Kamera 1

Jumat, 18 Mei 2012

Kisah Cinta 100 Hari




Cerita ini mengisahkan tentang sepasang sahabat yang sebenernya saling sayang dan suatu ketika mereka membuat keputusan yang intinya sang pria menginginkan untuk pacaran selama 100 hari saja dan akhirnya mereka berdua pun menyepakatinya hingga saat itu juga mereka menginginkan hari itu juga adalah hari terindah yang bisa mereka lewati untuk pertama kalinya setelah mereka sepakat pacaran.
Akhirnya hari-hari mereka pun dilalui…

* Hari pertama:
mereka melewati dengan senyum dan kebahagiaan.
* Hari ke 2:
mereka mulai saling mengisi dalam segala kegiatan mereka.
* Hari Ke 5:
mereka mulai merasakan perhatian dan kasih sayang keduanya hingga makin memiliki.
* Hari ke 10:
mereka pergi ke pantai menikmati jingganya langit, berteman deburan ombak, mereka berdua berkasih mesra seakan dunia milik berdua..
* Hari ke 64:
hubungan merekapun semakin akrab dan mereka berdua pergi lagi ke pantai dengan penuh rasa sayang dan cinta yang akhirnya mereka duduk di pasir putih berteman debur ombak dan di bawah sinar senja mereka berciuman untuk pertama kalinya.
* Hari ke 88:
mereka berdua pergi naik gunung, mereka jalan bergandengan tangan dari kaki gunung hingga tempat peristirahatan yang berada di sekitar puncak gunung itu, malam pun menghampiri mereka, dengan cuaca yang cerah mereka berdua duduk diatas batu besar dengan hangat mereka berpelukan, tak sadar ada satu bintang jatuh, dan dalam hati sang gadis mempunyai suatu harapan, yach.. make a wish gitu dech..
* Hari ke 99:
Di salah satu taman kota mereka berdua duduk- duduk sambil cerita, sekitar jam dua siang dengan keadaan cuaca yang panas sekidit rasa dahaga mulai menghampiri, kemudian sang pria membelikan minum di toko tidak jauh dari taman mereka berdua tersebut.
Satu jam si gadis menunggu dengan penuh rasa cemas, hingga datanglah seseorang yang berkata,
Permisi, disana ada seorang pemabuk menabrak sosok remaja ganteng yang sedang menyebrang jalan di dekat toko swalayan.. dan saya tahu kalau tadi dia bersama anda duduk disini, ehmmm…. mungkin itu teman anda?, sahut seseorang itu. Dengan perasaan cemas dan khawatir si gadis itupun lari menuju tempat kejadian, dengan penuh air mata si gadis itu melihat sang kekasihnya terkapar penuh darah yang membanjiri seluruh tubuhnya, dengan kotak minuman yang masih tergenggam ditangan, sang pria itu terus mengucurkan darah segar dari belakang kepalanya hingga ambulan datang. Dengan ditemani si gadis, pria tersebut terkapar tak tersadarkan diri, tangis air mata gadis itupun terus mengalir bersama doa yang trus ia ucapkan.. Sudah hampir 5 jam si pria tampan itu belum sadarkan diri, sekitar pukul 23.30 hanya denyut jantung yang masih menandakan tanda- tanda kehidupan pada pria itu, si gadis terus berdoa dan berharap kakasihnya itu sadarkan diri. kemudian sekitar 23.45 dokter specialis yang dipercayakan untuk merawatnya memberikan kabar pada si gadis itu kalau tim rumah sakit sudah berusaha semaksimal mungkin tapi tetap belum sadarkan juga, dan dokter itupun memberikan sepucuk surat yang di temukan di kantong celana kekasihnya itu, dengan penuh rasa sesak didada dan air mata terus mengucur, surat itupun dibuka,
Isi surat itu tertulis:
Sayang hari-hari kita sudah hampir selesai, tidak kuat rasanya jika ku meninggalkanmu.. selama ini aku benar- benar sayang dan mencintai kamu, ingin rasanya ku memperpanjang waktu kita untuk bersama dan jujur aku ingin kita bisa selamanya seperti ini, menjadi sepasang kekasih yang tak terpisahkan.. Sayang, pada hari ke 99 ini aku menginginkan kita bisa selamanya menjadi pasangan kekasih, ternyata aku memang mencintaimu.
Sambil melipat surat itu, pukul 23.55, gadis berparas cantik dan manis itupun mendekati kekasihnya yang belum sadarkan diri. sembari memeluk dia berkata, Sayangku, kamu tau ngga sich, kalau sewaktu kita naik gunung (hari ke 88) dan kita berdua melihat bintang jatuh dimalam cerah dan indah itu aku sempat mempunyai sebuah harapan, dan harapan itu aku menginginkan kita bisa bersama selamanya.. jadi kamu bangun donk sayang, plise bangun.. aku ga mau kamu meninggalkan aku sendirian seperti ini.. Akupun sama ingin selalu bersamamu !! Pukul 00.00 tepat, bunyi keras mesin deteksi jantung terdengar mengantar nyawa pemuda itu sekaligus membuka kesunyian dan kesedihan di ruang itu, detak jantung sang pria berhenti sesaat setelah kekasihnya itu bicara beberapa kata di sampingnya.. Saat itu juga tepat ke 100 hari hubungan yang mereka jalin, dengan senyum bahagia sang pria itupun tentram meninggalkan janji yang sudah terbayar, bahwa hanya 100 hari menjalin komitmen itu meski ada keinginan untuk memperpanjang waktu itu jadi selamanya.
Berakhir dengan pelukan dan kucuran air mata sang gadis berusaha ikhlas menerima kenyataan yang terjadi di depan matanya?.., setelah apa yang terjadi, waktu memang sangat cepat dan sangat berharga buat kita semua.., memang ketika keinginan atau harapan muncul tapi sulit terucap disitulah kita harus perperang, mungkin kisah ini memberi pengalaman jika kamu mempunyai keinginan terhadap seseorang, segera mungkin kamu ucapkan, karena kita ga tau apakah besok kita masih bisa ketemu dengan orang itu lagi.
Dlm cinta, kita tidak mencari orang yg sempurna, tapi belajar untuk melihat orang yang tidak sempurna secara sempurna.

