jejaknya dan patut dikagumi dunia itu adalah hamba Allah Fransiskus, boleh kita simpulkan dengan iman yang pasti, jika kita memandang dalam dia puncak kesucian ulung, yang oleh karenanya dia selagi hidup di tengah-tengah manusia telah menjadi pengikut kemurnian kemalaikatan dan dikemukakan sebagai teladan untuk mereka yang hendak mengikuti Kristus dengan sempurna. Ada pun perasaan suci dan beriman ini sudah meresap pula dalam hati kita, jika kita melihat tugas yang dimilikinya, yaitu untuk berseru, menangis dan meratap, untuk menggunduli kepada dan mengenakan pakaian pertobatan dan untuk menandai dahi orang-orang, yang mengeluh dan berduka cita atas dosa-dosa itu, dengan TAU. Dengan tanda pertobatan salib dan dengan jubah berbentuk salib itu dia pun menjadi serupa dengan salib (bdk. Yeh 9:4)” (LegMaj, Kata Pengantar, 2).
Fransiskus selalu memiliki rasa hormat yang tinggi dan afeksi atas tanda khusus ini (TAU) dan dia seringkali memujinya; dia membuat tanda salib TAU ini sebelum dia memulai sesatu dan dia pun menanda-tangani surat-surat dengan tanda salib TAU ini. Hasrat satu-satunya kelihatannya adalah untuk membuat tanda salib TAU ini pada kening dari mereka yang berkeluh kesah serta menangis dan sungguh bertobat kepada Kristus, seperti tertulis dalam Kitab Nabi Yehezkiel (Yeh 9:4; lihat juta LegMin II:9).
Sebuah kisah yang patut kita ingat selalu. Berikut ini adalah kisah menarik yang berkaitan dengan salib TAU, yang saya ambil dari LegMaj. Konon ada seorang pencipta lagu tersohor sehingga dia dijuluki ‘raja lagu’. Orang ini melihat Fransiskus yang sedang berkhotbah di biara dekat San Severino ditandai oleh dua pedang amat berkilau-kilauan, yang lintang-melintang dalam bentuk salib, pedang yang satu tegak dari kepala sampai ke kaki dan yang lain memalang di atas dada dari tangan sampai ke tangan. Ia belum mengenal wajah Fransiskus, namun ia segera mengenalinya. Karena kekuatan kata-kata Fransiskus, orang ini kemudian bertobat, seakan-akan tertembus pedang rohani yang keluar dari mulut Fransiskus. Kemudian ia bergabung dengan Fransiskus dan menjadi seorang Saudara Dina dan memakai nama Pacificus. Ia menjadi semakin kudus dan kemudian menjadi minister provinsial pertama untuk negeri Perancis. Sebelum ia menjadi minister provinsial di Perancis, ia boleh melihat berulang-ulang TAU besar pada dahi Fransiskus, aneka macam warna TAU itu memperelok wajah Fransiskus dengan keindahan yang ajaib (lihat LegMaj IV:9; cerita Saudara Pacificus ini dapat juga dibaca di 2Cel 106). Bonaventura melanjutkan: “Dalam pengajarannya hamba Suci (Fransiskus) sering menganjurkan tanda itu dan surat-surat kecil yang kadang-kadang dikirimkannya ditandatanganinya sendiri dengan tanda itu, seakan-akan ia hanya berusaha, seuturt perkataan nabi (Yeh 9:4), untuk menandai semua yang mengeluh dan berdukacita, yaitu semua yang sungguh-sungguh bertobat kepada Kristus, dengan tanda TAU pada dahi mereka (LegMaj IV:9; bdk. LegMin II:9 yang sudah dikutip di atas).
BERKAT FRANSISKUS BAGI SAUDARA LEO
CERITA DARI FIORETTI. Dalam permenungan kedua tentang Stigmata Suci yang terdapat dalam Fioretti, dikisahkanlah bahwa timbul pada Saudara Leo keinginan besar untuk memiliki beberapa perkataan suci yang ditulis dengan tangan Fransiskus sendiri. Ia berpikir jika dia dapat memperolehnya, godaan itu (dari roh jahat) akan lenyap darinya, entah seluruhnya atau sebagian. Akan tetapi, walaupun ada keinginan ini, namun karena malu dan hormat ia tidak berani menyatakannya kepada Fransiskus. Ternyata keinginan tersembunyi dari Saudara Leo ini dinyatakan kepada Fransiskus oleh Roh Kudus. Karena itu Fransiskus memanggil Saudara Leo, menyuruhnya mengambil tinta, pena dan perkamen (dari kulit); lalu dia menuliskan suatu pujian bagi Kristus, tepat seperti yang diinginkan Saudara Leo. Sekaligus dia membuat tanda TAU, lalu menyerahkannya kepada Saudara Leo katanya, “Ambillah lembaran ini, Saudara terkasih, dan simpanlah dengan cermat sampai ajalmu. Semoga Allah memberkati dan melindungi engkau dalam setiap godaan. Janganlah cemas karena engkau mendapat godaan-godaan, karena dalam hal ini saya memandangmu bahkan lebih sebagai hamba Allah. Semakin hebat engkau diganggu oleh godaan, semakin besarlah kasih sayangku kepadamu. Saya mengatakan kepadamu sebenar-benarnya, bahwa tak seorang pun boleh memandang dirinya sebagai seorang sahabat Allah yang sempurna, sampai dia telah mengalami banyak godaan dan kesusahan” (Fioretti dalam bahasa Indonesia, hal. 209-210).
CERITA DARI 2CELANO. Thomas dari Celano menceritakan bagaimana Fransiskus sampai menulis ‘Pujian bagi Allah yang Mahaluhur (PujAllah)’ untuk Saudara Leo. Cerita ini kiranya mengenai peristiwa yang sama dengan yang diceritakan di atas. Pada suatu waktu, ketika Fransiskus dan Saudara Leo sedang bersama-sama di bukit La Verna, timbul dalam diri Saudara Leo suatu kerinduan yang mendalam akan sabda Tuhan yang secara singkat ditulis oleh tangan Santo Fransiskus. Karena Saudara Leo percaya dia akan lepas dari suatu godaan serius yang mengganggu dirinya, gangguan yang bersifat rohaniah, atau paling sedikit dia akan mampu melawannya dengan lebih mudah. Meskipun Saudara Leo sangat dipenuhi oleh hasrat ini, dia takut hal ini diketahui oleh Fransiskus memanggil Saudara Leo dan berkata kepadanya: “Ambilah kertas ini (lembaran perkamen kecil), jagalah dengan hati-hati sampai hari kematianmu.” Segera setelah itu semua godaan pergi dari Saudara Leo. Tulisan itu pun disimpan olehnya dan terjadi keajaiban-keajaiban karena benda itu (2Cel 49; lihat Omnibus, hal. 123).
