Kamera 1

Rabu, 11 September 2013

MEMAHAMI ALLAH TRITUNGGAL


Allah Tritunggal atau Trinitas merupakan doktrin yang sukar dan membingungkan kita. Kadang-kdang orang Kristen dituduh mengajarkan pemikiran yang tidak masuk akal (logika), yaitu 1+1+1=1. ini merupakan pernyataan yang salah. Mengapa tidak memakai formula 1x1x1=1 atau 1:1:1=1? Istilah Trinitas bukan menjelaskan relasi dari Tiga Allah (ini yang sering dikatakan oleh sekte Unitarian kepada Orang Kristen). Tritunggal bukan berarti triteisme, yaitu di mana ada tiga keberadaan yang tiga-tiganya adalah Allah. Kata Trinitas dipergunakan sebagai usaha untuk menjelaskan kepenuhan dari Allah, baik dalam hal keesaan-Nya maupun dalam hal keragaman-Nya.
Formulasi Trinitas yang telah dikemukakan dalam sejarah adalahAllah itu satu esensi dan tiga Pribadi. Formula ini memang merupakan suatu hal yang misteri dan paradoks tetapi tidak kontradiksi. Keesaan dari Allah dinyatakan sebagai esensi-Nya atau keberadaan-Nya, sedangkan keragaman-Nya diekspresikan dalam Tiga Pribadi. Istilah Trinitas sendiri tidak terdapat dalam Alkitab, namun konsepnya dengan jelas diajarkan oleh Alkitab. Di satu sisi, Alkitab dengan tegas menyatakan keesaan Allah (Ulangan 6:4) dan (ihat juga 1Kor 8:4,6; 1Tim 2:5-6, Yak2:19) Di sisi lain, Alkitab dengan tegas menyatakan keilahian tiga pribadi dari Allah: Bapa, Anak dan Roh Kudus. Gereja telah menolak ajaran-ajaran bidat modalisme dan triteisme. Modalisme adalah ajaran yang menyangkali perbedaan Pribadi-Pribadi yang ada di dalam keesaan Allah, dan menyatakan bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus hanyalah merupakan tiga cara Allah di dalam mengkspresikan diri-Nya. Di pihak lain, Triteisme mengungkapkan pernyataan yang salah, yaitu ada tiga keberadaan yang menjadi Allah.
Istilah Pribadi sama sekali tidak berarti adanya perbedaan di dalam esensi, tetapi perbedaan di dalam subtansi dari Allah. Substansi-substansi pada diri Allah memiliki perbedaan yang nyata satu dengan yang lain tetapi tidak berbeda secara esensi, dalam arti suatu keberadaan yang berbeda satu dengan yang lain.setiap Pribadi berada ”di bawah” esensi Allah yang murni. Perbedaan substansi ini berada dalam wilayah keberadaan, bukan suatu merupakan suatu keberadaan atau esensi yang terpisah. Semua pribadi pada diri Allah memiliki atribut ilahi.
Setiap Pribadi di dalam Trinitas memiliki peran yang berbeda. Karya keselamatan dalam pengertian tertentu merupakan pekerjaan dari ketiga Pribadi Allah Tritunggal. Namun, di dalam pelaksanaannya ada peran yang berbeda yang dikerjakan oleh Bapa, Anak dan Roh Kudus. Bapa memprakarsai penciptaan dan penebusan; Anak menebus ciptaan; dan Roh Kudus melahirbarukan dan menguduskan, dalam rangka mengaplikasikan penebusan kepada orang-orang percaya.
Keilahian Bapa:
  • Mat 6:26 bdk Mat 30,32, Yoh.1:18, 6:46, Ro 1:7

Keilahian Yesus Kristus:
  • Pengakuan Tomas: Yoh 20:28.
  • Kesaksian Paulus: Flp 2:5-11.
  • Ibr 1:2,8.
  • malaikat Allah adalah malaikat-Nya: Luk.12:8-9; 15:10, Mat13:41.
  • kerajaan Allah dan orang-orang pilihan Allah adalah milik-Nya: Mat 12:28, 19:14, 24, 21:31,43, Mrk13:20.
  • mengampuni dosa: Mrk 2:8-10.
  • wewenang untuk menghakimi dunia: Mat.25:31.
  • berkuasa atas dunia: Mat 24:30, Mrk 14:62.

Keilahian Roh Kudus:
  • berdusta kepada Roh Kudus = berdusta kepada Allah ( bdk. 1 Kor.6:19-20).
  • Roh Kudus digambarkan sebagai memiliki sifat dan melakukan pekerjaan Allah (Yoh.16:8-11, 3:18).
  • Roh Kudus dinyatakan sederajat dengan Allah(Mat 28:19; 2Kor 13:14, 1Pet 1:2).
Doktrin Tritunggal tidak menunjukkan bagian-bagian atau peran-peran dari Allah. Analogi manusia yang menjelaskan seseorang yang adalah seorang ayah, seorang anak, dan seorang suami tidak dapat mewakili misteri dari natur Allah.
Doktrin Tritunggal tidak secara lengkap menjelaskan tentang karakter Allah yang bersifat misteri. Sebaliknya, doktrin ini memberikan perbatasan yang tidak boleh kita langkahi. Doktrin ini menjelaskan batas pemikiran kita yang terbatas. Doktrin Tritunggal menuntut kita untuk setia pada wahyu ilahi yang menyatakan bahwa dalam satu pengertian Allah adalah esa dan dalam pengertian lain Dia dalah tiga.
  • Doktrin Tritunggal meneguhkan kesatuan Allah di dalam tiga pribadi
  • Doktrin Tritunggal bukan merupakan suatu kontradiksi; Allah memiliki satu esensi dan tiga pribadi.
  • Alkitab meneguhkan baik keesaan Allah dan keilahian dari Bapa, Anak dan Roh Kudus.
  • Ketiga pribadi di dalam Tritunggal dibedakan melalui karya yang dilakukan oleh Bapa, Anak dan Roh Kudus.
  • Doktrin Tritunggal memberikan batasan kepada spekulasi manusia tentang natur Allah.


Minggu, 07 Juli 2013

Doa-doa Dasar dalam Bahasa Latin

Doa-doa Dasar dalam Bahasa Latin

Bahasa Latin telah lama menjadi bahasa resmi Gereja Katolik. Berbagai dokumen resmi Gereja ditulis dalam bahasa Latin lalu diterjemahkan ke bahasa lainnya. Bahasa Latin berfungsi sebagai ikatan untuk ibadah/ penyembahan Katolik, menyatukan orang-orang dari setiap bangsa dalam perayaan Liturgi Suci, yang memungkinkan mereka untuk menyanyi dan merespon dalam ibadah umum.[1]
Pada zaman kuno, Latin adalah bahasa umum hukum dan bisnis, seperti bahasa Inggris yang digunakan masa kini. Pada abad ke-5, karena Kekaisaran Romawi runtuh, Gereja muncul sebagai kekuatan budaya penyeimbang, mempertahankan penggunaan bahasa Latin sebagai sarana untuk persatuan. Bahasa Latin, sebagai bahasa mati di masa kini, bukanlah milik suatu negara. Karena Gereja adalah untuk “semua bangsa, suku dan bangsa,” (Wahyu 11:09) maka sangatlah tepat bahwa Gereja menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa resminya. [2]

Signum Crucis / Tanda Salib
In nómine Pátris et Fílii et
Spíritus Sáncti. Amen.
(Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin)

Gloria / Kemuliaan
Gloria Patri, et Fílio, et Spirítui Sáncto. Sícut érat in princípio
et nunc et sémper et in sáecula sæculórum. Amen.
(Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan sepanjang segala abad)

Páter nóster / Bapa Kami
Páter nóster, qui es in cáelis, sanctificétur
nómen túum. Advéniat régnum túum. Fíat volúntas túa, sícut in cáelo et in térra.
Pánem nóstrum quotidiánum da nóbis hódie, et dimítte nóbis débita nóstra, sícut
et nos dimíttimus debitóribus nóstris. Et ne nos indúcas in tentatiónem: sed líbera nos a málo. Amen.
(Bapa Kami, yang ada di surga,
dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu,
Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga
Berilah kami rejeki pada hari ini,
dan ampunilah kesalahan kami
seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami
Dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan
Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.)