Kesaksian (Rm. Gani Sukarsono CM)


Anak gadis di depanku tampak kebingungan. Dia bercerita ingin menikah di gereja, tapi pacarnya bukan beragama Katolik. Kujelaskan bahwa itu bisa diselesaikan dengan nikah campur. Maka kujelaskan semua persyaratan nikah campur. Ketika kukatakan bahwa dalam pernikahan itu tidak harus suaminya menjadi Katolik, gadis ini protes. Dia mengatakan bahwa pacarnya suka membaca Injil dan mempelajari kekatolikan dengan serius, tapi dia tidak mau menjadi Katolik sebab melihat bahwa banyak orang Katolik tidak menjalankan ajaran Katolik. Mereka hanya dibaptis saja tanpa perubahan sikap hidupnya. Aku sarankan agar pacarnya masuk saja menjadi Katolik dan mengadakan perubahan dengan menunjukan pada orang Katolik bagaimana seharusnya hidup sebagai orang Katolik.

Setelah gadis itu pulang aku memikirkan hal ini. Aku teringat salah satu tokoh yang aku idolakan yaitu Mahatma Gandhi. Salah satu orang suci yang hidup pada abad ini. Keseluruhan hidupnya dibaktikan untuk membebaskan bangsanya dari penjajahan Inggris. Ajarannya penuh dengan kasih sayang. Gandhi mendasarkan ajarannya pada ajaran Yesus yang dipadukan dengan ajaran Hindhu. Ajaran Yesus yang sangat digemari bahkan menjadi dasar ajarannya ialah kotbah di bukit. Gandhi menganggumi Yesus dan seluruh ajaranNya, tapi Gandhi tidak mau menjadi Kristen sebab melihat orang Kristen, yang diwakili wajah bangsa Inggris dan Eropa lainnya, adalah orang yang kejam dan menindas. Orang yang melihat bahwa bangsa berkulit coklat adalah warga masyarakat kelas dua.