DISIMPAN SEBAGAI RELIKUI. Lembar kecil untuk Saudara Leo ini sekarang dipelihara sebagai relikui di Basilika Santo Fransiskus (Sacro Convento) di Assisi. Pada sisi lembaran yang satu terdapat teks ‘PujAllah’ yang ditulis sendiri oleh Fransiskus dan pada sisi lain tertulislah ‘BrkLeo’ yang mengikuti formula berkat imam-agung Harun bagi umat Israel (Bil 6:24-26). Menurut catatan dalam Omnibus, Fransiskus mendiktekan berkat ini kepada Saudara Leo, namun di bagian bawah terdapat berkat pribadi Fransiskus bagi Saudara Leo yang ditulisnya sendiri dan ditandatangani dengan huruf TAU atau T dengan kepala.
Englebert menulis betapa berbahagianya Saudara Leo mendapat lembar kecil itu, melihat dirinya ditandai pada dahi dengan ‘tanda orang pilihan’. Saudara Leo sendiri membuat tulisan dengan maksud membuat lembar kecil itu menjadi otentik. Dia menulis sebanyak 15 baris (kisah ini juga dapat dibaca dalam KARYA-KARYA, HAL. 93-95), antara lain, di bawah ‘berkat’ kata-kata berikut ini: “Beatus Franciscus scriptsit manu sua istam benediction mihi frati Leoni” (Santo Fransiskus menulis dengan tangannya berkat ini untuk saya, Saudara Leo), juga di bawah ‘TAU dengan kepala’ ditulisnya kata-kata ini: “sintili modo fecit istud signum tau cum capite manu sua” (secara demikian juga dia membuat tanda ‘TAU dengan kepala’). Sebuah catatan saksi mata yang luarbiasa nilainya.
MUKJIZAT-MUKJIZAT SESUDAH SANTO FRANSISKUS WAFAT
Sebagai lampiran pada LegMaj diceritakanlah berbagai mukjizat yang terjadi setelah Santo Fransiskus wafat. Dalam pasal X:6 lampiran tersebut (Omnibus, hal. 786) terdapatlah cerita tentang sebuah mukjizat yang terjadi di Cori, yang terletak di keuskupan Ostia. Seorang laki-laki sudah tidak mampu berjalan dan sudah kehilangan harapan untuk sembuh. Namun pada suatu malam dia mulai mengeluh kepada Santo Fransiskus, seakan-akan orang kudus ini hadir di hadapannya. Dia berkata: “Santo Fransiskus, tolonglah aku. Ingatlah bagaimana caranya aku melayanimu dan kesetiaan yang telah kutunjukkan kepadamu. Aku menyediakan seekor keledai bagimu dan aku mencium tangan dan kakimu. Aku selalu mempunyai devosi yang besar kepadamu dan aku pun seorang dermawan bagimu. Sekarang lihatlah aku ini, sedang mau mati dalam kesakitan yang amat sangat.” Santo Fransiskus tergerak oleh keluhan-keluhan orang ini dan dia pun teringat akan pelayanan-pelayanan yang telah diberikan orang itu kepadanya. Sebagai tanda terima kasih atas devosi orang itu, Fransiskus bersama saudara dina muncul dalam sebuah penglihatan. Fransiskus mengatakan kepada orang itu bahwa dia datang untuk menjawab permohonan orang itu dan dia membawa kesembuhan bagi orang itu. Fransiskus menjamah bagian tubuh yang sakit dengan kayu kecil yang berbentuk seperti salib. Lalu pada tempat yang berbisul itu keluarlah nanah dan orang itu pun sembuh total. Yang lebih indah lagi adalah bahwa tanda salib tadi masih berbekas, untuk mengingatkan orang itu akan mukjizat yang terjadi atas dirinya. Bonaventura selanjutnya menulis: “Ini adalah tanda yang dipakai oleh Fransiskus untuk menutup suratnya, apabila cintakasih menuntutnya untuk menulis surat kepada seseorang.” Jadi, ada mukjizat yang dikerjakan oleh Fransiskus dengan memberikan tanda salib TAU.
BAGI FRANSISKUS SALIB TAU BERARTI MENJADI MILIK KRISTUS
Inna Jane Ray mencatat berbagai arti ‘tau’. Misalnya dalam sebuah teks Kristiani kuno ‘Didache’ (Didakhe). ‘tau’ berarti sabda Allah. Santo Antonius (251-356), seorang pertapa di padang gurun Mesir dikisahkan mengusir segerombolan roh jahat dengan sebuah salib jenis ini. Kadangkala salib seperti ini juga disebut ‘salib perampok’ karena menurut kisahnya kedua perampok yang disalib bersama Yesus itu digantung pada salib yang tidak palang vertikal bagian atasnya. Pada abad ke-14 SALIB TAU juga digunakan pada pataka Ordo Ksatria Teutonik (zaman Perang Salib). Namun bagi Fransiskus salib TAU berarti menjadi milik Kristus.
Di luar dunia Kekristenan, sejak dahulu kala ‘tau’ juga sudah mempunyai arti yang berbeda-beda, dari budaya yang satu ke budaya yang lain (dapat dibaca rangkaian tulisan Peter Paul James OFM).
Akan tetapi untuk kita para Fransiskan, TAU merupakan sebuah lambang hidup pertobatan (jadi lambang pengudusan juga) bagi para pengikut jejak Kristus, seturut teladan (atau katakanlah ‘seturut kharisma’) Santo Fransiskus dari Assisi. Dengan demikian hormat Santo Fransiskus kepada tanda salib TAU ini harus juga menjadi hormat kita; cinta Santo Fransiskus kepada tanda salib TAU ini harus pula menjadi cinta kita.
CATATAN PENUTUP
Terima kasih kepada Sdri. Corry yang telah mengajukan pertanyaan tentang hal-ikhwal SALIB TAU ini, sehingga mendorong saya untuk membuat PR seperlunya. Semoga tujuan penyusunan tulisan ini tercapai dan semoga pula tulisan ini bermanfaat dalam rangka pendalaman ‘cara hidup’ Fransiskan kita semua.
Cilandak, 19 April 2010
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
*) Disalin (tidak sepenuhnya) dengan beberapa perbaikan dari memorandum Minister Persaudaraan OFS Santo Ludovikus IX Jakarta (Sdr. Frans X. Indrapradja OFS) tanggal 6 Juni 1999 dengan judul yang sama. Bacaan ini dapat digunakan oleh para aspiran, postulan maupun para anggota OFS yang sudah berprofesi kekal.
Corona Fransiskan
Sdr. Lambert Nita,OFM
1. Pengantar
Banyak tradisi fransiskan yang diwariskan, tidak hanya kepada para fransiskan, tetapi juga bagi Gereja Kristus, a.l. Kandang Natal, Jalan Salib dan Rosario. Namun dalam perjalanan waktu, seiring dengan perkembangan jaman, teknologi dan ilmu pengetahuan, termasuk teologi, tradisi yang juga termasuk dalam kekayaan iman Gereja semakin hari semakin diabaikan dan akhirnya ditinggalkan dengan berbagai dalih atau argumentasi teologi dan dogma.