Ave Maria / Salam Maria
Áve María, grátia pléna, Dóminus técum (Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu). benedícta tu in muliéribus, et benedíctus frúctus véntris túi, Iésus (Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus). Sáncta María, Máter Déi, (Santa Maria Bunda Allah), óra pro nóbis
peccatóribus, nunc et in hóra mórtis nóstræ. Amen. (Doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin).


Salve Regina / Salam, ya Ratu
Sálve Regína, máter misericórdiæ:
víta, dulcédo, et spes nóstra, sálve. Ad te clamámus, éxsules fílii Hévæ. Ad te
suspirámus, geméntes et fléntes in hac lacrimárum válle. éja érgo, Advocáta
nóstra, íllos túos misericórdes óculos ad nos convérte. Et Jésum, benedíctum
frúctum véntris túi, nóbis post hoc exsílium osténde. O clémens, O pía, O
dúlcis Vírgo María.

Óra pro nóbis sáncta Déi Génitrix
ut dígni efficiámur promissiónibus Chrísti.
(Salam, ya Ratu, Bunda yang rahim.
Kehidupan, penghibur dan pengharapan kami, salam.
Kami orang buangan, anak Hawa, berseru kepadaMu.
KepadaMu kamu mohon dengan keluh kesah di lembah kedukaan ini.
Maka tunjukkanlah kepada kami, hai Pembicara kami, wajahMu yang manis.
Dan sesudah pembuangan ini, tunjukkanlah kepada kami, Yesus Buah TubuhMu yang terpuji.
Ya Maria, Perawan yang murah hati.
Penuh kasih sayang dan manis. 
Doakanlah kami Santa Bunda Allah
supaya kami layak menikmati janji-janji Kristus)

Confiteor / Saya Mengaku
Confiteor Deo omnipotenti, beatae Mariae semper Virgini, beato Michaeli Archangelo, beato Joanni Baptistae, sanctis Apostolis Petro et Paulo, omnibus Sanctis, et vobis fratres, quia peccavi nimis cogitatione verbo, et opere: (Saya mengaku kepada Allah yang mahakuasa, kepada St. Maria tetap perawan, kepada malaikat agung St. Mikael, kepada St. Yohanes Pembabtis, kepada Rasul Petrus dan Paulus, kepada semua orang kudus dan kepada saudara sekalian, bahwa saya sangat berdosa dengan pikiran, perkataan dan perbuatan:) mea culpa, mea culpa, mea maxima culpa (saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa). Ideo precor beatam Mariam semper Virginem, beatum Michaelem Archangelum, beatum Joannem Baptistam, sanctos Apostolos Petrum et Paulum, omnes Sanctos, et vos fratres, orare pro me ad Dominum Deum nostrum (Oleh sebab itu saya mohon kepada St. Maria tetap Perawan, kepada malaikat-agung St. Mikael, kepada Rasul Petrus dan Paulus, kepada semua orang kudus, dan kepada saudara sekalian, supaya mendoakan saya pada Allah, Tuhan kita)


Credo / Syahadat Panjang (Credo Nicean-Konstantinopel)
Credo in unum Deum, Patrem omnipotentem,
factorem caeli et terrae, visibilium omnium et invisibilium.
Et in unum Dominum Jesum Christum,
Filium Dei unigenitum. Et ex Patre natum ante omnia
saecula. Deum de Deo, lumen de lumine,
Deum verum de Deo vero. Genitum, non factum,
consubstantialem Patri: per quem omnia facta sunt.
Qui propter nos homines, et propter nostram salutem
descendit de caelis.

ET INCARNATUS EST DE SPIRITU SANCTO
EX MARIA VIRGINE: ET HOMO FACTUS EST. (dalam Misa, Umat harus menunduk. Spesial untuk Misa Natal, Umat berlutut.)

Crucifixus etiam pro nobis; sub Pontio Pilato passus,
et sepultus est. Et resurrexit tertia die, secundum
Scripturas. Et ascendit in caelum: sedet ad desteram
Patris. Et iterum venturus est cum gloria judicare vivos et mortuos:
cujus regni non erit finis.
Et in Spiritum Sanctum, Dominum et vivificantem:
qui ex Patre Filioque procedit. Qui cum Patre, et Filio

simul adoratur et conglorificatur: qui locutus est per
Prophetas. Et unam, sanctam, catholicam et apostolicam
Ecclesiam. Confiteor unum baptisma in remissionem
peccatorum. Et exspecto resurrectionem mortuorum.
Et vitam ventura saeculi. Amen.
(Aku percaya akan satu Allah,
Bapa yang mahakuasa,
pencipta langit dan bumi,
dan segala sesuatu yang kelihatan
dan tak kelihatan;
dan akan satu Tuhan Yesus Kristus,
Putra Allah yang tunggal.
Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad,
Allah dari Allah,
Terang dari Terang,
Allah benar dari Allah benar.
Ia dilahirkan, bukan dijadikan,
sehakikat dengan Bapa;
segala sesuatu dijadikan oleh-Nya.
Ia turun dari surga untuk kita manusia
dan untuk keselamatan kita.
Ia dikandung dari Roh Kudus,
Dilahirkan oleh Perawan Maria, dan menjadi manusia.
Ia pun disalibkan untuk kita, waktu Pontius Pilatus;
Ia menderita sampai wafat dan dimakamkan.
Pada hari ketiga Ia bangkit menurut Kitab Suci.
Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa.
Ia akan kembali dengan mulia,
mengadili orang yang hidup dan yang mati;
kerajaan-Nya takkan berakhir.
aku percaya akan Roh Kudus,
Ia Tuhan yang menghidupkan;
Ia berasal dari Bapa dan Putra,
yang serta Bapa dan Putra,
disembah dan dimuliakan;
Ia bersabda dengan perantaraan para nabi.
aku percaya akan Gereja
yang satu, kudus, katolik dan apostolik.
aku mengakui satu pembaptisan
akan penghapusan dosa.
aku menantikan kebangkitan orang mati
dan hidup di akhirat.
amin.)


Syahadat Para Rasul / Syahadat Pendek
Crédo in Déum, Pátrem omnipoténtem, Creatórem
cáeli et térræ. Et in Jésum Chrístum, Fílium éjus unícum, Dóminum nóstrum: qui concéptus est de Spíritu Sáncto, nátus ex María Vírgine (berlutut)(dalam Misa, Umat harus menunduk. Spesial untuk Misa Natal, Umat berlutut.), pássus sub Póntio Piláto, crucifíxus, mórtuus,
et sepúltus: descéndit ad ínferos: tértia díe resurréxit a mórtuis: ascéndit ad
cáelos: sédet ad déxteram Déi Pátris omnipoténtis: índe ventúrus est judicáre vívos et mórtuos.
Crédo in Spíritum Sánctum, sánctam Ecclésiam
cathólicam, Sanctórum communiónem, remissiónem peccatórum, cárnis resurrectiónem,
vítam ætérnam. Amen.

(Aku percaya akan Allah,
Bapa yang Mahakuasa,
pencipta langit dan Bumi
Dan akan Yesus Kristus,
PutraNya yang tunggal, Tuhan kita
Yang dikandung dari Roh Kudus,
dilahirkan oleh perwan Maria.

Yang menderita sengsara
dalam pemerintahan Ponsius Pilatus,
disalibkan wafat dan dimakamkan,
Yang turun ketempat penantian,
pada hari ketiga bangkit
dari antara orang mati
Yang naik kesurga,
duduk disebelah kanan
Allah bapa yang Mahakuasa.
Dari situ ia kan datang
mengadili orang hidup dan mati.
Aku percaya akan Roh Kudus,
Gereja katolik yang Kudus,
persekutuan para kudus
Pengampunan Dosa,
Kebangkitan badan,
Kehidupan kekal.
Amin.)