Dalam hidup beragama memang sering terjadi konflik antara beragama, yaitu memeluk agama atau masuk dalam agama tertentu dengan beriman yaitu menjalankan apa yang menjadi ajaran agamanya dengan penuh konsekwensi. Banyak orang memeluk agama terntentu tapi sikap hidupnya tidak mencerminkan ajaran agama yang dipeluknya. Atau dia hanya memilih ajaran yang mudah dijalankan, sedang yang sulit dilakukan ditinggalkan meski yang sulit itu adalah dasar-dasar agamanya. Ada beberapa alasan yang membuat orang beragama macam ini. Dia memeluk agama demi kewajiban di suatu masyarakat bahwa semua orang harus beragama. Banyak orang Indonesia yang takut disebut komunis (padahal orang komunis belum tentu atheis) maka dia memeluk salah satu agama yang telah ditentukan pemerintah. Ini juga suatu yang aneh, dimana pemerintah ikut menentukan agama. Ada orang memeluk agama karena tradisi, dimana orang tuanya sudah beragama itu, maka anaknya harus beragama itu. Agama bukan lagi suatu panggilan bebas manusia melainkan ditentukan oleh orang tua. Ada juga orang beragama karena semua masyarakat sudah beragama seperti itu. Agama sudah menjadi suatu budaya dalam suatu masyarakat. Ada juga orang yang beragama karena ikut-ikutan teman atau saudaranya.


Akibat hidup beragama macam inilah maka munculah konflik antara beragama dan beriman. Beragama sebetulnya bukan hanya sekedar percaya akan adanya Tuhan, melainkan keberanian untuk mengikuti dan melaksanakan ajaran Tuhannya dengan sungguh-sungguh. Yakobus dalam suratnya dengan tegas membedakan orang beragama dengan beriman. “Kamu percaya bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.” (Yak 2:18). Disini Yakobus berbicara dalam konteks iman dan perbuatan. Iman harus terwujud dalam perbuatan. Suatu hari murid-murid Yohanes datang pada Yesus dan bertanya apakah Dia adalah yang ditunggu atau mereka harus menunggu yang lain lagi? Yesus tidak menjawab ya dan tidak, melainkan Dia bersabda “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan lihat.” (Mat 11:4). Lalu Yesus menunjukan apa saja yang sudah dibuatNya.


Beriman tidak cukup hanya dengan mengakui Tuhan sebagai Bapa atau dibaptis atau bahkan misa seminggu sekali. Beriman lebih luas dari itu. Tercermin dalam sikap hidup sehari-hari. Ukuran iman seseorang tampak dalam bagaimana seseorang itu menjalani hidupnya. Dalam tingkah laku dan keputusan-keputusan dalam hidupnya. Akan arah jalan yang dipilihnya. “Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku.” (Yoh 5:36). Orang bisa melihat bahwa Yesus adalah utusan Bapa dari pekerjaan yang telah dilakukanNya. Sikap hidup Yesus adalah kesaksian nyata bahwa Dia utusan Bapa. Tapi rupanya orang Yahudi terlalu sibuk menyelidiki Kitab Suci sehingga tidak percaya, maka dikecam tidak akan memperoleh hidup yang kekal.


Beriman tidak lepas dari tingkah laku dan sikap hidup seseorang. Bagaimana cara hidup seseorang merupakan kesaksian akan iman. Kesaksian akan siapakah yang mengutusnya. Kesaksian sejauh mana dia hidup dalam iman. Namun hal ini sering kuran diperhatikan. Seandainya Gandhi melihat dan berteman dengan Ibu Teresa, mungkin dia akan berpikir lain lagi mengenai kekristenan. Sayang dua tokoh besar yang hidup dalam satu negara itu hidup dalam waktu yang berbeda meski hanya selisih beberapa tahun saja.