Pada kesempatan ini, sebagai fransiskan, saya ingin mengangkat salah satu dari sekian banyak tradisi fransiskan yakni Corona Fransiskan (Rosario Fransiskan), dengan harapan tradisi saleh tersebut dapatlah kiranya dihidupkan kembali bagi yang punya dasar devosi kepada Bunda Maria. Selain itu, juga sekedar meluruskan sejarah penggunaan Rosario 72 Salam Maria, yang dikenal dengan Tujuh Sukacita Maria ini, yang lama hendak ditinggalkan para fransiskan. Namun di belahan bumi lain, nampaknya sudah mulai dihidupkan dan digemari para fransiskan terpelajar. Menurut informasi yang pernah saya dengar bahwa, rosario fransiskan ini didoakan hanya oleh para pengikut fransiskus yang tak terpelajar alias buta huruf. Apa benar demikian dan dapatkah dibuktikan?
Karena itu, baiklah kita baca dan simak latar belakangnya dengan mukjizat-mukjizat pernah terjadi, selain dari Rosario Tujuh Dukacita Maria, yang sudah lazim dalam Gereja Katolik Roma. Tujuan saya mengangkat tradisi saleh ini, tidak bermaksud memaksakan apa yang telah, sedang dan akan dihidupkan oleh sebagian kecil fransiskan masa kini terungkap diatas yakni meluruskan sejarahnya juga memperkenalkannya kepada para fransiskan masa kini, agar tidak terjadi polemik yang membingungkan karena tidak tahu asal-usulnya.
2. Latar Belakang Sejarah Rosario Fransiskan
Pada abad ke-15, St. Bernardinus dan beberapa pengkhotbah fransiskan lainnya mempromosikan sebuah bentuk rosario khas fransiskan, yang disebut Corona atau Rosario Tujuh Sukacita Maria. Rosario ini, terdiri dari tujuh puluh salam Maria, masing-masing didahului oleh Bapa Kami, renungan ketujuh sukacita Maria dan kemudian salam Maria yang ditambahkan pada akhir, sehingga seluruhnya berjumlah 72 salam Maria. Menurut tradisi, angka 72 merupakan usia Bunda Maria, selama hidup di dunia.
Seorang ahli sejarah fransiskan terkenal asal Irlandia, P. Luke Wadding, OFM (1588-1657) dalam karya tulisnya yang temasyur, Annales Minorum, mencantumkan kisah asli Corona ini, bukan sebagai legenda, melainkan sebagai sebuah kenyataan. Berikut ini terjemahannya dari bahasa Latin.
Pada waktu itu (1422) seorang pemuda yang mempunyai devosi yang tinggi kepada Santa Perawan Maria, masuk dan diterima dalam Ordo Saudara-saudara Dina. Ia telah lama mempunyai kebiasaan menghiasi patung Maria dengan rangkaian bunga mawar. Ketika di Novisiat, ia tidak bisa lagi mengumpulkan bunga mawar demi melanjutkan kebiasaannya itu. Padahal, sulit untuk menghilangkan kebiasaan itu. Maka ia memilih dan memutuskan untuk kembali ke dunia, meninggalkan ordo, demi meneruskan kebiasaannya ini. Tetapi sebelum meninggalkan Novisiat, ia pergi ke altar Maria untuk memberikan salam dan memohon perlindungan Bunda Maria. Bunda Maria menampakkan diri dan berbicara kepadanya:“Jangan sedih dan putus asa, karena engkau akan segera diijinkan lagi untuk menaruh karangan mawar pada patungku. Aku akan mengajarkan kepadamu, bagaimana engkau harus mengganti kebiasaan saleh ini dengan sesuatu yang jauh lebih berkenan kepadaku dan jauh lebih berguna bagi jiwamu. Sebagai ganti mawar-mawar yang cepat layu dan tidak selalu dapat diperoleh, engkau dapat merangkai sebuah mahkota mawar bagiku berupa doa-doamu, yang akan tetap segar dan selalu dapat diperoleh”.
“Doakanlah satu Bapa Kami dan sepuluh kali Salam Maria, sementara engkau membayangkan sukacitaku, tatkala malaikat memberitakan kabar Penjelmaan Putera Allah. Ulangilah itu lagi, sementara engkau merenungkan sukacita yang kurasakan, ketika aku mengunjungi Elisabeth, sepupuku. Doakan lagi yang sama, sementara engkau memikirkan puncak kebahagiaan yang memenuhi hatiku, ketika melahirkan Kristus Sang Penyelamat, tanpa rasa sakit dan tanpa kehilangan keperawananku. Doakanlah lagi untuk keempat kalinya, sementara engkau merasakan sukacita yang kurasakan, ketika menghunjukkan Putraku Terkasih kepada para Majus untuk disembah sujud. Ulangilah lagi untuk kelima kalinya, sementara engkau membayangkan sukacita yang menggetarkan jiwaku, ketika mencari Yesus dengan kesedihan yang mendalam selama tiga hari, dan akhirnya menemukan Dia di dalam Baik Allah, di antara para alim ulama. Keenam, doakanlah satu Bapa Kami sepuluh salam Maria, sementara engkau turut merasakan sukacita yang kualami, ketika menyaksikan kebangkitan mulia Putraku Terkasih dari kubur pada hari Minggu Paskah. Akhirnya, ulangilah doa itu untuk ketujuh kalinya, sementara engkau bersukacita bersamaku atas pengangkatanku sendiri ke Surga dalam semarak dan sukacita penuh, dan dimahkotai sebagai Ratu Surga dan Dunia. Jika engkau mendoakan ini sebagaimana telah kuperintahkan kepadamu, yakinlah anakku, kujamin, engkau akan merangkai sebuah mahkota yang indah dan berkenan kepadaku, dan hal itu pun akan mendatangkan rahmat berlimpah bagimu.”
Novis itu pun langsung berdoa corona dengan segenap hati dan penuh hormat seperti yang diperintahkan Sang Perawan kepadanya. Sementara ia berdoa dengan khusuknya, masuklah sang Magister dengan diam-diam, untuk melihat apa yang sedang terjadi, dan ia melihat seorang malaikat sedang merangkai sebuah karangan mawar, dan setelah setiap sepuluh mawar diselinginya dengan sekuntum bakung emas. Setelah selesai, lalu dikenakannya di atas kepala sang Novis.
Sang Magister lalu memerintahkan supaya sang Novis itu mengatakan semuanya kepadanya, apa yang sedang dilakukannya. Sang Novis itu pun mengatakan bahwa ia sedang berdoa Rosario sebagaimana telah diperintahkan Sang Perawan kepadanya. Dengan demikian sang Magister menjadi paham akan penglihatannya itu.