Sanctus / Kudus
Sanctus, Sanctus, Sanctus, Dominus Deus Sabaoth.
Pleni sunt caeli et terra gloria tua. Hosanna in excelsis.
Benedictus qui venit in nomine Domini.
Hosanna in excelsis.
(Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah segala kuasa. Surga dan bumi penuh kemuliaan-Mu. Terpujilah Engkau di surga. Diberkatilah yang datang dalam nama Tuhan. Terpujilah Engkau di surga.)

Agnus Dei / Anak Domba Allah
Agnus Dei, qui tollis peccata mundi, misere nobis (Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia, kasihanilah kami).
Agnus Dei, qui tollis peccata mundi, misere nobis (Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia, kasihanilah kami).
Agnus Dei, qui tollis peccata mundi, dona nobis pacem (Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia, berilah kami damai).

Oratio Fatimae / Doa Fatima
Domine Iesu, dimitte nobis debita nostra, salva nos ab igne inferiori, perduc in
caelum omnes animas, praesertim eas, quae misericordiae tuae maxime indigent.
(Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa-dosa kami. Selamatkanlah kami dari api neraka, dan hantarlah jiwa-jiwa ke surga, terlebih jiwa-jiwa yang sangat membutuhkan kerahiman-Mu. Amin.)
 

Sabtu, 06 Juli 2013

Menginjili Saksi Yehowah

Menginjili Saksi Yehowah


Saksi Yehowah didirikan oleh Charles Taze Russell, mantan pedagang pakaian laki-laki dari Philadelphia, pada tahun 1872 di Alleghany, Pennsylvania. Russell dilahirkan pada tanggal 16 Februari 1852 di Pittsburgh dan wafat pada tanggal 31 Oktober 1916. Ia dibaptis sebagai seorang Kongregasionalis dan dibesarkan dalam sebuah keluarga Protestan yang keras. Studinya lebih lanjut atas Alkitab menghantarnya untuk menyangkal adanya neraka, doktrin Trinitas, dan menyatakan pandangan-pandangan Arian mengenai kodrat Yesus Kristus, dengan menyangkal keallahan-Nya.
Pada tahun 1879, Russell mendirikan jurnal “The Watchtower” dan pada tahun 1884 membentuk Watchtower Bible and Tract Society. Ia menjelajah Amerika Serikat dan Eropa dalam misi khotbah dan menggorganisir para pengikutnya yang disebut Russellites, Millennial Dawnists, International Bible Students dan akhirnya Jehovah's Witnesses (= Saksi Yehowah). Sepanjang karya misionarisnya, ia menghadapi beberapa skandal termasuk berpisah dengan isterinya setelah 18 tahun masa perkawinan, dan dakwaan penipuan dengan menjual “gandum ajaib” dengan harga yang amat tinggi.
Sesudah kematian Russell pada tahun 1916, Hakim Joseph Franklin Rutherford, seorang pengacara Missouri yang membela Russell dalam beberapa kasus hukum, menggantikannya sebagai pemimpin kelompok. Rutherford secara resmi menjadikan kelompok tersebut sebagai badan hukum pada tahun 1931 sebagai Saksi Yehowah dengan nama hukum “The Watchtower Bible and Tract Society” (= Lembaga Alkitab dan Risalat Menara Pengawal). Rutherford mengembangkan gagasan-gagasan Russell ke dalam suatu sistem doktrin resmi. Ia juga mengubah struktur jemaat sekte sebagaimana di bawah pimpinan Russell menjadi suatu teokrasi yang keras. Rutherford meletakkan dasar sekte sebagaimana kita mengenalnya sekarang.
Menurut Saksi Yehowah, ada satu Tuhan, dan sejak tahun 1931, mereka mendesak Ia disebut “Yehowah”. Ini merupakan versi lain pengucapan kata Ibrani “Yahweh”, yang muncul sekitar abad ketiga SM dan yang dibawa masuk sebagai terjemahan kata “Yahweh” dalam Alkitab versi King James dalam Keluaran 6:3. Saksi Yehowah mengatakan bahwa Yesus adalah Putra Allah, tetapi berada di bawah Allah. Mereka mengutuk Trinitas sebagai pemujaan berhala dan karenanya menyangkal keallahan Kristus. Russell bahkan mengklaim bahwa Trinitas adalah gagasan setan. Namun demikian, ironisnya, ketika membaptis, mereka mempergunakan rumusan, “… Dalam nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus.”
Meski demikian, Saksi Yehowah menganggap Yesus sebagai Saksi Utama dari semuanya, tidak berada di bawah siapapun selain Yehowah Sendiri. Sebelum keberadaan-Nya sebagai manusia, Yesus adalah suatu makhluk rohani yang disebut Logos, atau Sabda, atau bahkan Malaikat Agung Mikhael. Yesus wafat sebagai manusia dan dibangkitkan sebagai Roh-Putra yang abadi. Sengsara dan wafat-Nya adalah harga yang Ia bayar demi mendapatkan kembali bagi umat manusia hak untuk hidup abadi di dunia. Sungguh, himpunan besar Saksi-saksi sejati berharap akan Firdaus duniawi (Ajaran ini menggemakan bidaah yang dikutuk Gereja awali di awal Konsili Nicea pada tahun 325).
Mereka percaya bahwa Alkitab merupakan satu-satunya sumber kepercayaan dan kaidah perilaku. Tetapi, dukungan Alkitab mereka tampaknya lebih kuat. Mereka hanya diijinkan untuk mempergunakan Alkitab terjemahan mereka sendiri dan publikasi-publikasi resmi mereka sendiri. Sayang, banyak salah terjemahan yang disengaja dalam versi mereka demi mendukung ajaran mereka. Sebagai contoh, dalam Perjanjian Baru, “Tuhan” diterjemahkan sebagai “Yehowah” terkecuali di mana kata itu menunjuk langsung pada Kristus. Dalam kisah Perjamuan Malam Terakhir, mereka menterjemahkan, “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku” menjadi “Ambillah, makanlah, ini berarti tubuh-Ku.” Guna menegaskan bahwa Yesus adalah ciptaan, mereka menambahkan kata “lainnya” pada Kolose 1:16, “Karena di dalam Dia-lah telah diciptakan segala sesuatu…” menjadi “Karena di dalam Dia-lah telah diciptakan segala sesuatu lainnya… segala sesuatu lainnya diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu lainnya dan segala sesuatu lainnya ada di dalam Dia.”
Saksi Yehowah juga menyangkal keabadian jiwa, adanya neraka, dan ketujuh sakramen. (Meski mereka mempunyai ritual pembaptisan, mereka menganggapnya sekedar sebagai simbol lahiriah dari dedikasi mereka atas pelayanan kepada Yehowah.) Mereka tidak merayakan pesta apapun - termasuk Natal - terkecuali Kenangan akan Perjamuan Malam Terakhir, yang mereka adakan setahun sekali sesudah matahari terbenam pada tanggal 14 bulan Nisan (cara lama dalam menghitung tanggal Paskah) dan dalam mana hanya mereka yang menganggap diri sebagai termasuk dalam himpunan 144.000 dapat ikut ambil bagian dalam “lambang” - roti dan anggur. Mereka menolak transfusi darah. Mereka juga menolak memberi hormat pada bendera, memandangnya sebagai tindak penyembahan berhala. Mereka juga mengutuk rokok.
Saksi Yehowah juga disibukkan dengan Armageddon - pertempuran akhir antara kekuatan baik dan jahat. Di sini Tuhan akan menghancurkan sistem penciptaan yang lama dan mendirikan Kerajaan Yehowah. Suatu kelompok yang terdiri dari 144.000 putera-putera rohani Tuhan akan naik ke surga, memimpin bersama Kristus, dan berbagi kebahagiaan bersama yang lain. Namun, mereka yang jahat akan mengalami kebinasaan total. Russell mengatakan bahwa Armageddon ini tidak akan terjadi lebih dari tahun 1914. (Ia menetapkan tanggal dan waktu spesifik pada tiga kesempatan sebelumnya, tetapi salah). Sejak tahun 1920, Rutherford memaklumkan bahwa “berjuta-juta orang yang sekarang hidup tidak akan pernah mati”; ia juga mengharapkan “para pangeran masa lampau” - Abraham, Ishak dan yang lainnya - datang untuk hidup kembali sebelum tahun 1925 sebagai pemimpin-pemimpin Dunia Baru.
Setelah begitu banyak ramalan-ramalan yang salah, the Watch Tower Society dari pertengahan abad 20 tidak lagi memberikan suatu tanggal yang spesifik bilamana hal-hal ini akan terjadi; tetapi mengulang bahwa “angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi.” Belakangan, Nathan Knorr, yang menggantikan Rutherford pada tahun 1942 sebagai pemimpin, meramalkan bahwa dunia akan berakhir pada tahun 1974; dunia sendiri tidak berakhir, tetapi dunia berakhir bagi Knorr - ia meninggal pada tahun 1974. Meski begitu, Saksi Yehowah sungguh yakin bahwa akhir dunia akan datang segera dalam beberapa tahun mendatang.
Setiap anggota Saksi Yehowah dianggap sebagai seorang pelayan tertahbis untuk memberikan kesaksian akan Yehowah dengan memaklumkan Kerajaan-Nya yang akan segera datang. Ia dapat melakukannya dengan penginjilan dari pintu-ke-pintu, dengan pertemuan-pertemuan untuk pendalaman Alkitab di rumah, atau dengan berdiri di pojok-pojok jalan dan menunjukkan bacaan-bacaan Watch Tower. Mewartakan kabar baik merupakan satu-satunya sarana keselamatan. Pada umumnya, pada tingkat pemula seorang Saksi Yehowah disebut “pelayan.” Seorang “penyiar,” ambil bagian dalam pertemuan-pertemuan lima jam dalam seminggu dan membaktikan 10 jam dalam sebulan untuk memberikan kesaksian. Seorang “perintis” membaktikan 100 jam dalam sebulan kepada komunitas.
Kantor utama Saksi Yehowah ada di Brooklyn, New York. Saksi Yehowah amat tersentralisir. Kantor-kantor cabang di negara-negara penting mengawasi karya dan menyalurkan pendistribusian publikasi. Pelayan-pelayan lokal dan keliling secara teratur mengunjungi jemaat-jemaat setempat untuk menemui para pelayan, penyiar dan perintis setempat. Statistik yang akurat tersedia bagi segala kegiatan. Menurut data tahun 1994, sekitar satu juta Saksi Yehowah terdaftar dalam lebih dari 22.000 kongregasi di sekitar 80 negara.  
Gereja Katolik memiliki kepenuhan iman Kristen yang sejati dan sungguh memiliki [kepenuhan iman] yang paling banyak untuk ditawarkan kepada Saksi Yehowah. Tetapi seringkali umat Katolik menghindarkan diri dari berbagi iman Katolik atau berdiskusi dengan Saksi Yehowah.
Kunjungan dari Saksi Yehowah memberikan anda sebuah peluang untuk melakukan sharing Injil tanpa meninggalkan rumah anda. Di bawah ini sejumlah saran untuk membantu anda mempersiapkan diri dalam sharing Injil dengan saksi Yehowah.

1. Berdoa. Berdoa secara teratur meminta Roh Kudus untuk memberikan anda rahmat untuk sharing Injil dengan rekan Saksi Yehowah anda secara efektif.

2. Menerima Sakramen secara teratur. Sakramen-sakramen memberikan kita kehidupan. Tanpa itu, kita tidak memiliki apapun untuk diberikan kepada orang lain yang perlu belajar mengenai Tuhan.

3. Membaca Kitab Suci. Jika anda tidak mengetahui Kitab Suci, anda tidak mengetahui kisah keluarga kita sebagai umat Allah dan anda menjadi seperti yang St. Hieronimus katakan, “tidak mengetahui Kristus.”
4. Mengetahui Iman Katolik anda. Ini adalah hal perlu anda lakukan bukan hanya ketika mendapat kunjungan dari Saksi Yehowah tetapi juga selama hidup anda. Bacalah literatur resmi Gereja Katolik yaitu Katekismus Gereja Katolik. Bila KGK terlalu berat, Gereja Katolik telah mengeluarkan Kompendium Katekismus Gereja Katolik yang isinya ringkasan Katekismus Gereja Katolik. Umat awam sangat disarankan memiliki Kompendium Katekismus Gereja Katolik ini. 
5. Kenali perbedaan ajaran Katolik dengan Saksi Yehowah. Sebenarnya ada banyak perbedaan ajaran antara Katolik dengan Saksi Yehowah. Tetapi ada tiga point utama yang umat Katolik dapat bagikan dengan saksi Yehowah secara efektif. Pilihlah salah satu dari poin-poin berikut untuk dibagikan dan tetaplah berdiskusi mengenai topik ini dengan mereka selama kunjungan mereka. Jangan mudah dibawa keluar dari topik yang sedang dibicarakan.
I. Umat Kristen adalah anak-anak Allah dan mereka memiliki harapan mengalami keabadian bersama Kristus: Saksi Yehowah mengajarkan bahwa hanya 144.000 orang yang dianggap Putera dan Puteri Allah. 144000 orang ini memiliki harapan akan sampai di surga untuk dimuliakan bersama Kristus dalam keabadian. Sisanya yang bukan saksi Yehowah adalah bukan putera puteri Allah tetapi semata-mata teman-teman Allah yang memiliki harapan untuk hidup selamanya di firdaus di bumi. Hal ini sungguh bertentangan dengan Kitab Suci (Roma 8:14-17). Saksi Yehowah sendiri tidak mengakui adanya neraka. Mereka menolak bahwa jiwa-jiwa yang berdosa berat akan masuk neraka. Mereka mengajarkan bahwa jiwa-jiwa yang berdosa berat ini akan hilang lenyap. Penolakan terhadap neraka ini muncul karena mereka sengaja menerjemahkan Kitab Suci secara keliru. Mari kita bandingkan terjemahan mereka dengan terjemahan umum lainnya.
Mt 25:46  And these shall go into everlasting punishment: but the just, into life everlasting. (Douay Rheims Katolik)
Mt 25:46  And these shall go away into everlasting punishment: but the righteous into life eternal. (King James Version)
Mt 25:46 “And these will depart into everlasting cutting-off, but the righteous ones into everlasting life.” (New World Translation milik Saksi Yehowah)
Menurut Saksi Yehowah, mereka yang tidak termasuk kalangan terpilih akan masuk ke dalam “everlasting cutting-off”. Artinya, “penghapusan kekal”. Beda sekali dengan terjemahan Douay Rheims dan KJV di atas yang menuliskan “punishment” yang artinya “hukuman”. Kata asli “ko,lasij“ dalam bahasa Yunani memang harus diterjemahkan “hukuman”.
II. Tidak seorang pun dapat memprediksikan Kedatangan Kristus yang kedua: Para Saksi Yehowah mengajarkan bahwa Yesus kembali secara tidak terlihat pada tahun 1914 Masehi dan pemimpin pertama mereka, Charles T. Russell memprediksi hal ini. Mereka juga mengajarkan bahwa saat kiamat dunia dimulai pada tahun tersebut. Ini sungguh jelas bertentangan dengan Kitab Suci. (lihat Matius 24:23-24; Lukas 21:8)
III. Yesus adalah Allah, bukan ciptaan Bapa, bukan pula Malaikat Agung St. Mikael:
“Pertanyaan yang paling mendasar untuk setiap kelompok atau individu yang memusatkan perhatian pada Yesus ialah: siapa Yesus bagi mereka? (Bdk. Mat 16:15) Bagi orang Katolik, jelas Kristus ialah Allah sekaligus manusia. Ia ialah Pribadi Kedua dalam Allah Tritunggal Mahakudus. Akan tetapi, bagi saksi Yehowah, Yesus ialah ciptaan pula. Memang, Dia itu ciptaan yang pertama. Namun, Dia bukan Allah. Ayat yang biasa mereka kutip ialah Kol 1:15: “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan.”
Terjemahan LAI atas ayat tersebut sebenarnya jelas menyatakan bahwa Yesus itu melebihi segala ciptaan. Berarti Dia bersifat ilahi. Dua ayat selanjutnya meneguhkan kenyataan itu: "karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia” (Kol 1:16).
Masalahnya, saksi Yehowah menerjemahkan ayat tersebut secara berbeda: “He is the image of the invisible God, the first-born of all creation.” (NWT) Mereka menafsirkannya dengan mengatakan bahwa Yesus hanyalah ciptaan pertama (first-born of all creation). Jadi, Dia bukan Allah. Untuk mendukung argumen mereka, Why 3:14 dikutip: “The words of the Amen (Kristus), the faithful and true witness, the beginning of God’s creation.” Mereka bersikukuh bahwa ayat ini berbicara mengenai Yesus sebagai ciptaan awal. Padahal ayat ini bisa ditafsirkan secara sederhana, seperti yang dilakukan oleh para ahli Kitab Suci Kristen pada umumnya, bahwa Yesuslah yang menjadi sumber, awal penciptaan. Dengan kata lain, Dialah awal dari segala sesuatu. Itu berarti Dia tidak punya awal. Dia itu abadi. Dia itu Allah.
Demi mendukung argumen mereka tentang Yesus, saksi Yehowah bertindak jauh dengan mengubah terjemahan umum untuk Yoh 1:1. Terjemahan umum: “Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah; dan Firman itu adalah Allah.” Dengan membaca ayat ini, tidak bisa tidak, setiap orang akan menyadari bahwa orang Kristen meng-Allah-kan Yesus. Memang demikian, bagi orang Kristen, Yesus adalah Allah. “Firman” atau “Logos” dalam Injil Yohanes ialah Yesus Kristus. Dia adalah Allah. Namun, ayat ini kehilangan artinya yang asli ketika diterjemahkan oleh saksi Yehowah: “In the beginning was the Word, and the Word was with God, and the Word was a god.” (NWT) Perhatikan frasa “was a god”. Huruf “god” dengan huruf kecil menegaskan pandangan saksi Yehowah tentang Kristus. Bagi mereka, Kristus tidak setingkat dengan Allah. Ia berada di bawah Allah. Yesus itu semacam dewa.
Bagi saksi Yehowah, Kristus bukan Allah. Dia hanya ciptaan. Mereka bahkan menyamakan Yesus dengan Malaikat Mikael dengan dasar-dasar Kitab Suci yang sulit diterima (misalnya: Dan 10:13; 12:1; Jud 9; Why 12:7-8). Karena itu, kebanyakan ahli keagamaan tidak memasukkan saksi Yehowah di bawah label “Kristiani”. Mereka bukan orang Kristen dalam arti yang sesungguhnya. Orang Kristen mengakui Yesus ialah Tuhan. Yesus ialah Allah. Salah satu Pribadi ilahi dalam kesatuan kodrat Allah Tritunggal.” (Pater Georgius Paulus, Saksi Yehowah di Pintu Anda: Bagaimana Menghadapinya?)

Bagaimana proses yang sebaiknya anda lakukan ketika menerima sebuah kunjungan dari Saksi Yehowah?
Saksi Yehowah yang mengunjungi anda akan memberikan sebuah presentasi singkat kepada anda. Presentasi singkat ini biasanya berkaitan dengan beberapa literatur yang mereka kehendaki supaya anda baca. Biarkan mereka untuk menyelesaikan presentasi singkat mereka. Dengan cara ini, mereka akan lebih cenderung untuk mendengarkan pesan anda ketika giliran anda berbicara tanpa mereka perlu merasa khawatir bagaimana mereka akan menyelesaikan presentasinya.
Ketika presentasi Saksi Yehowah selesai, anda akan ditanyai apakah anda bersedia menerima literatur mereka atau tidak. Saya tidak merekomendasikan anda untuk menerima literatur tersebut karena anda kemungkinan besar akan diminta untuk membuat donasi. Uang donasi dari literatur tersebut mendanai organisasi mereka. Sebagai seorang Katolik, kita tentu tidak mau uang kita digunakan oleh organisasi keagamaan yang mengajarkan doktrin-doktrin yang salah dan bertentangan dengan Gereja Katolik.
Tolaklah dengan sopan ketika mereka meminta anda menerima literatur mereka dan katakan kepada Saksi Yehowah yang mengunjungi anda bahwa anda memiliki pesan-pesan untuk mereka. Di sini turning point alias titik baliknya. Anda menjelaskan tiga point utama di atas kepada mereka. Mulailah dari point pertama dari tiga poin tersebut dengan memberikan perikop Roma 8:14-17 ini:
Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab anda tidak menerima roh perbudakan yang membuat anda menjadi takut lagi, tetapi anda telah menerima Roh yang menjadikan anda anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.
Jelaskan kepada mereka bahwa maksud Kitab Suci ini adalah semua orang yang dipimpin oleh Roh Allah adalah anak Allah yang akan dipermuliakan bersama-sama dengan Kristus, bukan hanya 144.000 orang saja. Beritahu kepada Saksi Yehowah ini bahwa anda tidak memiliki minat untuk hidup selamanya di firdaus di bumi karena harapan anda adalah untuk bersama Yesus selamanya.
Bila memang terpaksa dilanjutkan, bawalah ke poin nomor 2 di mana para tokoh utama Saksi Yehowah mengklaim mengetahui kedatangan Yesus yang kedua. Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, pendiri Saksi Yehowah, Charles T. Russell, mengatakan bahwa Kedatangan Yesus yang kedua terjadi pada tahun 1914. Russell menulis dalam bukunya berjudul The Time is at Hand halaman 99 sebagai berikut:
In view of this strong Bible evidence concerning the Times of the Gentiles, we  consider it an established truth that the final end of the Kingdoms of this world, and the full establishment of the Kingdom of God, will be accomplished by the end of A.D. 1914.
Selanjutnya pada halaman 77 dia berkata:
It will prove that some time before the end of A.D. 1914 the last member of the  divinely recognized Church of Christ, the “royal priesthood,” “the body of Christ,” will be glorified with the Head.
Tanyakan kepada Saksi Yehowah tersebut, apakah kedua pernyataan pendiri mereka ini benar-benar terjadi?
Poin nomor tiga mengenai ke-Ilahian Yesus mungkin akan menjadi poin yang lebih sering berhubungan dengan pemahaman teologis yang kebanyakan umat awam kurang ketahui. Tetapi anda bisa mulai menjelaskan dari pengakuan Rasul Thomas akan keilahian Yesus Kristus dengan berkata “Ya Tuhanku dan Allahku” atau penjelasan Pater Paulus di atas.
Hindari untuk menyerang pribadi Saksi Yehowah, tetapi berdiskusilah mengenai ajarannya. Setelah berdiskusi, berdoalah untuk perpindahan mereka ke Gereja Katolik. Bila anda tidak mampu menjawab pertanyaan lain yang mungkin ditanyakan, jujurlah pada Saksi Yehowah tersebut dan berjanjilah pada diri anda dan diri orang itu bahwa anda akan mencari tahu jawabannya kelak. Biasakan pula untuk menyediakan literatur-literatur Katolik yang berguna di rumah anda sehingga dapat digunakan untuk diskusi dengan Saksi Yehowah.

Cerita Seorang Katolik eks-Saksi Yehowah
Dampak yang dapat dihasilkan oleh seorang Katolik yang siap memberikan pesan kebenaran kepada misionaris Saksi Yehowah sangatlah besar.
Sekali peristiwa ketika saya sedang mengunjungi rumah seorang Kristen, saya memberikan presentasi Saksi Yehowah saya mengenai harapan untuk hidup selamanya di firdaus di bumi. Orang ini memberitahu saya dengan sangat tenang dan penuh kasih bahwa harapannya bukanlah untuk hidup selamanya di firdaus di bumi tetapi untuk hidup selamanya di surga dengan Yesus. Dia kemudian berkata, “Dan saya tidak dapat memikirkan tempat lain yang lebih baik untuk saya harapkan, termasuk firdaus di bumi.”
Meskipun saya seorang Saksi Yehowah, saya tahu bahwa berada bersama Yesus Kristus untuk selamanya adalah lebih baik daripada kehidupan abadi di firdaus di bumi. Saya speechless, tidak dapat berkata apa-apa setelah mendengar komentar sederhana ini dan kemudian pergi meninggalkan orang itu. Rekan Saksi Yehowah yang menemaniku hari itu berkata kepadaku, “Saya pikir orang itu memiliki Roh Kudus atau sesuatu hal.”
Bapa Suci meminta kita untuk berkontribusi dalam “Penginjilan Baru” dunia. Kita dapat membuat sebuah kontribusi terhadap “Penginjilan Baru” ini dengan memberikan kesaksian yang baik kepada teman-teman Saksi Yehowah kita. Strategi yang diuraikan di atas dapat menolong anda untuk memulai memberikan kesaksian kepada mereka dengan sukses.

Sumber: http://www.indonesianpapist.com/2012/01/menginjil-saksi-yehowah.html

Jumat, 07 Juni 2013

Spiritualitas Ibadat Harian

Kita telah melihat sejarah Ibadat Harian, berdoa dalam irama waktu tertentu. Dan kini kita mencoba merangkum nilai spiritualitas Ibadat Harian tersebut :

Doa Ibadat Harian adalah Doa Penyucian Waktu.
Secara harfiah Ibadat harian berarti ibadat Waktu, ibadat menurut irama waktu. Maksudnya ialah agar pada saat-saat tertentu – pagi, siang, sore, sebelum tidur – si pendoa mempersatukan diri dengan Kristus, Sang Pendoa, dalam ibadat pujian dan permohonan. Berdasarkan tradisi kristiani yang telah beradab-abad umurnya, Ibadat Harian disusun sedemikian rupa, sehingga seluruh waktu dan malam disucikan dengan pujian kepada Allah (SC 84). Waktu adalah milik Allah yang dianugerahkan kepada manusia. Di dalam waktu manusia ada, dan berkarya. Dalam waktu kita bergumul, bergulat antara kebaikan dan kejahatan. Waktu yang dianugerahkan Allah kerap tercemari oleh dosa-dosa kita, silih dan pemulihan perlu dilakukan sembari memohon kekuatan Tuhan untuk menhidupi waktu.

Sebagaimana telah kita lihat, jejak doa penyucian waktu ini sangat menonjol baik dalam Perjanjian Lama (bdk mzm 5, 88, 119, Kel 29:38-39, dll) – maupun dalam Perjanjian Baru (bdk Kis10:3, 9; 16:25, etc; Kis 10:9-49 ; Kis 4:23-30) sebagai penerusan tradisi Judaime yang “dikristenkan” oleh Jemaat Perdana. (Bdk 1 Tes 1:2; Kol 3:16-17; Ef 5:18-20; Flp 2:6-11). Jadi bukan “rekayasa” Gereja Katolik.

Nasehat Kristus agar kita selalu berdoa tanpa kendur (Luk 18:1) ditanggapi Gereja dengan setia melalui perayaan Ekaristi sebagai puncak doanya dan dalam ibadat-ibadat bersama serta devosi-devosi yang dipanjatkan oleh seluruh umat beriman. Dan terlebih dalam Doa Ibadat Harian – yang di antara upacara-upacara liturgi lainnya, menurut tradisi Kristen – mempunyai kekhususan untuk menyucikan seluruh lingkaran hari dan malam (SC 83-84).

Dengan demikian seluruh karya umat beriman disucikan oleh dan bagi Allah melalui Ibadat Harian :

“Pendarasan Ibadat Harian, sedapat mungkin hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan hidup dan doa pribadi sehingga seperti yang diberikan dalam Instruksi Umum, ritme dan melodi hendaknya digunakan, dan bentuk-bentuk perayaan supaya dipilih yang lebih sesuai dengan kebutuhan rohani dari mereka yang mendoakannya. Jika doa Ofisi ilahi menjadi doa yang sungguh-sungguh bersifat pribadi maka hubungan antara liturgi dan seluruh hidup kristiani menjadi lebih jelas. Seluruh hidup orang beriman, dari saat ke saat, siang maupun malam, menjadi semacam leitourgia atau kebaktian umum, dalam mana kaum beriman menyerahkan diri untuk pelayanan kasih kepada Allah dan sesama, dengan menyatukan diri mereka pada tindakan Kristus, yang melalui hidup-Nya dan pengorbanan diri-Nya menguduskan hidup seluruh umat manusia” (Bina Liturgia 2F : Konstitusi Apostolik "Madah Pujian" dan Pedoman Ibadat Harian)

Ibadat Harian Sebagai Doa Kristus : Kristus Berdoa Kepada Bapa

Yesus Kristus, Sang Sabda yang menjelma mengambil kodrat manusia, datang ke dunia sebagai imam perjanjian baru dan kekal. Dalam hati Kristus, pujian kepada Allah menggema dan terungkap dalam bahasa manusia sebagai sembah sujud, pemulihan dan doa permohonan atas nama dan demi kepentingan semua orang.

Injil suci kerap kali mengisahkan Yesus sedang berdoa : tatkala perutusanNya diumumkan oleh Bapa (Luk 3:21-22), sebelum Dia memanggil para rasul (Luk 6:12), tatkala membagi-bagikan roti (Mat 4: 19, 15:36, dll), saat penampakkan diriNya di atas gunung (Luk 9:28-29), ketika menyembuhkan orang bisu tuli (Mrk 7:34), saat menghidupkan kembali Lazarus (Yoh 11:41,dst), sebelum menerima pengakuan Petrus (Luk 9:18), ia mengajar para murid berdoa (Luk 11:1), ketika para murid kembali dari tugas mereka (Mat 11:25), ketika memberkati anak-anak (Mat 19:13), Ia berdoa untuk Petrus (Luk 22:32).

Hidup Yesus sehari-hari selalu berhubungan erat dengan doa – bahkan mengalir daripadanya: Ia pergi ke padang gurun atau menyendiri di atas gunung untuk berdoa (Mrk 1:35, Luk 5:16 lih Mat 4:1, Mat 14:23), ketika Ia bangun pagi-pagi benar (Mrk 1:35) atau berjaga sampai larut malam (Mat 14:23.25 ; Mrk 6:46,dst). Yesus pun menghargai “kebiasaan” (baca: tradisi) doa bersama di rumah ibadat pada hari Sabat (Luk 4:16) dan juga di kenisah yang disebutNya sebagai rumah doa (Mat 21:13). Dan tentunya, Ia juga melakukan doa-doa pribadi setiap hari menurut kebiasaan orang Israel : pada perjamuan makan (Mat 14:19 ; 15:36), pada perjamuan terakhir (Mat 26:26) pada perjamuan di Emaus (Luk 24:30) – begitu pun dia mengucapkan madah bersama para murid (Mat 26:30). Bahkan hingga akhir hidupNya, ketika sengsara mendekat (Yoh 12:27,dst), saat sakratul maut (mat 26:36-44), ketika meregang nyawa di kayu salib (Luk 23:34-36 ; Mat 27:46; Mrk 15:34) – Ia tetap berdoa.

Yesus menunjukkan bahwa doa menjiwai seluruh tugas pelayananNya sebagai Almasih sampai wafat dan kebangkitanNya. Dan kemudian setelah bangkit dari alam maut, Ia hidup dan berdoa untuk kita selamanya (Ibr 7:25).

Ibadat Harian Sebagai Doa Gereja : Gereja Melanjutkan Doa Kristus dalam Roh Kudus

Doa yang dipanjatkan Yesus tersebut dilanjutkan oleh Gereja dalam Roh Kudus, Roh Kristus sendiri. Dalam Ibadat harian, Gereja melaksanakan tugas imamat Kristus dan tak henti-hentinya menyampaikan kepada Allah kurban pujian, yaitu ucapan mulut untuk kemuliaan nama Allah (Ibr 13:15). Doa Ibadat Harian merupakan “suara mempelai, yang berbicara dengan pengantinnya”, bahkan merupakan doa Kristus bersama tubuhNya kepada Bapa (SC 84). Jadi semua orang yang merayakan Ibadat Harian, melaksanakan tugas Gereja dan sekaligus mengambil bagian dalam kehormatan mempelai Kristus, sebab dalam memuji Allah, mereka berdiri di depan tahta Allah atas nama ibu Gereja. (SC 71).

Dengan menyampaikan pujian kepada Allah dalam Ibadat Harian, Gereja menggabungkan diri pada pujian yang dinyanyikan di surga sepanjang masa (SC 83). Dan sekaligus Gereja sudah menikmati pujian surgawi yang dilukiskan dalam Kitab Wahyu, yang dengan tak henti-hentinya menggema di depan tahta Allah dan Anak Domba. Dengan berdoa, hubungan kita dengan Gereja Surgawi menjadi nyata, yaitu apabila “kita bersama-sama melagukan pujian Allah yang mahaagung dengan gembira, dan apabila kita semua dari segala suku, bahasa dan bangsa, yang telah ditebus dalam darah Kristus (Lih. WHY 5:9) dan dihimpunkan dalam satu Gereja, Memuliakan Allah Tritunggal dengan satu lagu pujian” (LG 50; bdk. SC 8 dan 104).

Gereja mengantar manusia kepada Kristus, bukan hanya dengan cinta kasih, teladan dan karya tobat, melainkan juga dengan doanya (lih. PO 6). Dengan demikian cara hidup Gereja mengungkapkan dan memaklumkan kepada orang-orang lain “misteri Kristus dan hakikat Gereja yang sebenarnya, yaitu sebagai Gereja yang tampak namun penuh dengan anugerah yang tak tampak, yang sangat aktif namun juga kontemplatif, yang berada di tengah-tengah dunia namun juga dalam perjalanan”. (SC 2). Dan semua doa serta permohonan yang haturkan ini bukan hanya seruan Gereja, melainkan juga suara Kristus, sebab doa-doa itu diucapkan atas Nama Kristus, yaitu “demi Yesus Kristus, Tuhan dan Pengantara kita”.

Ibadah harian disusun sedemikian rupa sehingga seluruh kurun hari dan malam disucikan dengan pujian kepada Allah, kegiatan ini dilaksanakan oleh para Imam, orang lain yang atas ketetapan gereja maupun umat beriman (bdk SC 84). Maka dari itu, semua yang mendoakan Ibadah Harian menunaikan tugas gereja, dan ikut serta dalam kehormatan tertinggi mempelai Kristus. Sebab seraya melambungkan pujian kepada Allah mereka berdiri di hadapan tahta Allah atas nama Bunda Gereja (SC 85).

Kecuali itu sebagai doa resmi Gereja, Ibadah Harian menjadi sumber kesalehan dan membekali doa pribadi. Oleh karena itu para imam dan semua orang lain yang ikut mendaras Ibadat Harian diminta dalam Tuhan, supaya dalam melaksanakannya hati mereka berpadu dengan apa yang mereka ucapkan. Supaya itu tercapai dengan lebih baik, hendaknya mereka mengusahakan pembinaan yang lebih mendalam tentang Liturgi dan Kitab Suci, terutama mazmur-mazmur (SC 90).

Dengan memanjatkan ibadah harian kita menunjukkan wajah Gereja yang berdoa. Doa-doa dalam ibadah harian adalah doa-doa yang diinspirasikan dari Roh Kudus, karena berasal dari teks kitab suci, khususnya Mazmur Daud.

Ibadah Harian merupakan suatu tugas kehormatan, dimana kita [saya dan anda] bersama-sama dengan seluruh Gereja memanjatkan doa di hadapan Tahta Allah (bdk SC 85).

Ibadat Harian adalah Doa Alkitabiah : Berdoa dengan Kitab Suci.

Doa Ibadat Harian merupakan doa yang bersumber dari Kitab Suci (Biblis – alkitabiah) – bahkan bisa dikatakan doa Ibadat Harian adalah berdoa dengan Kitab Suci. “Orang-orang yang melaksanakan Ibadat Harian memperoleh kesucian yang berlimpah dari liturgi itu berkat daya Sabda Allah yang menduduki tempat utama di dalamnya. Sebab bacaan-bacaan dikutip dari Kitab Suci, Sabda Allah yang tertera dalam mazmur-mazmur dinyanyikan di hadapan Allah, dan berkat ilham dan dorongan allah, doa-doa lainnya serta madah-madah diluapkan” (SC 24).

Sumber : http://parokisalibsuci.org/

Doa-doa Harian

Bapak kita Santo Fransiskus dari Assisi mengajak kita agar senantiasa berdoa: memuji dan memuliakan Tuhan, menyembah dan bersyukur kepada-Nya, memohon ampun dan berkat-Nya di mana pun kita berada. Berikut ini adalah doa-doa yang dapat kita pakai setiap hari, sendiri maupun bersama dalam keluarga. Dapat juga ditularkan kepada orang lain.

1. Doa Kami Menyembah Engkau
(doa sederhana ini diucapkan ketika memulai setiap ibadat)

Kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus, di sini dan di semua Gereja-Mu di seluruh dunia, dan kami memuji Engkau, sebab Engkau telah menebus dunia dengan salib-Mu yang suci.

2. Doa Salib
(untuk mengenang sengsara Tuhan diucapkan sambil berlutut, tangan diangkat, telapak tangan terbuka):
1 x Bapa Kami
1 x Salam Maria
1 x Kemuliaan
(diulang sebanyak 5 kali, doa ini dapat dibuka dan ditutup dengan doa “Kami Menyembah Engkau….” seperti di atas)

3. Ofisi Ilahi/Ibadat Harian
(doa ini diucapkan secara lisan. Dapat diucapkan di tempat mana pun, sesuai dengan kesibukan masing-masing; dapat juga diucapkan dalam hati, bila keadaan tidak memungkinkan):

Ibadat Pagi/Laudes
(antara pkl 05:00 - pkl 07:00)
Tanda Salib
Doa “Kami Menyembah Engkau….”
I x Aku Percaya, 5 x Bapa Kami, dan 1 Kemuliaan
Tanda Salib
Doa “Kami Menyembah Engkau….”

Ibadat Siang
(antara pkl 09.00 - pkl 16.00. Doa ini dapat diucapkan dalam tiga kesempatan, yakni):
Antara jam 09.00 - jam 10.00 (Tertia)
An tam jam 11.00 - jam 12.00 (Sexta)
Antara jam 14.00 - jam 15.00 (Nona)
Tanda Salib
Doa “Kami Menyembah Engkau….”
1 x Aku Percaya, 7 x Bapa Kami, dan 1 x Kemuliaan
Tanda Salib
Doa “Kami Menyembah Engkau….”

Ibadat Sore/Vesperae
(antara pkl. 17.00 - pkl 20.00)
Tanda Salib
Doa “Kami Menyembah Engkau….”
1 x Aku Percaya, 12 x Bapa Kami, dan 1 x Kemuliaan
Tanda Salib
Doa “Kami Menyembah Engkau….”

Ibadat Penutup/Completorium
(menjelang tidur atau setelah pkl. 21.00)
Tanda Salib
Doa “Kami Menyembah Engkau….”
1 x Aku Percaya, 7 x Bapa Kami, dan 1x Kemuliaan
Tanda Salib
Doa “Kami Menyembah Engkau….”

Ibadat Bacaan:
Tanda Salib
Doa “Kami Menyembah Engkau….”
1 x Aku Percaya, 24 x Bapa Kami, dan 1 x Kemuliaan
Tanda Salib
Doa “Kami Menyembah Engkau….”

4. Doa Waktu Melayat
(atau kapan saja, untuk orang yang meninggal):
Tanda Salib
Doa “Kami Menyembah Engkau….”
7 x Bapa Kami
Tuhan berilah dia (mereka) istirahat yang kekal
Tanda Salib
Doa “Kami Menyembah Engkau….”

5. Doa mohon ampun atas dosa-dosa
(diucapkan setiap hari)
Tanda Salib
Doa “Kami Menyembah Engkau….”
3 x Bapa Kami
Tanda Salib
Doa “Kami Menyembah Engkau….”

dikirim oleh: Alfons S. Suhardi, OFM
Dikutip dari : http://ofm.or.id/doa-doa-harian/

Bagaimana Mendoakan Ibadat Harian?

(Disarikan dari : Institutio Generalis de Liturgia Horarum – Konggregasi Ibadat, Roma 2 Pebruari 1971 – diindonesiakan oleh PWI – Liturgi “Pedoman Ibadat Harian” – Bab V)

1. Selintas Susunan Doa Ibadat Harian

Semua Ibadat Harian, diawali dengan seruan mazmur 69/70: 2 : “Ya Allah bersegeralah menolong Aku…..” – Kecuali dalam Ibadat Pembukaan (bisa Ibadat Bacaan atau Ibadat Pagi) yang diawali dengan seruan : ”Ya Tuhan sudilah membuka hatiku – supaya mulutku mewartakan pujianMu.” (Mzm 50/51: 17) – dilanjutkan dengan antiphone dan mazmur pembukaan (biasanya mazmur 94/95).

Selanjutnya dilagukan madah dan pendarasan mazmur. Kemudian diikuti dengan pembacaan Kitab Suci dan disambut dengan sebuah seruan lagu singkat. Komponen-komponen lainnya tergantung kepada masing-masing Ibadat yang dirayakan. Dan dalam tiap ibadat, mazmur diawali dan diakhir dengan sebuah antiphone dan ditutup dengan doxology (kemuliaan).

2. Petugas & Sikap Liturgi dalam Ibadat Harian

- Setiap perayaan umat, sebaiknya dipimpin oleh imam atau diakon dan didampingi para petugas lainnya.
- Imam atau diakon yang memimpin bertugas membuka ofisi dengan ayat pembukaan, memulai Bapa Kami, mengucapkan doa penutup, memberi salam kepada umat, memberi berkat dan membubarkan umat. Semua ini dilakukan di tempat duduknya
- Doa-doa permohonan dapat dilakukan oleh imam atau petugas lain
- Apabila tidak ada imam atau diakon yang memimpin, pemimpin ofisi menduduki tempat pertama, tetapi sejajar dengan hadirin lainnya. Ia tidak memasuki ruang imam, tidak memberi salam dan juga tidak memberkati umat.
- Petugas bacaan membawakan dengan berdiri di tempat yang sesuai
- Semua peserta berdiri saat :
• Pembukaan Ofisi
• Madah
• Kidung dari Injil
• Doa permohonan, Bapa Kami dan doa penutup.
- Semua peserta duduk waktu bacaan-bacaan, kecuali bacaan dari Injil
- Waktu mazmur, kidung dan antifon semua duduk atau berdiri tergantung kebiasaan.

3. Tanda Salib

Dalam Ibadat Harian, tanda Salib tidak dilakukan secara harafiah – dalam arti dengan kata-kata “dalam nama Bapa, dst…”. Tanda salib dilakukan bersamaan dengan seruan pembukaan :
- Ibadat Pembuka : “Ya Tuhan sudilah membuka hatiku…..” pada saat bersamaan semua peserta membuat tanda salib kecil di dahi, mulut dan di dada.
- Pembukaan Ibadat Harian yang lain : “Ya Allah bersegeralah menolong aku….dst” pada saat bersamaan semua peserta membuat tanda salib besar seperti biasanya.
Selain itu tanda salib besar juga dilakukan saat Kidung Zakharia, Kidung Maria dan Kidung Simeon – serta pada saat berkat penutup.

4. Pendarasan Mazmur & Bahasa

- Cara pendarasan mazmur tergantung pada pelbagai pertimbangan, misal dari jenis sastra dan panjangnya mazmur, bahasa yang dipakai, jumlah peserta, dan sebagainya.
- Beberapa pendarasan mazmur :
• Didaraskan bersama-sama seluruh hadirin
• Bergantian antara koor dan umat
• Bersahut-sahutan (responsorial) antara umat atau umat dan petugas
- Pada awal mazmur selalu diucapkan antiphon dan pada akhir mazmur ditambahkan “Kemuliaan…. Seperti…” sebagaimana dianjurkan oleh tradisi. Dengan demikian doa Perjanjian Lama diberi nada pujian dan dihubungkan dengan misteri Kristus dan Tritunggal Maha Kudus.

Setelah pendarasan mazmur sebaiknya antiphon diulangi
- Saat hening diantara bagian-bagian mazmur juga sangat dianjurkan sebagai nada sela menghayati apa yang baru didaraskan.
- Dalam perayaan Ibadat Harian, nyanyian tidak boleh dianggap sebagai hiasan atau tambahan belaka. Nyanyian merupakan luapan hati orang yang berdoa dan memuji Allah serta mewujudkan kebersamaan ibadat Kristen dengan sempurna.
- Dalam upacara liturgi yang dinyanyikan dalam bahasa Latin, nyanyian Gregorian sebagai nyanyian khas liturgi Roma, harus diutamakan, kecuali jika ada pertimbangan lain (SC 116)
- Tidak ada jenis musik suci yang ditolak Gereja untuk upacara liturgi, asal selaras dengan semangat upacara liturgi tersebut dan hakikat masing-masing bagiannya dan tidak menghalangi umat untuk ikut berperan serta secara aktif. (MS9 – lih SC 116)
- Ibadat Harian dapat dirayakan dengan bahasa lokal/setempat, “maka hendaknya diciptakan lagu-lagu untuk nyanyian ofisi dalam bahasa lokal” (MS 41 – lih juga 54-61)
- Tidak ada keberatan bahwa bagian yang satu dinyanyikan dalam bahasa yang berbeda dengan bagian lain (MS 51)

Tradisi-tradisi Lain

Dalam beberapa biara atau komunitas religius terdapat tradisi yang patut pula kita pelihara dan ikuti, misalkan tradisi membungkukkan badan dengan khitmat saat pengucapan Kemuliaan kepada Tritunggal Maha Kudus – dalam mendoakan bait terakhir Madah yang bernada Trinitarian, serta di saat mengucapkan kata “Yesus” (misal dalam antiphone Ratu Surga dalam kompletorium)

Kewajiban Mendoakan Ibadat Harian

Dalam Gereja Katolik, praktek ibadat harian dilakukan oleh para imam, diakon dan komunitas-komunitas religius di dalam Gereja. Meski demikian, Konsili Vatikan II (dan anjuran-anjuran setelahnya) juga sangat mendorong bagi para awam secara pribadi maupun bersama-sama menjalankan doa Gereja ini :
- “…. Dianjurkan agar para awam pun mendaras Ibadat Harian, entah bersama imam, entah antar mereka sendiri, atau bahkan secara perorangan.” (SC100)
- “Menurut asal-usul dan hakikatnya, ibadat harian bukanlah milik khusus para rohaniwan dan rahib saja, melainkan milik umum seluruh umat Kristen” dan atas dasar konstitusi dan peraturan diangkat menjadi “doa resmi Gereja” (Pedoman Ibadat Harian, No.270).

Ibadat Harian bukanlah peninggalan indah masa lalu yang harus dipelihara untuk dikagumi, melainkan gejala hidup umat setempat, penuh daya pembaharuan, pertumbuhan dan kesegaran. Tradisi suci ini perlu kita kembangkan di kalangan hidup rohani umat yang, dewasa ini dibingungkan dengan munculnya aneka devosi atau kegiatan latihan rohani yang relatif baru.

Dalam pelaksanaan ibadat Harian dikalangan umat, yang terpenting ialah jangan sampai perayaan itu menjadi kaku dan dibuat-buat, atau merupakan rutinitas dan formalisme belaka. Jadi harus diusahakan supaya perayaan itu sungguh berarti. Sebab maksud ibadat harian ialah pertama-tama membentuk hati dengan semangat doa Gereja yang asli dan menimba kekuatan serta kenikmatan dari pujian Allah (Mzm 146/147).

Sumber : http://parokisalibsuci.org/