Meski sudah banyak pelajaran mengenai keterkaitan antara iman dan perbuatan, namun sayang masih banyak orang yang sudah merasa memiliki surga hanya dengan membaca Kitab Suci, bahkan hafal diluar kepala isi Kitab Suci. Dia bisa dengan mudah mengutip ayat-ayat suci, namun lupa untuk mengaktualisasikannya. Dia tetap hidup seperti sebelum beriman bukan memberi kesaksian tentang imannya. Hidup berdasarkan ajaran Kitab Suci. Kalau toh dia mengambil ayat sebagai pegangan hidup, maka dipilih ayat-ayat yang membuatnya senang atau menguntungkan. Tetap ayat yang dianggap berat dilupakan. Orang lebih suka ayat Mat 7:7-11 daripada Mat 19:21. orang lebih suka ayat Mat 19:29 daripada Yoh 13:34-35. Masih banyak lagi daftar ayat favorit namun juga ayat yang perlu dihapus dari Kitab Suci sebab terlalu berat.


Seandainya Gereja konsisten dan konsekwen melaksanakan ajaran Yesus dapat dipastikan bahwa Gereja akan berkembang. Banyak orang akan percaya bahwa Yesuslah penyelamat dengan melihat sikap hidup para anggota Gereja, orang yang secara eksplisit menyatakan diri bergabung dengan komunitas yang dibangun Yesus.