Selanjutnya, kebiasaan berdoa Rosario Corona ini tersebar luas di kalangan Ordo Saudara-saudara Dina, dan dari mereka tersebar luas ke mana-mana. Itulah Corono yang terdiri: 7 Bapa kami dan 72 salam Maria, untuk menghormati 72 tahun, yang dianggap sebagai usia hidup Bunda Maria di dunia, dan untuk menghormati 7 sukacita yang dialami oleh Maria, yang disebut-sebut oleh orang saleh dahulu. Devosi ini kemudian dipropagandakan dengan disertai banyak mukjizat.
Rupanya penambahan 2 Salam Maria pada akhir, sehingga menjadi 72, baru pada abad ke-17
3. Mukjizat-mukjizat
P. Wadding selanjutnya mengutip ada 16 peristiwa ajaib yang dikaitkan dengan Rosario Tujuh Sukacita Maria itu. Berikut ini dua di antaranya. Di Provinsi St. Fransiskus di Assisi, ada seorang fransiskan yang terkenal, Jacobus dari Corona, karena ia mendorong banyak orang, di mana-mana, tua muda, kalangan atas dan bawah untuk berdoa Rosario dari Tujuh Sukacita Santa Perawan Maria. Manakalah ada suatu kebutuhan istimewa, ia selalu mengalami pertolongan Tuhan dengan perantaraan Bunda Maria karena berdoa Rosario Corona ini.
Pada suatu ketika, kota Barga dan Spoleto dikepung oleh tentara Neapolis. Warga kota mau menghancurkan biara fransiskan dan gereja yang terletak di luar kota, supaya tidak dimanfaatkan oleh musuh demi keuntungan mereka. Sdr. Jacobus minta kepada para anggota senat yang berjaga agar menunggu sampai ia selesai berdoa Rosario Corona. Hasilnya, musuh pergi dan biara pun selamat.
P. Wadding juga mengutip kesaksian Sdr. Bernardus dari Feltre (1439-1495) yang diberikannya di bawah sumpah tentang seorang saudara dari Provinsi St. Antonius, yang melihat mukjizat di Gereja di Verona. Mengetahui bahwa ada seorang temannya suka bersembunyi di salah satu sudut Gereja untuk berdoa Rosairo Corono, ia mengamati bahwa teman itu dikelilingi oleh sekelompok malaekat yang bersama-sama meletakkan karangan bunga mawar dan bakung emas atasnya.
4. Refleksi
Bagi bapak kita Fransiskus, Bunda Maria adalah pelindung utama Ordo. Karena itu, Bunda Maria mau membuktikan kepada para suadara dina sepanjang masa bahwa, ia tetap eksis sebagai pelindung persaudaraan ini, dengan memberikan cara yang unik dan amat bermanfaat bagi keselamatan jiwa para saudara khususnya dan kaum beriman umumnya. Sebagai pengikut bapak Fransiskus, yang berpola hidup Kristus secara lebih dekat, sejauh mana kita memberi tempat kepada Bunda Maria, bunda Kristus dalam hidup dan karya kita, mempertahankan dan menghidupkan kebiasaan saleh dengan berdoa Rosario Corona atau rosario biasa?
Jika dibandingkan dengan rosario modern, alias digit-digit HP, berlogo santa Nokia atau santo Blackberry yang tekun kita gunakan, sambil berjaga sepanjang malam, menantikan pesan-pesan mesra atau menegangkan, yang sesungguhnya adalah akal-akalan hasil khayalan kita yang menimbulkan dalam hati, hasrat seperti api dalam sekam, ulat dalam kayu yang terus mengerat kekayaan rohani, dan merubah kebiasaan saleh menjadi kebiasaan salah. Apalagi jari-jari menggulir di atas keyboard santo Tosiba atau yang lainnya, merubah segala nalar dan daya interior diri yang telah tertata sejak terciptanya kita menjadi mentalitas internet, yang tak kita sadari mencampakkan kita sampai pada undernet, bahkan lebih dari itu, membuat kita terlempar sampai ke eksternet, bukti penghambaan diri manusia terhadap teknologi modern. Ada juga yang gemar “beradorasi” di depan tabernakel baru, alias TV, yang membuat kita terbelalak atau tertidur di depannya, tanpa sadar. Sehingga menjadi tidak jelas, siapa ada di depan TV atau TV ada di depan siapa?
Masih adakah rosario di dalam saku baju atau celana kita para pengikut Fransiskan? Kenyataan, HP tidak hanya harus ada di saku baju atau celana, tapi juga di dalam saku jubah cokelat pun tak pernah ketinggalan, malah yang pertama diingat dan disiapkan, sebelum Kitab Suci dan perlengkapan liturgi lainnya. Rosario yang sebenarnya, yang merupakan tradisi saleh, yang bekembang berabad-abad lamanya, telah dianggap hanya membuat lelaki jadi perempuan, karena dari dulu para pengguna rosario itu mereka yang tak terpelajar dan umumnya para perempuan, kata para teolog dan ekseget masa kini, yang gemar mengadopsi semua dari luar untuk dijadikan miliknya, malah memaksakan supaya orang lain juga mengikuti gaya hidupnya. Tapi kalau ditanya dasar dan asal-usulnya, bingung sendiri dan membingungkan orang lain. Tidak heran kalau banyak teolog masa kini tidak tahu doa rosario, bahkan salam Maria pun tidak tahu. Bukankah itu membingungkan umat?
Untuk itu, atas nama dewan Penginjilan dan Misi, dengan segala keterbatasan kami, kami akan coba menggunakan jasa majalah kita, Duta Damai, untuk membuat renungan atas Tujuh Sukacita Bunda Maria, sebagai usaha pencerahan akan tradisi saleh ini guna dibagikan kepada para saudara yang berminat. Kami akan membuatnya dalam bentuk refleksi pada setiap terbitan, satu peristiwa! Kami yakin bahwa Roh Kudus yang membuat Bunda Maria menerima dengan penuh pasrah pada kehendak Allah, akan juga membuat para saudara yang berkehendak baik untuk menghidupkan dalam diri atau menyebarkannya kepada sesama devosi ini, juga berkarya sama ajaibnya, membuat refleksi kami yang minim, kerdil dan kurang bermakna, menjadi suatu keajaiban dalam diri dan hidup saudara, sehingga melimpah, subur segar dan bermakna. Bunda Maria pasti juga berkenan pada persembahan kita. Semoga bermanfaat bagi kita semua!
1. Pengantar
Banyak tradisi fransiskan yang diwariskan, tidak hanya kepada para fransiskan, tetapi juga bagi Gereja Kristus, a.l. Kandang Natal, Jalan Salib dan Rosario. Namun dalam perjalanan waktu, seiring dengan perkembangan jaman, teknologi dan ilmu pengetahuan, termasuk teologi, tradisi yang juga termasuk dalam kekayaan iman Gereja semakin hari semakin diabaikan dan akhirnya ditinggalkan dengan berbagai dalih atau argumentasi teologi dan dogma.
Pada kesempatan ini, sebagai fransiskan, saya ingin mengangkat salah satu dari sekian banyak tradisi fransiskan yakni Corona Fransiskan (Rosario Fransiskan), dengan harapan tradisi saleh tersebut dapatlah kiranya dihidupkan kembali bagi yang punya dasar devosi kepada Bunda Maria. Selain itu, juga sekedar meluruskan sejarah penggunaan Rosario 72 Salam Maria, yang dikenal dengan Tujuh Sukacita Maria ini, yang lama hendak ditinggalkan para fransiskan. Namun di belahan bumi lain, nampaknya sudah mulai dihidupkan dan digemari para fransiskan terpelajar. Menurut informasi yang pernah saya dengar bahwa, rosario fransiskan ini didoakan hanya oleh para pengikut fransiskus yang tak terpelajar alias buta huruf. Apa benar demikian dan dapatkah dibuktikan?
Karena itu, baiklah kita baca dan simak latar belakangnya dengan mukjizat-mukjizat pernah terjadi, selain dari Rosario Tujuh Dukacita Maria, yang sudah lazim dalam Gereja Katolik Roma. Tujuan saya mengangkat tradisi saleh ini, tidak bermaksud memaksakan apa yang telah, sedang dan akan dihidupkan oleh sebagian kecil fransiskan masa kini terungkap diatas yakni meluruskan sejarahnya juga memperkenalkannya kepada para fransiskan masa kini, agar tidak terjadi polemik yang membingungkan karena tidak tahu asal-usulnya.
2. Latar Belakang Sejarah Rosario Fransiskan
Pada abad ke-15, St. Bernardinus dan beberapa pengkhotbah fransiskan lainnya mempromosikan sebuah bentuk rosario khas fransiskan, yang disebut Corona atau Rosario Tujuh Sukacita Maria. Rosario ini, terdiri dari tujuh puluh salam Maria, masing-masing didahului oleh Bapa Kami, renungan ketujuh sukacita Maria dan kemudian salam Maria yang ditambahkan pada akhir, sehingga seluruhnya berjumlah 72 salam Maria. Menurut tradisi, angka 72 merupakan usia Bunda Maria, selama hidup di dunia.
Seorang ahli sejarah fransiskan terkenal asal Irlandia, P. Luke Wadding, OFM (1588-1657) dalam karya tulisnya yang temasyur, Annales Minorum, mencantumkan kisah asli Corona ini, bukan sebagai legenda, melainkan sebagai sebuah kenyataan. Berikut ini terjemahannya dari bahasa Latin.
Pada waktu itu (1422) seorang pemuda yang mempunyai devosi yang tinggi kepada Santa Perawan Maria, masuk dan diterima dalam Ordo Saudara-saudara Dina. Ia telah lama mempunyai kebiasaan menghiasi patung Maria dengan rangkaian bunga mawar. Ketika di Novisiat, ia tidak bisa lagi mengumpulkan bunga mawar demi melanjutkan kebiasaannya itu. Padahal, sulit untuk menghilangkan kebiasaan itu. Maka ia memilih dan memutuskan untuk kembali ke dunia, meninggalkan ordo, demi meneruskan kebiasaannya ini. Tetapi sebelum meninggalkan Novisiat, ia pergi ke altar Maria untuk memberikan salam dan memohon perlindungan Bunda Maria. Bunda Maria menampakkan diri dan berbicara kepadanya:“Jangan sedih dan putus asa, karena engkau akan segera diijinkan lagi untuk menaruh karangan mawar pada patungku. Aku akan mengajarkan kepadamu, bagaimana engkau harus mengganti kebiasaan saleh ini dengan sesuatu yang jauh lebih berkenan kepadaku dan jauh lebih berguna bagi jiwamu. Sebagai ganti mawar-mawar yang cepat layu dan tidak selalu dapat diperoleh, engkau dapat merangkai sebuah mahkota mawar bagiku berupa doa-doamu, yang akan tetap segar dan selalu dapat diperoleh”.
“Doakanlah satu Bapa Kami dan sepuluh kali Salam Maria, sementara engkau membayangkan sukacitaku, tatkala malaikat memberitakan kabar Penjelmaan Putera Allah. Ulangilah itu lagi, sementara engkau merenungkan sukacita yang kurasakan, ketika aku mengunjungi Elisabeth, sepupuku. Doakan lagi yang sama, sementara engkau memikirkan puncak kebahagiaan yang memenuhi hatiku, ketika melahirkan Kristus Sang Penyelamat, tanpa rasa sakit dan tanpa kehilangan keperawananku. Doakanlah lagi untuk keempat kalinya, sementara engkau merasakan sukacita yang kurasakan, ketika menghunjukkan Putraku Terkasih kepada para Majus untuk disembah sujud. Ulangilah lagi untuk kelima kalinya, sementara engkau membayangkan sukacita yang menggetarkan jiwaku, ketika mencari Yesus dengan kesedihan yang mendalam selama tiga hari, dan akhirnya menemukan Dia di dalam Baik Allah, di antara para alim ulama. Keenam, doakanlah satu Bapa Kami sepuluh salam Maria, sementara engkau turut merasakan sukacita yang kualami, ketika menyaksikan kebangkitan mulia Putraku Terkasih dari kubur pada hari Minggu Paskah. Akhirnya, ulangilah doa itu untuk ketujuh kalinya, sementara engkau bersukacita bersamaku atas pengangkatanku sendiri ke Surga dalam semarak dan sukacita penuh, dan dimahkotai sebagai Ratu Surga dan Dunia. Jika engkau mendoakan ini sebagaimana telah kuperintahkan kepadamu, yakinlah anakku, kujamin, engkau akan merangkai sebuah mahkota yang indah dan berkenan kepadaku, dan hal itu pun akan mendatangkan rahmat berlimpah bagimu.”
Novis itu pun langsung berdoa corona dengan segenap hati dan penuh hormat seperti yang diperintahkan Sang Perawan kepadanya. Sementara ia berdoa dengan khusuknya, masuklah sang Magister dengan diam-diam, untuk melihat apa yang sedang terjadi, dan ia melihat seorang malaikat sedang merangkai sebuah karangan mawar, dan setelah setiap sepuluh mawar diselinginya dengan sekuntum bakung emas. Setelah selesai, lalu dikenakannya di atas kepala sang Novis.
Sang Magister lalu memerintahkan supaya sang Novis itu mengatakan semuanya kepadanya, apa yang sedang dilakukannya. Sang Novis itu pun mengatakan bahwa ia sedang berdoa Rosario sebagaimana telah diperintahkan Sang Perawan kepadanya. Dengan demikian sang Magister menjadi paham akan penglihatannya itu.
Selanjutnya, kebiasaan berdoa Rosario Corona ini tersebar luas di kalangan Ordo Saudara-saudara Dina, dan dari mereka tersebar luas ke mana-mana. Itulah Corono yang terdiri: 7 Bapa kami dan 72 salam Maria, untuk menghormati 72 tahun, yang dianggap sebagai usia hidup Bunda Maria di dunia, dan untuk menghormati 7 sukacita yang dialami oleh Maria, yang disebut-sebut oleh orang saleh dahulu. Devosi ini kemudian dipropagandakan dengan disertai banyak mukjizat.
Rupanya penambahan 2 Salam Maria pada akhir, sehingga menjadi 72, baru pada abad ke-17
3. Mukjizat-mukjizat
P. Wadding selanjutnya mengutip ada 16 peristiwa ajaib yang dikaitkan dengan Rosario Tujuh Sukacita Maria itu. Berikut ini dua di antaranya. Di Provinsi St. Fransiskus di Assisi, ada seorang fransiskan yang terkenal, Jacobus dari Corona, karena ia mendorong banyak orang, di mana-mana, tua muda, kalangan atas dan bawah untuk berdoa Rosario dari Tujuh Sukacita Santa Perawan Maria. Manakalah ada suatu kebutuhan istimewa, ia selalu mengalami pertolongan Tuhan dengan perantaraan Bunda Maria karena berdoa Rosario Corona ini.
Pada suatu ketika, kota Barga dan Spoleto dikepung oleh tentara Neapolis. Warga kota mau menghancurkan biara fransiskan dan gereja yang terletak di luar kota, supaya tidak dimanfaatkan oleh musuh demi keuntungan mereka. Sdr. Jacobus minta kepada para anggota senat yang berjaga agar menunggu sampai ia selesai berdoa Rosario Corona. Hasilnya, musuh pergi dan biara pun selamat.
P. Wadding juga mengutip kesaksian Sdr. Bernardus dari Feltre (1439-1495) yang diberikannya di bawah sumpah tentang seorang saudara dari Provinsi St. Antonius, yang melihat mukjizat di Gereja di Verona. Mengetahui bahwa ada seorang temannya suka bersembunyi di salah satu sudut Gereja untuk berdoa Rosairo Corono, ia mengamati bahwa teman itu dikelilingi oleh sekelompok malaekat yang bersama-sama meletakkan karangan bunga mawar dan bakung emas atasnya.
4. Refleksi
Bagi bapak kita Fransiskus, Bunda Maria adalah pelindung utama Ordo. Karena itu, Bunda Maria mau membuktikan kepada para suadara dina sepanjang masa bahwa, ia tetap eksis sebagai pelindung persaudaraan ini, dengan memberikan cara yang unik dan amat bermanfaat bagi keselamatan jiwa para saudara khususnya dan kaum beriman umumnya. Sebagai pengikut bapak Fransiskus, yang berpola hidup Kristus secara lebih dekat, sejauh mana kita memberi tempat kepada Bunda Maria, bunda Kristus dalam hidup dan karya kita, mempertahankan dan menghidupkan kebiasaan saleh dengan berdoa Rosario Corona atau rosario biasa?
Jika dibandingkan dengan rosario modern, alias digit-digit HP, berlogo santa Nokia atau santo Blackberry yang tekun kita gunakan, sambil berjaga sepanjang malam, menantikan pesan-pesan mesra atau menegangkan, yang sesungguhnya adalah akal-akalan hasil khayalan kita yang menimbulkan dalam hati, hasrat seperti api dalam sekam, ulat dalam kayu yang terus mengerat kekayaan rohani, dan merubah kebiasaan saleh menjadi kebiasaan salah. Apalagi jari-jari menggulir di atas keyboard santo Tosiba atau yang lainnya, merubah segala nalar dan daya interior diri yang telah tertata sejak terciptanya kita menjadi mentalitas internet, yang tak kita sadari mencampakkan kita sampai pada undernet, bahkan lebih dari itu, membuat kita terlempar sampai ke eksternet, bukti penghambaan diri manusia terhadap teknologi modern. Ada juga yang gemar “beradorasi” di depan tabernakel baru, alias TV, yang membuat kita terbelalak atau tertidur di depannya, tanpa sadar. Sehingga menjadi tidak jelas, siapa ada di depan TV atau TV ada di depan siapa?
Masih adakah rosario di dalam saku baju atau celana kita para pengikut Fransiskan? Kenyataan, HP tidak hanya harus ada di saku baju atau celana, tapi juga di dalam saku jubah cokelat pun tak pernah ketinggalan, malah yang pertama diingat dan disiapkan, sebelum Kitab Suci dan perlengkapan liturgi lainnya. Rosario yang sebenarnya, yang merupakan tradisi saleh, yang bekembang berabad-abad lamanya, telah dianggap hanya membuat lelaki jadi perempuan, karena dari dulu para pengguna rosario itu mereka yang tak terpelajar dan umumnya para perempuan, kata para teolog dan ekseget masa kini, yang gemar mengadopsi semua dari luar untuk dijadikan miliknya, malah memaksakan supaya orang lain juga mengikuti gaya hidupnya. Tapi kalau ditanya dasar dan asal-usulnya, bingung sendiri dan membingungkan orang lain. Tidak heran kalau banyak teolog masa kini tidak tahu doa rosario, bahkan salam Maria pun tidak tahu. Bukankah itu membingungkan umat?
Untuk itu, atas nama dewan Penginjilan dan Misi, dengan segala keterbatasan kami, kami akan coba menggunakan jasa majalah kita, Duta Damai, untuk membuat renungan atas Tujuh Sukacita Bunda Maria, sebagai usaha pencerahan akan tradisi saleh ini guna dibagikan kepada para saudara yang berminat. Kami akan membuatnya dalam bentuk refleksi pada setiap terbitan, satu peristiwa! Kami yakin bahwa Roh Kudus yang membuat Bunda Maria menerima dengan penuh pasrah pada kehendak Allah, akan juga membuat para saudara yang berkehendak baik untuk menghidupkan dalam diri atau menyebarkannya kepada sesama devosi ini, juga berkarya sama ajaibnya, membuat refleksi kami yang minim, kerdil dan kurang bermakna, menjadi suatu keajaiban dalam diri dan hidup saudara, sehingga melimpah, subur segar dan bermakna. Bunda Maria pasti juga berkenan pada persembahan kita. Semoga bermanfaat bagi kita semua!
Kamis, 13 Desember 2012
Doa-Doa Kepada Malaikat
Para malaikat adalah juga pelindung kita.
Katekismus Gereja Katolik mengajarkan, “Sejak masa anak-anak sampai
pada kematiannya malaikat-malaikat mengelilingi kehidupan manusia dengan
perlindungan dan doa permohonan” (No. 336). St. Basilius (wafat 379)
menegaskan, “Seorang malaikat mendampingi setiap orang beriman sebagai
pelindung dan gembala, supaya menghantarnya kepada kehidupan” (Adversus
Eunomium, III, 1). Sebagian besar dari kita, semenjak kecil telah
belajar mendaraskan doa sederhana kepada malaikat pelindung kita,
“Malaikat Allah, pelindungku tersayang, dengan perantaraan siapa kasih
Allah dinyatakan kepadaku. Sejak saat ini dampingilah aku, untuk
menerangi, melindungi, memimpin dan membimbingku.” Sebagian dari para
kudus dapat melihat malaikat, seperti St Petrus (Kis 12:1-19), atau
melihat malaikat pelindung mereka, seperti St. Padre Pio dan St.
Elizabeth dari Hungaria.
Di samping itu, sebagai umat Katolik,
kita ingat peran penting St Mikhael dalam membela kita melawan setan dan
kuasa-kuasa jahat. Di penghujung abad ke-19, Paus Leo XIII (wafat 1903)
mendapat penglihatan yang menubuatkan datangnya abad penderitaan dan
perang. Dalam penglihatan tersebut, Tuhan mengijinkan setan memilih
suatu abad di mana ia boleh melancarkan serangan-serangannya yang paling
dahsyat melawan Gereja. Iblis memilih abad ke-20. Bapa Suci begitu
tergerak hatinya oleh penglihatan ini hingga beliau menyusun suatu doa
kepada Malaikat Agung St Mikhael, “Malaikat Agung St. Mikhael, belalah
kami dalam peperangan. Jadilah pelindung kami dalam melawan segala
kejahatan dan jebakan setan. Kami mohon dengan rendah hati agar Allah
menaklukkannya, dan engkau, O panglima balatentara surgawi, dengan kuasa
Ilahi, usirlah ke neraka setan dan semua roh jahat yang berkeliaran di
seluruh dunia yang hendak menghancurkan jiwa-jiwa. Amin.” Selama
bertahun-tahun, doa ini didaraskan pada akhir Misa Kudus guna
menumbangkan komunisme. Segenap umat beriman sepatutnya kembali berseru
memohon pertolongan St Mikhael dalam memberantas kejahatan-kejahat
dahsyat yang merajalela dalam dunia – aborsi, eutanasia, terorisme,
pembantaian bangsa-bangsa tertentu, perkawinan sesama jenis, dan lain
sebagainya.
Sebagai warga Gereja, kita menyadari
peran serta para malaikat dalam kegiatan liturgi kita. Dalam Misa Kudus,
pada bagian Prefasi sebelum Doa Syukur Agung, kita menggabungkan diri
bersama segenap malaikat dan para kudus untuk melambungan madah pujian,
“Kudus, kudus, kudus….” Dalam Doa Syukur Agung I, imam berdoa, “Allah
yang Mahakuasa, utuslah malaikat-Mu yang kudus mengantar persembahan ini
ke altar-Mu yang luhur.” Dalam Aklamasi Akhir Liturgi Pemakaman, imam
berdoa, “Kiranya para malaikat menghantarmu ke dalam Firdaus; kiranya
para martir datang menyambutmu dan membawamu ke kota suci, Yerusalem
baru yang abadi.” Di samping itu, dalam penanggalan liturgi kita
merayakan Pesta Para Malaikat Agung pada tanggal 29 September dan Pesta
Para Malaikat Pelindung pada tanggal 2 Oktober.
Dalam doa-doa dan aktivitas harian kita,
sepatutnyalah kita ingat akan para utusan Allah ini yang oleh karena
kasih-Nya melindungi hidup kita dari malapetaka dan membimbing kita di
jalan keselamatan.
sumber : http://yesaya.indocell.net/id913.htm
Doa melawan kekuatan kegelapan
DOA-DOA PERMOHONAN PRIBADI
Dalam pergulatan melawan kekuatan kegelapan.
1). Ya Tuhan Allah, kasihanilah aku, hamba-Mu.Aku ini bagaikan wadah tak berguna
Karena banyaknya mereka yang menghadang aku.
Renggutlah dan bebaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku,
Dan bantulah aku, carilah aku yang hilang,
Baharuilah aku bagi-Mu bila sudah Kautemukan,
Janganlah tinggalkan daku bila sudah Kaupulihkan kembali,
Supaya dengan demikian aku selalu berkenan kepada-Mu,
Sebab aku mengetahui bahwa Engkau telah menebus aku dengan kuasa-Mu.
Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.
2). Allah yang Mahakuasa,
Engkau memberikan tempat kediaman
Bagi orang yang ditinggalkan sendirian.
Engkau menghantar orang yang terbelenggu ke dalam kesejahteraan.
Pandanglah aku yang bersengsara
Dan bangkitlah menolong aku.
Kalahkanlah musuh yang amat jahat itu.
Semoga aku menjadi bebas dan tenang dalam Dikau,
Bila lawan yang sekarang dekat padaku, sudah dikalahkan.
Dan bila aku telah pulih kembali, aku dapat berbakti kepada-Mu dengan tenang.
Aku akan memuji-muji Engkau yang begitu mengagumkan
Karena selalu menguatkan umat-Mu terkasih.
Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.
3). Allah, Pencipta dan Pembela umat manusia,
Engkau telah menciptakan manusia menurut citra-Mu
Dan menciptakannya kembali lebih indah lagi
Berkat rahmat pembaptisan.
Pandanglah aku, hamba-Mu
Kabulkanlah permohonan-permohonanku.
Aku mohon, semoga terbitlah dalam hatiku kemuliaan-Mu yang cemerlang,
Agar segala yang menakutkan, segala kecemasan dan kekawatiran dilenyapkan
Sehingga bersama dengan saudara-saudaraku
Aku dapat memuji Engkau di dalam Gereja-Mu.
Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.
4). Allah yang berbelaskasih dan mahabaik,
Engkau telah menghendaki
Putra-Mu menanggung derita di kayu salib bagi kami,
Untuk melenyapkan dari kami kekuasaan musuh.
Pandanglah dengan murah hati aku yang hina dan menderita ini.
Aku mohon, sudilah Engkau menangkis serangan si jahat
Dan melimpahkan rahmat berkat-Mu kepadaku,
Yang telah Engkau baharui dalam bejana pembaptisan.
Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.
5). Allah, Engkau menghendaki aku menjadi putra/i cahaya
Berkat rahmat yang mengangkat aku menjadi anak-Mu.
Aku mohon, sudilah memulihkan daku dengan kekuatan-Mu,
Agar aku tidak diliputi kegelapan setan,
Tetapi tetap dapat bercahaya cemerlang
Dalam kebebasan dan sukacita
Yang telah kuterima dari-pada-Mu.
Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.
6). Doa-Doa kepada Tritunggal Mahakudus:
Kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.
Hanya bagi Allah, hormat dan kemuliaan.
Terberkatilah Bapa dan Putra bersama dengan Roh Kudus;
Kami memuji dan memuliakan Dikau, Tritunggal mahakudus, selama-lamanya.
Kami berseru kepada-Mu, kami memuji dan menyembah Dikau,
Ya Tritunggal yang terberkati.
Engkaulah tumpuan harapan kami, keselamatan kami dan kehormatan kami.
Bebaskanlah aku, selamatkanlah aku, hidupkanlah aku kembali.
Ya Tritunggal yang terpuji.
Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah Mahakuasa,
Yang telah ada, kini ada dan akan datang.
Bagi-Mulah hormat dan kuasa, ya Tritunggal yang terpuji,
Bagi-Mulah kemuliaan dan kekuasaan selama-lamanya.
Kepada-Mu pujian dan kemuliaan, kepada-Mulah segala ucapan syukur
Sepanjang masa, ya Tritunggal yang terpuji.
Ya Allah kudus, kuat dan kudus, kuat dan abadi, kasihanilah aku.
7). Doa-Doa kepada Yesus Kristus, Tuhan kita:
a.
Yesus, Putra Allah yang hidup, kasihanilah kami.
Yesus, Citra Bapa,
Yesus, Kebijaksanaan kekal,
Yesus, kecemerlangan Cahaya abadi,
Yesus, Sabda Kehidupan,
Yesus, Putra prawan Maria,
Yesus, Allah dan manusia,
Yesus, Imam agung,
Yesus, Bentara Kerajaan Allah,
Yesus, Jalan, Kebenaran dan Hidup,
Yesus, Roti Kehidupan,
Yesus, Pokok Anggur sejati,
Yesus, saudara kaum miskin dan papa,
Yesus, sahabat orang-orang berdosa,
Yesus, tabib jiwa dan badan,
Yesus, Keselamatan bagi orang-orang yang tertindas,
Yesus, Penghiburan bagi orang-orang yang terlantar,
Engkau yang telah datang ke dunia kasihanilah kami.
Engkau yang telah membebaskan orang-orang terbelenggu dari setan,
Engkau yang telah bergantung di kayu salib,
Engkau yang telah wafat untuk kami,
Engkau yang telah dimakamkan,
Engkau yang telah turun ke alam maut,
Engkau yang telah bangkit dari kematian,
Engkau yang telah naik ke surga,
Engkau yang telah mengutus Roh Kudus kepada para rasul,
Engkau yang duduk di sisi kanan Bapa,
Engkau yang akan datang mengadili orang hidup dan mati,
b.
Karena penjelmaan-Mu, bebaskanlah kami, ya Tuhan.
Karena kelahiran-Mu,
Karena pembaptisan dan puasa-Mu yang suci,
Karena salib dan penderitaan-Mu,
Karena wafat dan pemakaman-Mu,
Karena kebangkitan-Mu yang suci,
Karena kenaikan-Mu yang mengagumkan,
Karena pencurahan Roh Kudus,
Karena kedatangan-Mu yang mulia,
c.
Ketika Salib disebut, setiap orang membuat tanda salib pada diri sendiri.
Selamatkanlah aku, ya Kristus Penyelamat, berkat daya kekuatan Salib +
Engkau yang telah menyelamatkan Petrus dari dalam air.
Dengan tanda Salib +
Bebaskanlah kami dari musuh-musuh kami, ya Allah kami.
Dengan Salib-Mu + ya Kristus Penyelamat, selamatkanlah kami,
Sebab Engkau telah membinasakan kematian kami berkat wafat-Mu
Dan telah memulihkan kehidupan kami berkat kebangkitan-Mu.
Kami menyembah Salib-Mu + ya Tuhan,
Kami mengenang lagi penderitaan-Mu yang mulia;
Engkau yang telah menderita bagi kami, kasihanilah kami,
Kami menyembah Engkau, ya Kristus dan memuji Dikau,
Sebab dengan Salib-Mu + Engkau telah menebus dunia.
8). Doa-Doa kepada Santa Perawan Maria:
Ke bawah perlindunganmu kami berlari,
Bunda Allah yang suci;
Janganlah menolak doa permohonan kami dalam kesesakan,
Namun bebaskanlah kami selalu
Dari segala mara bahaya,
Prawan yang mulia dan terberkati.
Penghibur dalam kesusahan, doakanlah kami.
Penolong orang Kristen, doakanlah kami.
Perkenankanlah aku memuji dikau, ya Perawan tersuci;
Berikanlah daku kekuatan untuk melawan musuh-musuhmu.
Ibuku, tumpuan harapanku.
Maria, perawan dan bunda Allah,
Doakanlah aku pada Yesus, Putramu.
Ya ratu dunia yang termulia,
Ya Maria, perawan abadi,
Mohonkanlah damai dan keselamatan bagi kami,
Sebab engkau telah melahirkan Kristus Tuhan,
Penyelamat bagi semua orang.
Maria, Bunda rahmat, Bunda belaskasihan,
Lindungilah kami dari musuh,
Terimalah kami pada saat kematian kami.
Bantulah aku, ya perawan Maria yang tersuci,
Dalam segala mara bahaya, kegelisahan dan kesesakanku.
Bebaskanlah aku dari segala kejahatan,
Serta dari bahaya bagi jiwa dan badan,
Berkat kekuatan dari Puteramu terkasih.
Tunjukkanlah ya prawan Maria yang tersuci,
Apa yang telah terdengar segala masa,
Engkau sebagai tempat berlindung bagi yang mencari,
Bantuan bagi yang berseru kepadamu,
Sokongan bagi orang terlantar yang meminta.
Terdorong oleh keyakinan hati,
Aku bergegas datang kepadamu, ya Bunda, perawan segala perawan;
Aku pendosa, berdiri di hadapanmu dengan menangis.
Janganlah mengabaikan kata-kataku, ya Bunda Sang Sabda,
Tetapi dengarkanlah dengan murah hati dan kabulkanlah permohonanku.
9). Doa-Doa kepada Santo Mikael, Malaikat Agung:
Santo Mikael, malaikat agung,
Belalah kami dalam pertempuran;
Melawan kejahatan dan lindungilah kami dari tipu muslihat setan.
Semoga Allah memberi perintah kepadanya, maka kami mohon:
Engkau, Pemimpin balatentara surga,
Enyahkanlah setan dan roh-roh jahat lainnya ke dalam neraka
Dengan kekuatan ilahi,
Sebab mereka mengembara di dunia ini
Untuk mencelakakan jiwa-jiwa. Amin.
10). Doa-Doa Litani :
Tuhan, kasihanilah kami.
Kristus, kasihanilah kami.
Tuhan, kasihanilah kami.
Santa Maria, Bunda Allah doakanlah kami / aku.
Santo Mikael,
Santo Gariel,
Santo Rafael,
Para malaikat pelindung yang suci,
Santo Yohanes Pembaptis,
Santo Yosef,
Santo Petrus,
Santo Paulus,
Santo Yohanes,
Semua rasul-rasul yang suci,
Santa Maria Magdalena,
Dapat ditambahkan para kudus lainnya.
Dari segala kejahatan, bebaskanlah kami / aku, ya Tuhan.
Dari segala dosa,
Dari tipu muslihat setan,
Dari kematian kekal,
Kristus, dengarkanlah kami / aku.
Kristus, kabulkanlah doa kami / ku.
Sumber: De Exorcismis et supplicationibus quibusdam, Vatican, 1999
Sumber: http://katolisitas.org/5947/doa-melawan-kekuatan-kegelapan
Langganan:
Postingan (Atom)