Senin, 14 Mei 2012

Bukti Tuhan itu ada


Beriman bahwa Tuhan itu ada adalah iman yang paling utama. Jika seseorang sudah tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, maka sesungguhnya orang itu dalam kesesatan yang nyata.
Benarkah Tuhan itu ada? Kita tidak pernah melihat Tuhan. Kita juga tidak pernah bercakap-cakap dengan Tuhan. Karena itu, tidak heran jika orang-orang atheist menganggap Tuhan itu tidak ada. Cuma khayalan orang belaka.
Ada kisah zaman dulu tentang orang atheist yang tidak percaya dengan Tuhan. Dia mengajak berdebat seorang bijaksana mengenai ada atau tidak adanya Tuhan. Di antara pertanyaannya adalah: “Benarkah Tuhan itu ada” dan “Jika ada, di manakah Tuhan itu?”
Ketika orang atheist itu menunggu bersama para penduduk di kampung tersebut, orang bijaksana itu belum juga datang. Ketika orang atheist dan para penduduk berpikir bahwa orang bijaksana itu tidak akan datang, barulah muncul orang bijaksana tersebut.
“Maaf jika kalian menunggu lama. Karena hujan turun deras, maka sungai menjadi banjir, sehingga jembatannya hanyut dan saya tak bisa menyeberang. Puji Tuhan tiba-tiba ada sebatang pohon yang tumbang. Kemudian, pohon tersebut terpotong-potong ranting dan dahannya dengan sendirinya, sehingga jadi satu batang yang lurus, hingga akhirnya menjadi perahu. Setelah itu, baru saya bisa menyeberangi sungai dengan perahu tersebut.” Begitu orang bijaksana itu berkata.
Si Atheist dan juga para penduduk kampung tertawa terbahak-bahak. Dia berkata kepada orang banyak, “Orang bijaksana ini sudah gila rupanya. Masak pohon bisa jadi perahu dengan sendirinya. Mana bisa perahu jadi dengan sendirinya tanpa ada yang membuatnya!” Orang banyak pun tertawa riuh.
Setelah tawa agak reda, orang bijaksana pun berkata, “Jika kalian percaya bahwa perahu tak mungkin ada tanpa ada pembuatnya, kenapa kalian percaya bahwa bumi, langit, dan seisinya bisa ada tanpa penciptanya? Mana yang lebih sulit, membuat perahu, atau menciptakan bumi, langit, dan seisinya ini?”
Mendengar perkataan orang bijaksana tersebut, akhirnya mereka sadar bahwa mereka telah terjebak oleh pernyataan mereka sendiri.
“Kalau begitu, jawab pertanyaanku yang kedua,” kata si Atheist. “Jika Tuhan itu ada, mengapa dia tidak kelihatan. Di mana Tuhan itu berada?” Orang atheist itu berpendapat, karena dia tidak pernah melihat Tuhan, maka Tuhan itu tidak ada.
Orang bijaksana itu kemudian menampar pipi si atheist dengan keras, sehingga si atheist merasa kesakitan.
“Kenapa anda memukul saya? Sakit sekali.” Begitu si Atheist mengaduh.
Si bijaksana bertanya, “Ah mana ada sakit. Saya tidak melihat sakit. Di mana sakitnya?”
“Ini sakitnya di sini,” si Atheist menunjuk-nunjuk pipinya.
“Tidak, saya tidak melihat sakit. Apakah para hadirin melihat sakitnya?” Si bijaksana bertanya ke orang banyak.
Orang banyak berkata, “Tidak!”
“Nah, meski kita tidak bisa melihat sakit, bukan berarti sakit itu tidak ada. Begitu juga Tuhan. Karena kita tidak bisa melihat Tuhan, bukan berarti Tuhan itu tidak ada. Tuhan ada. Meski kita tidak bisa melihatNya, tapi kita bisa merasakan ciptaannya.” Demikian si Bijaksana berkata.
Sederhana memang pembuktian orang alim tersebut. Tapi pernyataan bahwa Tuhan itu tidak ada hanya karena panca indera manusia tidak bisa mengetahui keberadaan Tuhan adalah pernyataan yang keliru.
Berapa banyak benda yang tidak bisa dilihat atau didengar manusia, tapi pada kenyataannya benda itu ada?
Betapa banyak benda langit yang jaraknya milyaran, bahkan mungkin trilyunan cahaya yang tidak pernah dilihat manusia, tapi benda itu sebenarnya ada?

Di kisah, waktu dan tempat yang berbeda seorang anak kecil berjumpa dengan seorang Profesor jenius dari Universitas terkemuka. Sang Profesor bertanya kepada anak tersebut yang ternyata bernama Albert Einstein. Apakah ada Tuhan? Kanak-kanak Albert Einstein lalu menjawab “Ada’. Lalu Profesor kembali bertanya Coba Tunjukan Tuhan itu ada. Saya tidak mempercayai Tuhan itu ada karena tidak tampak. Einstein lalu menjawab, sebelum saya menjawab, tolong jawab pertanyaan saya dulu. Apakah Profesor bisa melihat otak Profesor sendiri. Profesor dengan terheran-heran ????. Mana bias saya melihat otak saya sendiri, otakmu saja saya tidak bias lihat,. Kalau begitu Profesor tidak punya otak donk, jawab Einstein dengan lugunya.

Apakah Tuhan Itu Ada?




Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada?
Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?
Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang
mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakansemuanya".

"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi.
"Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut. Profesor itu menjawab,
"Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan.


Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita

menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah
kejahatan."
Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut.

Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia

telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata,

"Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?"
"Tentu saja," jawab si Profesor
Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada.
Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa
lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada.

Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas.
Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali.
Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu
tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan
panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"

Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."
Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak.
Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya.
Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak.
Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa
warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna.
Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap.
Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya
diruangan tersebut.
Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah
kukatakan sebelumnya.
Kita melihat setiap hari, Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara
manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah,

Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan kebaikan.
Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk
mendeskripsikan ketiadaan kebaikan.
Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya
kebaikan dihati manusia.
Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari
ketiadaan cahaya."

Profesor itu terdiam.



(Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein)