Kamera 1

Sabtu, 06 Juli 2013

Menginjili Saksi Yehowah

Menginjili Saksi Yehowah


Saksi Yehowah didirikan oleh Charles Taze Russell, mantan pedagang pakaian laki-laki dari Philadelphia, pada tahun 1872 di Alleghany, Pennsylvania. Russell dilahirkan pada tanggal 16 Februari 1852 di Pittsburgh dan wafat pada tanggal 31 Oktober 1916. Ia dibaptis sebagai seorang Kongregasionalis dan dibesarkan dalam sebuah keluarga Protestan yang keras. Studinya lebih lanjut atas Alkitab menghantarnya untuk menyangkal adanya neraka, doktrin Trinitas, dan menyatakan pandangan-pandangan Arian mengenai kodrat Yesus Kristus, dengan menyangkal keallahan-Nya.
Pada tahun 1879, Russell mendirikan jurnal “The Watchtower” dan pada tahun 1884 membentuk Watchtower Bible and Tract Society. Ia menjelajah Amerika Serikat dan Eropa dalam misi khotbah dan menggorganisir para pengikutnya yang disebut Russellites, Millennial Dawnists, International Bible Students dan akhirnya Jehovah's Witnesses (= Saksi Yehowah). Sepanjang karya misionarisnya, ia menghadapi beberapa skandal termasuk berpisah dengan isterinya setelah 18 tahun masa perkawinan, dan dakwaan penipuan dengan menjual “gandum ajaib” dengan harga yang amat tinggi.
Sesudah kematian Russell pada tahun 1916, Hakim Joseph Franklin Rutherford, seorang pengacara Missouri yang membela Russell dalam beberapa kasus hukum, menggantikannya sebagai pemimpin kelompok. Rutherford secara resmi menjadikan kelompok tersebut sebagai badan hukum pada tahun 1931 sebagai Saksi Yehowah dengan nama hukum “The Watchtower Bible and Tract Society” (= Lembaga Alkitab dan Risalat Menara Pengawal). Rutherford mengembangkan gagasan-gagasan Russell ke dalam suatu sistem doktrin resmi. Ia juga mengubah struktur jemaat sekte sebagaimana di bawah pimpinan Russell menjadi suatu teokrasi yang keras. Rutherford meletakkan dasar sekte sebagaimana kita mengenalnya sekarang.
Menurut Saksi Yehowah, ada satu Tuhan, dan sejak tahun 1931, mereka mendesak Ia disebut “Yehowah”. Ini merupakan versi lain pengucapan kata Ibrani “Yahweh”, yang muncul sekitar abad ketiga SM dan yang dibawa masuk sebagai terjemahan kata “Yahweh” dalam Alkitab versi King James dalam Keluaran 6:3. Saksi Yehowah mengatakan bahwa Yesus adalah Putra Allah, tetapi berada di bawah Allah. Mereka mengutuk Trinitas sebagai pemujaan berhala dan karenanya menyangkal keallahan Kristus. Russell bahkan mengklaim bahwa Trinitas adalah gagasan setan. Namun demikian, ironisnya, ketika membaptis, mereka mempergunakan rumusan, “… Dalam nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus.”
Meski demikian, Saksi Yehowah menganggap Yesus sebagai Saksi Utama dari semuanya, tidak berada di bawah siapapun selain Yehowah Sendiri. Sebelum keberadaan-Nya sebagai manusia, Yesus adalah suatu makhluk rohani yang disebut Logos, atau Sabda, atau bahkan Malaikat Agung Mikhael. Yesus wafat sebagai manusia dan dibangkitkan sebagai Roh-Putra yang abadi. Sengsara dan wafat-Nya adalah harga yang Ia bayar demi mendapatkan kembali bagi umat manusia hak untuk hidup abadi di dunia. Sungguh, himpunan besar Saksi-saksi sejati berharap akan Firdaus duniawi (Ajaran ini menggemakan bidaah yang dikutuk Gereja awali di awal Konsili Nicea pada tahun 325).
Mereka percaya bahwa Alkitab merupakan satu-satunya sumber kepercayaan dan kaidah perilaku. Tetapi, dukungan Alkitab mereka tampaknya lebih kuat. Mereka hanya diijinkan untuk mempergunakan Alkitab terjemahan mereka sendiri dan publikasi-publikasi resmi mereka sendiri. Sayang, banyak salah terjemahan yang disengaja dalam versi mereka demi mendukung ajaran mereka. Sebagai contoh, dalam Perjanjian Baru, “Tuhan” diterjemahkan sebagai “Yehowah” terkecuali di mana kata itu menunjuk langsung pada Kristus. Dalam kisah Perjamuan Malam Terakhir, mereka menterjemahkan, “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku” menjadi “Ambillah, makanlah, ini berarti tubuh-Ku.” Guna menegaskan bahwa Yesus adalah ciptaan, mereka menambahkan kata “lainnya” pada Kolose 1:16, “Karena di dalam Dia-lah telah diciptakan segala sesuatu…” menjadi “Karena di dalam Dia-lah telah diciptakan segala sesuatu lainnya… segala sesuatu lainnya diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu lainnya dan segala sesuatu lainnya ada di dalam Dia.”
Saksi Yehowah juga menyangkal keabadian jiwa, adanya neraka, dan ketujuh sakramen. (Meski mereka mempunyai ritual pembaptisan, mereka menganggapnya sekedar sebagai simbol lahiriah dari dedikasi mereka atas pelayanan kepada Yehowah.) Mereka tidak merayakan pesta apapun - termasuk Natal - terkecuali Kenangan akan Perjamuan Malam Terakhir, yang mereka adakan setahun sekali sesudah matahari terbenam pada tanggal 14 bulan Nisan (cara lama dalam menghitung tanggal Paskah) dan dalam mana hanya mereka yang menganggap diri sebagai termasuk dalam himpunan 144.000 dapat ikut ambil bagian dalam “lambang” - roti dan anggur. Mereka menolak transfusi darah. Mereka juga menolak memberi hormat pada bendera, memandangnya sebagai tindak penyembahan berhala. Mereka juga mengutuk rokok.
Saksi Yehowah juga disibukkan dengan Armageddon - pertempuran akhir antara kekuatan baik dan jahat. Di sini Tuhan akan menghancurkan sistem penciptaan yang lama dan mendirikan Kerajaan Yehowah. Suatu kelompok yang terdiri dari 144.000 putera-putera rohani Tuhan akan naik ke surga, memimpin bersama Kristus, dan berbagi kebahagiaan bersama yang lain. Namun, mereka yang jahat akan mengalami kebinasaan total. Russell mengatakan bahwa Armageddon ini tidak akan terjadi lebih dari tahun 1914. (Ia menetapkan tanggal dan waktu spesifik pada tiga kesempatan sebelumnya, tetapi salah). Sejak tahun 1920, Rutherford memaklumkan bahwa “berjuta-juta orang yang sekarang hidup tidak akan pernah mati”; ia juga mengharapkan “para pangeran masa lampau” - Abraham, Ishak dan yang lainnya - datang untuk hidup kembali sebelum tahun 1925 sebagai pemimpin-pemimpin Dunia Baru.
Setelah begitu banyak ramalan-ramalan yang salah, the Watch Tower Society dari pertengahan abad 20 tidak lagi memberikan suatu tanggal yang spesifik bilamana hal-hal ini akan terjadi; tetapi mengulang bahwa “angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi.” Belakangan, Nathan Knorr, yang menggantikan Rutherford pada tahun 1942 sebagai pemimpin, meramalkan bahwa dunia akan berakhir pada tahun 1974; dunia sendiri tidak berakhir, tetapi dunia berakhir bagi Knorr - ia meninggal pada tahun 1974. Meski begitu, Saksi Yehowah sungguh yakin bahwa akhir dunia akan datang segera dalam beberapa tahun mendatang.
Setiap anggota Saksi Yehowah dianggap sebagai seorang pelayan tertahbis untuk memberikan kesaksian akan Yehowah dengan memaklumkan Kerajaan-Nya yang akan segera datang. Ia dapat melakukannya dengan penginjilan dari pintu-ke-pintu, dengan pertemuan-pertemuan untuk pendalaman Alkitab di rumah, atau dengan berdiri di pojok-pojok jalan dan menunjukkan bacaan-bacaan Watch Tower. Mewartakan kabar baik merupakan satu-satunya sarana keselamatan. Pada umumnya, pada tingkat pemula seorang Saksi Yehowah disebut “pelayan.” Seorang “penyiar,” ambil bagian dalam pertemuan-pertemuan lima jam dalam seminggu dan membaktikan 10 jam dalam sebulan untuk memberikan kesaksian. Seorang “perintis” membaktikan 100 jam dalam sebulan kepada komunitas.
Kantor utama Saksi Yehowah ada di Brooklyn, New York. Saksi Yehowah amat tersentralisir. Kantor-kantor cabang di negara-negara penting mengawasi karya dan menyalurkan pendistribusian publikasi. Pelayan-pelayan lokal dan keliling secara teratur mengunjungi jemaat-jemaat setempat untuk menemui para pelayan, penyiar dan perintis setempat. Statistik yang akurat tersedia bagi segala kegiatan. Menurut data tahun 1994, sekitar satu juta Saksi Yehowah terdaftar dalam lebih dari 22.000 kongregasi di sekitar 80 negara.  
Gereja Katolik memiliki kepenuhan iman Kristen yang sejati dan sungguh memiliki [kepenuhan iman] yang paling banyak untuk ditawarkan kepada Saksi Yehowah. Tetapi seringkali umat Katolik menghindarkan diri dari berbagi iman Katolik atau berdiskusi dengan Saksi Yehowah.
Kunjungan dari Saksi Yehowah memberikan anda sebuah peluang untuk melakukan sharing Injil tanpa meninggalkan rumah anda. Di bawah ini sejumlah saran untuk membantu anda mempersiapkan diri dalam sharing Injil dengan saksi Yehowah.

1. Berdoa. Berdoa secara teratur meminta Roh Kudus untuk memberikan anda rahmat untuk sharing Injil dengan rekan Saksi Yehowah anda secara efektif.

2. Menerima Sakramen secara teratur. Sakramen-sakramen memberikan kita kehidupan. Tanpa itu, kita tidak memiliki apapun untuk diberikan kepada orang lain yang perlu belajar mengenai Tuhan.

3. Membaca Kitab Suci. Jika anda tidak mengetahui Kitab Suci, anda tidak mengetahui kisah keluarga kita sebagai umat Allah dan anda menjadi seperti yang St. Hieronimus katakan, “tidak mengetahui Kristus.”
4. Mengetahui Iman Katolik anda. Ini adalah hal perlu anda lakukan bukan hanya ketika mendapat kunjungan dari Saksi Yehowah tetapi juga selama hidup anda. Bacalah literatur resmi Gereja Katolik yaitu Katekismus Gereja Katolik. Bila KGK terlalu berat, Gereja Katolik telah mengeluarkan Kompendium Katekismus Gereja Katolik yang isinya ringkasan Katekismus Gereja Katolik. Umat awam sangat disarankan memiliki Kompendium Katekismus Gereja Katolik ini. 
5. Kenali perbedaan ajaran Katolik dengan Saksi Yehowah. Sebenarnya ada banyak perbedaan ajaran antara Katolik dengan Saksi Yehowah. Tetapi ada tiga point utama yang umat Katolik dapat bagikan dengan saksi Yehowah secara efektif. Pilihlah salah satu dari poin-poin berikut untuk dibagikan dan tetaplah berdiskusi mengenai topik ini dengan mereka selama kunjungan mereka. Jangan mudah dibawa keluar dari topik yang sedang dibicarakan.
I. Umat Kristen adalah anak-anak Allah dan mereka memiliki harapan mengalami keabadian bersama Kristus: Saksi Yehowah mengajarkan bahwa hanya 144.000 orang yang dianggap Putera dan Puteri Allah. 144000 orang ini memiliki harapan akan sampai di surga untuk dimuliakan bersama Kristus dalam keabadian. Sisanya yang bukan saksi Yehowah adalah bukan putera puteri Allah tetapi semata-mata teman-teman Allah yang memiliki harapan untuk hidup selamanya di firdaus di bumi. Hal ini sungguh bertentangan dengan Kitab Suci (Roma 8:14-17). Saksi Yehowah sendiri tidak mengakui adanya neraka. Mereka menolak bahwa jiwa-jiwa yang berdosa berat akan masuk neraka. Mereka mengajarkan bahwa jiwa-jiwa yang berdosa berat ini akan hilang lenyap. Penolakan terhadap neraka ini muncul karena mereka sengaja menerjemahkan Kitab Suci secara keliru. Mari kita bandingkan terjemahan mereka dengan terjemahan umum lainnya.
Mt 25:46  And these shall go into everlasting punishment: but the just, into life everlasting. (Douay Rheims Katolik)
Mt 25:46  And these shall go away into everlasting punishment: but the righteous into life eternal. (King James Version)
Mt 25:46 “And these will depart into everlasting cutting-off, but the righteous ones into everlasting life.” (New World Translation milik Saksi Yehowah)
Menurut Saksi Yehowah, mereka yang tidak termasuk kalangan terpilih akan masuk ke dalam “everlasting cutting-off”. Artinya, “penghapusan kekal”. Beda sekali dengan terjemahan Douay Rheims dan KJV di atas yang menuliskan “punishment” yang artinya “hukuman”. Kata asli “ko,lasij“ dalam bahasa Yunani memang harus diterjemahkan “hukuman”.
II. Tidak seorang pun dapat memprediksikan Kedatangan Kristus yang kedua: Para Saksi Yehowah mengajarkan bahwa Yesus kembali secara tidak terlihat pada tahun 1914 Masehi dan pemimpin pertama mereka, Charles T. Russell memprediksi hal ini. Mereka juga mengajarkan bahwa saat kiamat dunia dimulai pada tahun tersebut. Ini sungguh jelas bertentangan dengan Kitab Suci. (lihat Matius 24:23-24; Lukas 21:8)
III. Yesus adalah Allah, bukan ciptaan Bapa, bukan pula Malaikat Agung St. Mikael:
“Pertanyaan yang paling mendasar untuk setiap kelompok atau individu yang memusatkan perhatian pada Yesus ialah: siapa Yesus bagi mereka? (Bdk. Mat 16:15) Bagi orang Katolik, jelas Kristus ialah Allah sekaligus manusia. Ia ialah Pribadi Kedua dalam Allah Tritunggal Mahakudus. Akan tetapi, bagi saksi Yehowah, Yesus ialah ciptaan pula. Memang, Dia itu ciptaan yang pertama. Namun, Dia bukan Allah. Ayat yang biasa mereka kutip ialah Kol 1:15: “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan.”
Terjemahan LAI atas ayat tersebut sebenarnya jelas menyatakan bahwa Yesus itu melebihi segala ciptaan. Berarti Dia bersifat ilahi. Dua ayat selanjutnya meneguhkan kenyataan itu: "karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia” (Kol 1:16).
Masalahnya, saksi Yehowah menerjemahkan ayat tersebut secara berbeda: “He is the image of the invisible God, the first-born of all creation.” (NWT) Mereka menafsirkannya dengan mengatakan bahwa Yesus hanyalah ciptaan pertama (first-born of all creation). Jadi, Dia bukan Allah. Untuk mendukung argumen mereka, Why 3:14 dikutip: “The words of the Amen (Kristus), the faithful and true witness, the beginning of God’s creation.” Mereka bersikukuh bahwa ayat ini berbicara mengenai Yesus sebagai ciptaan awal. Padahal ayat ini bisa ditafsirkan secara sederhana, seperti yang dilakukan oleh para ahli Kitab Suci Kristen pada umumnya, bahwa Yesuslah yang menjadi sumber, awal penciptaan. Dengan kata lain, Dialah awal dari segala sesuatu. Itu berarti Dia tidak punya awal. Dia itu abadi. Dia itu Allah.
Demi mendukung argumen mereka tentang Yesus, saksi Yehowah bertindak jauh dengan mengubah terjemahan umum untuk Yoh 1:1. Terjemahan umum: “Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah; dan Firman itu adalah Allah.” Dengan membaca ayat ini, tidak bisa tidak, setiap orang akan menyadari bahwa orang Kristen meng-Allah-kan Yesus. Memang demikian, bagi orang Kristen, Yesus adalah Allah. “Firman” atau “Logos” dalam Injil Yohanes ialah Yesus Kristus. Dia adalah Allah. Namun, ayat ini kehilangan artinya yang asli ketika diterjemahkan oleh saksi Yehowah: “In the beginning was the Word, and the Word was with God, and the Word was a god.” (NWT) Perhatikan frasa “was a god”. Huruf “god” dengan huruf kecil menegaskan pandangan saksi Yehowah tentang Kristus. Bagi mereka, Kristus tidak setingkat dengan Allah. Ia berada di bawah Allah. Yesus itu semacam dewa.
Bagi saksi Yehowah, Kristus bukan Allah. Dia hanya ciptaan. Mereka bahkan menyamakan Yesus dengan Malaikat Mikael dengan dasar-dasar Kitab Suci yang sulit diterima (misalnya: Dan 10:13; 12:1; Jud 9; Why 12:7-8). Karena itu, kebanyakan ahli keagamaan tidak memasukkan saksi Yehowah di bawah label “Kristiani”. Mereka bukan orang Kristen dalam arti yang sesungguhnya. Orang Kristen mengakui Yesus ialah Tuhan. Yesus ialah Allah. Salah satu Pribadi ilahi dalam kesatuan kodrat Allah Tritunggal.” (Pater Georgius Paulus, Saksi Yehowah di Pintu Anda: Bagaimana Menghadapinya?)

Bagaimana proses yang sebaiknya anda lakukan ketika menerima sebuah kunjungan dari Saksi Yehowah?
Saksi Yehowah yang mengunjungi anda akan memberikan sebuah presentasi singkat kepada anda. Presentasi singkat ini biasanya berkaitan dengan beberapa literatur yang mereka kehendaki supaya anda baca. Biarkan mereka untuk menyelesaikan presentasi singkat mereka. Dengan cara ini, mereka akan lebih cenderung untuk mendengarkan pesan anda ketika giliran anda berbicara tanpa mereka perlu merasa khawatir bagaimana mereka akan menyelesaikan presentasinya.
Ketika presentasi Saksi Yehowah selesai, anda akan ditanyai apakah anda bersedia menerima literatur mereka atau tidak. Saya tidak merekomendasikan anda untuk menerima literatur tersebut karena anda kemungkinan besar akan diminta untuk membuat donasi. Uang donasi dari literatur tersebut mendanai organisasi mereka. Sebagai seorang Katolik, kita tentu tidak mau uang kita digunakan oleh organisasi keagamaan yang mengajarkan doktrin-doktrin yang salah dan bertentangan dengan Gereja Katolik.
Tolaklah dengan sopan ketika mereka meminta anda menerima literatur mereka dan katakan kepada Saksi Yehowah yang mengunjungi anda bahwa anda memiliki pesan-pesan untuk mereka. Di sini turning point alias titik baliknya. Anda menjelaskan tiga point utama di atas kepada mereka. Mulailah dari point pertama dari tiga poin tersebut dengan memberikan perikop Roma 8:14-17 ini:
Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab anda tidak menerima roh perbudakan yang membuat anda menjadi takut lagi, tetapi anda telah menerima Roh yang menjadikan anda anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.
Jelaskan kepada mereka bahwa maksud Kitab Suci ini adalah semua orang yang dipimpin oleh Roh Allah adalah anak Allah yang akan dipermuliakan bersama-sama dengan Kristus, bukan hanya 144.000 orang saja. Beritahu kepada Saksi Yehowah ini bahwa anda tidak memiliki minat untuk hidup selamanya di firdaus di bumi karena harapan anda adalah untuk bersama Yesus selamanya.
Bila memang terpaksa dilanjutkan, bawalah ke poin nomor 2 di mana para tokoh utama Saksi Yehowah mengklaim mengetahui kedatangan Yesus yang kedua. Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, pendiri Saksi Yehowah, Charles T. Russell, mengatakan bahwa Kedatangan Yesus yang kedua terjadi pada tahun 1914. Russell menulis dalam bukunya berjudul The Time is at Hand halaman 99 sebagai berikut:
In view of this strong Bible evidence concerning the Times of the Gentiles, we  consider it an established truth that the final end of the Kingdoms of this world, and the full establishment of the Kingdom of God, will be accomplished by the end of A.D. 1914.
Selanjutnya pada halaman 77 dia berkata:
It will prove that some time before the end of A.D. 1914 the last member of the  divinely recognized Church of Christ, the “royal priesthood,” “the body of Christ,” will be glorified with the Head.
Tanyakan kepada Saksi Yehowah tersebut, apakah kedua pernyataan pendiri mereka ini benar-benar terjadi?
Poin nomor tiga mengenai ke-Ilahian Yesus mungkin akan menjadi poin yang lebih sering berhubungan dengan pemahaman teologis yang kebanyakan umat awam kurang ketahui. Tetapi anda bisa mulai menjelaskan dari pengakuan Rasul Thomas akan keilahian Yesus Kristus dengan berkata “Ya Tuhanku dan Allahku” atau penjelasan Pater Paulus di atas.
Hindari untuk menyerang pribadi Saksi Yehowah, tetapi berdiskusilah mengenai ajarannya. Setelah berdiskusi, berdoalah untuk perpindahan mereka ke Gereja Katolik. Bila anda tidak mampu menjawab pertanyaan lain yang mungkin ditanyakan, jujurlah pada Saksi Yehowah tersebut dan berjanjilah pada diri anda dan diri orang itu bahwa anda akan mencari tahu jawabannya kelak. Biasakan pula untuk menyediakan literatur-literatur Katolik yang berguna di rumah anda sehingga dapat digunakan untuk diskusi dengan Saksi Yehowah.

Cerita Seorang Katolik eks-Saksi Yehowah
Dampak yang dapat dihasilkan oleh seorang Katolik yang siap memberikan pesan kebenaran kepada misionaris Saksi Yehowah sangatlah besar.
Sekali peristiwa ketika saya sedang mengunjungi rumah seorang Kristen, saya memberikan presentasi Saksi Yehowah saya mengenai harapan untuk hidup selamanya di firdaus di bumi. Orang ini memberitahu saya dengan sangat tenang dan penuh kasih bahwa harapannya bukanlah untuk hidup selamanya di firdaus di bumi tetapi untuk hidup selamanya di surga dengan Yesus. Dia kemudian berkata, “Dan saya tidak dapat memikirkan tempat lain yang lebih baik untuk saya harapkan, termasuk firdaus di bumi.”
Meskipun saya seorang Saksi Yehowah, saya tahu bahwa berada bersama Yesus Kristus untuk selamanya adalah lebih baik daripada kehidupan abadi di firdaus di bumi. Saya speechless, tidak dapat berkata apa-apa setelah mendengar komentar sederhana ini dan kemudian pergi meninggalkan orang itu. Rekan Saksi Yehowah yang menemaniku hari itu berkata kepadaku, “Saya pikir orang itu memiliki Roh Kudus atau sesuatu hal.”
Bapa Suci meminta kita untuk berkontribusi dalam “Penginjilan Baru” dunia. Kita dapat membuat sebuah kontribusi terhadap “Penginjilan Baru” ini dengan memberikan kesaksian yang baik kepada teman-teman Saksi Yehowah kita. Strategi yang diuraikan di atas dapat menolong anda untuk memulai memberikan kesaksian kepada mereka dengan sukses.

Sumber: http://www.indonesianpapist.com/2012/01/menginjil-saksi-yehowah.html

Jumat, 07 Juni 2013

Spiritualitas Ibadat Harian

Kita telah melihat sejarah Ibadat Harian, berdoa dalam irama waktu tertentu. Dan kini kita mencoba merangkum nilai spiritualitas Ibadat Harian tersebut :

Doa Ibadat Harian adalah Doa Penyucian Waktu.
Secara harfiah Ibadat harian berarti ibadat Waktu, ibadat menurut irama waktu. Maksudnya ialah agar pada saat-saat tertentu – pagi, siang, sore, sebelum tidur – si pendoa mempersatukan diri dengan Kristus, Sang Pendoa, dalam ibadat pujian dan permohonan. Berdasarkan tradisi kristiani yang telah beradab-abad umurnya, Ibadat Harian disusun sedemikian rupa, sehingga seluruh waktu dan malam disucikan dengan pujian kepada Allah (SC 84). Waktu adalah milik Allah yang dianugerahkan kepada manusia. Di dalam waktu manusia ada, dan berkarya. Dalam waktu kita bergumul, bergulat antara kebaikan dan kejahatan. Waktu yang dianugerahkan Allah kerap tercemari oleh dosa-dosa kita, silih dan pemulihan perlu dilakukan sembari memohon kekuatan Tuhan untuk menhidupi waktu.

Sebagaimana telah kita lihat, jejak doa penyucian waktu ini sangat menonjol baik dalam Perjanjian Lama (bdk mzm 5, 88, 119, Kel 29:38-39, dll) – maupun dalam Perjanjian Baru (bdk Kis10:3, 9; 16:25, etc; Kis 10:9-49 ; Kis 4:23-30) sebagai penerusan tradisi Judaime yang “dikristenkan” oleh Jemaat Perdana. (Bdk 1 Tes 1:2; Kol 3:16-17; Ef 5:18-20; Flp 2:6-11). Jadi bukan “rekayasa” Gereja Katolik.

Nasehat Kristus agar kita selalu berdoa tanpa kendur (Luk 18:1) ditanggapi Gereja dengan setia melalui perayaan Ekaristi sebagai puncak doanya dan dalam ibadat-ibadat bersama serta devosi-devosi yang dipanjatkan oleh seluruh umat beriman. Dan terlebih dalam Doa Ibadat Harian – yang di antara upacara-upacara liturgi lainnya, menurut tradisi Kristen – mempunyai kekhususan untuk menyucikan seluruh lingkaran hari dan malam (SC 83-84).

Dengan demikian seluruh karya umat beriman disucikan oleh dan bagi Allah melalui Ibadat Harian :

“Pendarasan Ibadat Harian, sedapat mungkin hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan hidup dan doa pribadi sehingga seperti yang diberikan dalam Instruksi Umum, ritme dan melodi hendaknya digunakan, dan bentuk-bentuk perayaan supaya dipilih yang lebih sesuai dengan kebutuhan rohani dari mereka yang mendoakannya. Jika doa Ofisi ilahi menjadi doa yang sungguh-sungguh bersifat pribadi maka hubungan antara liturgi dan seluruh hidup kristiani menjadi lebih jelas. Seluruh hidup orang beriman, dari saat ke saat, siang maupun malam, menjadi semacam leitourgia atau kebaktian umum, dalam mana kaum beriman menyerahkan diri untuk pelayanan kasih kepada Allah dan sesama, dengan menyatukan diri mereka pada tindakan Kristus, yang melalui hidup-Nya dan pengorbanan diri-Nya menguduskan hidup seluruh umat manusia” (Bina Liturgia 2F : Konstitusi Apostolik "Madah Pujian" dan Pedoman Ibadat Harian)

Ibadat Harian Sebagai Doa Kristus : Kristus Berdoa Kepada Bapa

Yesus Kristus, Sang Sabda yang menjelma mengambil kodrat manusia, datang ke dunia sebagai imam perjanjian baru dan kekal. Dalam hati Kristus, pujian kepada Allah menggema dan terungkap dalam bahasa manusia sebagai sembah sujud, pemulihan dan doa permohonan atas nama dan demi kepentingan semua orang.

Injil suci kerap kali mengisahkan Yesus sedang berdoa : tatkala perutusanNya diumumkan oleh Bapa (Luk 3:21-22), sebelum Dia memanggil para rasul (Luk 6:12), tatkala membagi-bagikan roti (Mat 4: 19, 15:36, dll), saat penampakkan diriNya di atas gunung (Luk 9:28-29), ketika menyembuhkan orang bisu tuli (Mrk 7:34), saat menghidupkan kembali Lazarus (Yoh 11:41,dst), sebelum menerima pengakuan Petrus (Luk 9:18), ia mengajar para murid berdoa (Luk 11:1), ketika para murid kembali dari tugas mereka (Mat 11:25), ketika memberkati anak-anak (Mat 19:13), Ia berdoa untuk Petrus (Luk 22:32).

Hidup Yesus sehari-hari selalu berhubungan erat dengan doa – bahkan mengalir daripadanya: Ia pergi ke padang gurun atau menyendiri di atas gunung untuk berdoa (Mrk 1:35, Luk 5:16 lih Mat 4:1, Mat 14:23), ketika Ia bangun pagi-pagi benar (Mrk 1:35) atau berjaga sampai larut malam (Mat 14:23.25 ; Mrk 6:46,dst). Yesus pun menghargai “kebiasaan” (baca: tradisi) doa bersama di rumah ibadat pada hari Sabat (Luk 4:16) dan juga di kenisah yang disebutNya sebagai rumah doa (Mat 21:13). Dan tentunya, Ia juga melakukan doa-doa pribadi setiap hari menurut kebiasaan orang Israel : pada perjamuan makan (Mat 14:19 ; 15:36), pada perjamuan terakhir (Mat 26:26) pada perjamuan di Emaus (Luk 24:30) – begitu pun dia mengucapkan madah bersama para murid (Mat 26:30). Bahkan hingga akhir hidupNya, ketika sengsara mendekat (Yoh 12:27,dst), saat sakratul maut (mat 26:36-44), ketika meregang nyawa di kayu salib (Luk 23:34-36 ; Mat 27:46; Mrk 15:34) – Ia tetap berdoa.

Yesus menunjukkan bahwa doa menjiwai seluruh tugas pelayananNya sebagai Almasih sampai wafat dan kebangkitanNya. Dan kemudian setelah bangkit dari alam maut, Ia hidup dan berdoa untuk kita selamanya (Ibr 7:25).

Ibadat Harian Sebagai Doa Gereja : Gereja Melanjutkan Doa Kristus dalam Roh Kudus

Doa yang dipanjatkan Yesus tersebut dilanjutkan oleh Gereja dalam Roh Kudus, Roh Kristus sendiri. Dalam Ibadat harian, Gereja melaksanakan tugas imamat Kristus dan tak henti-hentinya menyampaikan kepada Allah kurban pujian, yaitu ucapan mulut untuk kemuliaan nama Allah (Ibr 13:15). Doa Ibadat Harian merupakan “suara mempelai, yang berbicara dengan pengantinnya”, bahkan merupakan doa Kristus bersama tubuhNya kepada Bapa (SC 84). Jadi semua orang yang merayakan Ibadat Harian, melaksanakan tugas Gereja dan sekaligus mengambil bagian dalam kehormatan mempelai Kristus, sebab dalam memuji Allah, mereka berdiri di depan tahta Allah atas nama ibu Gereja. (SC 71).

Dengan menyampaikan pujian kepada Allah dalam Ibadat Harian, Gereja menggabungkan diri pada pujian yang dinyanyikan di surga sepanjang masa (SC 83). Dan sekaligus Gereja sudah menikmati pujian surgawi yang dilukiskan dalam Kitab Wahyu, yang dengan tak henti-hentinya menggema di depan tahta Allah dan Anak Domba. Dengan berdoa, hubungan kita dengan Gereja Surgawi menjadi nyata, yaitu apabila “kita bersama-sama melagukan pujian Allah yang mahaagung dengan gembira, dan apabila kita semua dari segala suku, bahasa dan bangsa, yang telah ditebus dalam darah Kristus (Lih. WHY 5:9) dan dihimpunkan dalam satu Gereja, Memuliakan Allah Tritunggal dengan satu lagu pujian” (LG 50; bdk. SC 8 dan 104).

Gereja mengantar manusia kepada Kristus, bukan hanya dengan cinta kasih, teladan dan karya tobat, melainkan juga dengan doanya (lih. PO 6). Dengan demikian cara hidup Gereja mengungkapkan dan memaklumkan kepada orang-orang lain “misteri Kristus dan hakikat Gereja yang sebenarnya, yaitu sebagai Gereja yang tampak namun penuh dengan anugerah yang tak tampak, yang sangat aktif namun juga kontemplatif, yang berada di tengah-tengah dunia namun juga dalam perjalanan”. (SC 2). Dan semua doa serta permohonan yang haturkan ini bukan hanya seruan Gereja, melainkan juga suara Kristus, sebab doa-doa itu diucapkan atas Nama Kristus, yaitu “demi Yesus Kristus, Tuhan dan Pengantara kita”.

Ibadah harian disusun sedemikian rupa sehingga seluruh kurun hari dan malam disucikan dengan pujian kepada Allah, kegiatan ini dilaksanakan oleh para Imam, orang lain yang atas ketetapan gereja maupun umat beriman (bdk SC 84). Maka dari itu, semua yang mendoakan Ibadah Harian menunaikan tugas gereja, dan ikut serta dalam kehormatan tertinggi mempelai Kristus. Sebab seraya melambungkan pujian kepada Allah mereka berdiri di hadapan tahta Allah atas nama Bunda Gereja (SC 85).

Kecuali itu sebagai doa resmi Gereja, Ibadah Harian menjadi sumber kesalehan dan membekali doa pribadi. Oleh karena itu para imam dan semua orang lain yang ikut mendaras Ibadat Harian diminta dalam Tuhan, supaya dalam melaksanakannya hati mereka berpadu dengan apa yang mereka ucapkan. Supaya itu tercapai dengan lebih baik, hendaknya mereka mengusahakan pembinaan yang lebih mendalam tentang Liturgi dan Kitab Suci, terutama mazmur-mazmur (SC 90).

Dengan memanjatkan ibadah harian kita menunjukkan wajah Gereja yang berdoa. Doa-doa dalam ibadah harian adalah doa-doa yang diinspirasikan dari Roh Kudus, karena berasal dari teks kitab suci, khususnya Mazmur Daud.

Ibadah Harian merupakan suatu tugas kehormatan, dimana kita [saya dan anda] bersama-sama dengan seluruh Gereja memanjatkan doa di hadapan Tahta Allah (bdk SC 85).

Ibadat Harian adalah Doa Alkitabiah : Berdoa dengan Kitab Suci.

Doa Ibadat Harian merupakan doa yang bersumber dari Kitab Suci (Biblis – alkitabiah) – bahkan bisa dikatakan doa Ibadat Harian adalah berdoa dengan Kitab Suci. “Orang-orang yang melaksanakan Ibadat Harian memperoleh kesucian yang berlimpah dari liturgi itu berkat daya Sabda Allah yang menduduki tempat utama di dalamnya. Sebab bacaan-bacaan dikutip dari Kitab Suci, Sabda Allah yang tertera dalam mazmur-mazmur dinyanyikan di hadapan Allah, dan berkat ilham dan dorongan allah, doa-doa lainnya serta madah-madah diluapkan” (SC 24).

Sumber : http://parokisalibsuci.org/

Doa-doa Harian

Bapak kita Santo Fransiskus dari Assisi mengajak kita agar senantiasa berdoa: memuji dan memuliakan Tuhan, menyembah dan bersyukur kepada-Nya, memohon ampun dan berkat-Nya di mana pun kita berada. Berikut ini adalah doa-doa yang dapat kita pakai setiap hari, sendiri maupun bersama dalam keluarga. Dapat juga ditularkan kepada orang lain.

1. Doa Kami Menyembah Engkau
(doa sederhana ini diucapkan ketika memulai setiap ibadat)

Kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus, di sini dan di semua Gereja-Mu di seluruh dunia, dan kami memuji Engkau, sebab Engkau telah menebus dunia dengan salib-Mu yang suci.

2. Doa Salib
(untuk mengenang sengsara Tuhan diucapkan sambil berlutut, tangan diangkat, telapak tangan terbuka):
1 x Bapa Kami
1 x Salam Maria
1 x Kemuliaan
(diulang sebanyak 5 kali, doa ini dapat dibuka dan ditutup dengan doa “Kami Menyembah Engkau….” seperti di atas)

3. Ofisi Ilahi/Ibadat Harian
(doa ini diucapkan secara lisan. Dapat diucapkan di tempat mana pun, sesuai dengan kesibukan masing-masing; dapat juga diucapkan dalam hati, bila keadaan tidak memungkinkan):

Ibadat Pagi/Laudes
(antara pkl 05:00 - pkl 07:00)
Tanda Salib
Doa “Kami Menyembah Engkau….”
I x Aku Percaya, 5 x Bapa Kami, dan 1 Kemuliaan
Tanda Salib
Doa “Kami Menyembah Engkau….”

Ibadat Siang
(antara pkl 09.00 - pkl 16.00. Doa ini dapat diucapkan dalam tiga kesempatan, yakni):
Antara jam 09.00 - jam 10.00 (Tertia)
An tam jam 11.00 - jam 12.00 (Sexta)
Antara jam 14.00 - jam 15.00 (Nona)
Tanda Salib
Doa “Kami Menyembah Engkau….”
1 x Aku Percaya, 7 x Bapa Kami, dan 1 x Kemuliaan
Tanda Salib
Doa “Kami Menyembah Engkau….”

Ibadat Sore/Vesperae
(antara pkl. 17.00 - pkl 20.00)
Tanda Salib
Doa “Kami Menyembah Engkau….”
1 x Aku Percaya, 12 x Bapa Kami, dan 1 x Kemuliaan
Tanda Salib
Doa “Kami Menyembah Engkau….”

Ibadat Penutup/Completorium
(menjelang tidur atau setelah pkl. 21.00)
Tanda Salib
Doa “Kami Menyembah Engkau….”
1 x Aku Percaya, 7 x Bapa Kami, dan 1x Kemuliaan
Tanda Salib
Doa “Kami Menyembah Engkau….”

Ibadat Bacaan:
Tanda Salib
Doa “Kami Menyembah Engkau….”
1 x Aku Percaya, 24 x Bapa Kami, dan 1 x Kemuliaan
Tanda Salib
Doa “Kami Menyembah Engkau….”

4. Doa Waktu Melayat
(atau kapan saja, untuk orang yang meninggal):
Tanda Salib
Doa “Kami Menyembah Engkau….”
7 x Bapa Kami
Tuhan berilah dia (mereka) istirahat yang kekal
Tanda Salib
Doa “Kami Menyembah Engkau….”

5. Doa mohon ampun atas dosa-dosa
(diucapkan setiap hari)
Tanda Salib
Doa “Kami Menyembah Engkau….”
3 x Bapa Kami
Tanda Salib
Doa “Kami Menyembah Engkau….”

dikirim oleh: Alfons S. Suhardi, OFM
Dikutip dari : http://ofm.or.id/doa-doa-harian/

Bagaimana Mendoakan Ibadat Harian?

(Disarikan dari : Institutio Generalis de Liturgia Horarum – Konggregasi Ibadat, Roma 2 Pebruari 1971 – diindonesiakan oleh PWI – Liturgi “Pedoman Ibadat Harian” – Bab V)

1. Selintas Susunan Doa Ibadat Harian

Semua Ibadat Harian, diawali dengan seruan mazmur 69/70: 2 : “Ya Allah bersegeralah menolong Aku…..” – Kecuali dalam Ibadat Pembukaan (bisa Ibadat Bacaan atau Ibadat Pagi) yang diawali dengan seruan : ”Ya Tuhan sudilah membuka hatiku – supaya mulutku mewartakan pujianMu.” (Mzm 50/51: 17) – dilanjutkan dengan antiphone dan mazmur pembukaan (biasanya mazmur 94/95).

Selanjutnya dilagukan madah dan pendarasan mazmur. Kemudian diikuti dengan pembacaan Kitab Suci dan disambut dengan sebuah seruan lagu singkat. Komponen-komponen lainnya tergantung kepada masing-masing Ibadat yang dirayakan. Dan dalam tiap ibadat, mazmur diawali dan diakhir dengan sebuah antiphone dan ditutup dengan doxology (kemuliaan).

2. Petugas & Sikap Liturgi dalam Ibadat Harian

- Setiap perayaan umat, sebaiknya dipimpin oleh imam atau diakon dan didampingi para petugas lainnya.
- Imam atau diakon yang memimpin bertugas membuka ofisi dengan ayat pembukaan, memulai Bapa Kami, mengucapkan doa penutup, memberi salam kepada umat, memberi berkat dan membubarkan umat. Semua ini dilakukan di tempat duduknya
- Doa-doa permohonan dapat dilakukan oleh imam atau petugas lain
- Apabila tidak ada imam atau diakon yang memimpin, pemimpin ofisi menduduki tempat pertama, tetapi sejajar dengan hadirin lainnya. Ia tidak memasuki ruang imam, tidak memberi salam dan juga tidak memberkati umat.
- Petugas bacaan membawakan dengan berdiri di tempat yang sesuai
- Semua peserta berdiri saat :
• Pembukaan Ofisi
• Madah
• Kidung dari Injil
• Doa permohonan, Bapa Kami dan doa penutup.
- Semua peserta duduk waktu bacaan-bacaan, kecuali bacaan dari Injil
- Waktu mazmur, kidung dan antifon semua duduk atau berdiri tergantung kebiasaan.

3. Tanda Salib

Dalam Ibadat Harian, tanda Salib tidak dilakukan secara harafiah – dalam arti dengan kata-kata “dalam nama Bapa, dst…”. Tanda salib dilakukan bersamaan dengan seruan pembukaan :
- Ibadat Pembuka : “Ya Tuhan sudilah membuka hatiku…..” pada saat bersamaan semua peserta membuat tanda salib kecil di dahi, mulut dan di dada.
- Pembukaan Ibadat Harian yang lain : “Ya Allah bersegeralah menolong aku….dst” pada saat bersamaan semua peserta membuat tanda salib besar seperti biasanya.
Selain itu tanda salib besar juga dilakukan saat Kidung Zakharia, Kidung Maria dan Kidung Simeon – serta pada saat berkat penutup.

4. Pendarasan Mazmur & Bahasa

- Cara pendarasan mazmur tergantung pada pelbagai pertimbangan, misal dari jenis sastra dan panjangnya mazmur, bahasa yang dipakai, jumlah peserta, dan sebagainya.
- Beberapa pendarasan mazmur :
• Didaraskan bersama-sama seluruh hadirin
• Bergantian antara koor dan umat
• Bersahut-sahutan (responsorial) antara umat atau umat dan petugas
- Pada awal mazmur selalu diucapkan antiphon dan pada akhir mazmur ditambahkan “Kemuliaan…. Seperti…” sebagaimana dianjurkan oleh tradisi. Dengan demikian doa Perjanjian Lama diberi nada pujian dan dihubungkan dengan misteri Kristus dan Tritunggal Maha Kudus.

Setelah pendarasan mazmur sebaiknya antiphon diulangi
- Saat hening diantara bagian-bagian mazmur juga sangat dianjurkan sebagai nada sela menghayati apa yang baru didaraskan.
- Dalam perayaan Ibadat Harian, nyanyian tidak boleh dianggap sebagai hiasan atau tambahan belaka. Nyanyian merupakan luapan hati orang yang berdoa dan memuji Allah serta mewujudkan kebersamaan ibadat Kristen dengan sempurna.
- Dalam upacara liturgi yang dinyanyikan dalam bahasa Latin, nyanyian Gregorian sebagai nyanyian khas liturgi Roma, harus diutamakan, kecuali jika ada pertimbangan lain (SC 116)
- Tidak ada jenis musik suci yang ditolak Gereja untuk upacara liturgi, asal selaras dengan semangat upacara liturgi tersebut dan hakikat masing-masing bagiannya dan tidak menghalangi umat untuk ikut berperan serta secara aktif. (MS9 – lih SC 116)
- Ibadat Harian dapat dirayakan dengan bahasa lokal/setempat, “maka hendaknya diciptakan lagu-lagu untuk nyanyian ofisi dalam bahasa lokal” (MS 41 – lih juga 54-61)
- Tidak ada keberatan bahwa bagian yang satu dinyanyikan dalam bahasa yang berbeda dengan bagian lain (MS 51)

Tradisi-tradisi Lain

Dalam beberapa biara atau komunitas religius terdapat tradisi yang patut pula kita pelihara dan ikuti, misalkan tradisi membungkukkan badan dengan khitmat saat pengucapan Kemuliaan kepada Tritunggal Maha Kudus – dalam mendoakan bait terakhir Madah yang bernada Trinitarian, serta di saat mengucapkan kata “Yesus” (misal dalam antiphone Ratu Surga dalam kompletorium)

Kewajiban Mendoakan Ibadat Harian

Dalam Gereja Katolik, praktek ibadat harian dilakukan oleh para imam, diakon dan komunitas-komunitas religius di dalam Gereja. Meski demikian, Konsili Vatikan II (dan anjuran-anjuran setelahnya) juga sangat mendorong bagi para awam secara pribadi maupun bersama-sama menjalankan doa Gereja ini :
- “…. Dianjurkan agar para awam pun mendaras Ibadat Harian, entah bersama imam, entah antar mereka sendiri, atau bahkan secara perorangan.” (SC100)
- “Menurut asal-usul dan hakikatnya, ibadat harian bukanlah milik khusus para rohaniwan dan rahib saja, melainkan milik umum seluruh umat Kristen” dan atas dasar konstitusi dan peraturan diangkat menjadi “doa resmi Gereja” (Pedoman Ibadat Harian, No.270).

Ibadat Harian bukanlah peninggalan indah masa lalu yang harus dipelihara untuk dikagumi, melainkan gejala hidup umat setempat, penuh daya pembaharuan, pertumbuhan dan kesegaran. Tradisi suci ini perlu kita kembangkan di kalangan hidup rohani umat yang, dewasa ini dibingungkan dengan munculnya aneka devosi atau kegiatan latihan rohani yang relatif baru.

Dalam pelaksanaan ibadat Harian dikalangan umat, yang terpenting ialah jangan sampai perayaan itu menjadi kaku dan dibuat-buat, atau merupakan rutinitas dan formalisme belaka. Jadi harus diusahakan supaya perayaan itu sungguh berarti. Sebab maksud ibadat harian ialah pertama-tama membentuk hati dengan semangat doa Gereja yang asli dan menimba kekuatan serta kenikmatan dari pujian Allah (Mzm 146/147).

Sumber : http://parokisalibsuci.org/

Tentang Ibadat Harian dan Ibadat Penutup (Completorium)

Completorium atau Ibadat Penutup merupakan bagian dari Ibadat Harian. Ibadat Harian merupakan terjemahan dari kata (Liturgia Horarum – har : Liturgi Waktu) yang dikenal pula dengan nama-nama lain seperti : Ofisi Ilahi (Officium Divinum), dan doa Brevir. Ibadat Harian mempunyai akar yang sangat panjang dan dalam dalam tradisi Judaisme maupun setelah “dikristenkan” oleh praktek Jemaat Gereja Perdana.

Apa itu Ibadat Harian?
Dalam Puji Syukur, pada bagian KEBIASAAN ORANG KRISTEN salah satunya dikatakan adalah Melaksanakan Ibadah Harian. Dalam hal ini Konstitusi Liturgi Konsili Vatikan II mengatakan: Gereja tiada putusnya memuji Tuhan dan memohonkan keselamatan seluruh dunia bukan hanya dengan merayakan Ekaristi, melainkan dengan cara-cara lain juga, terutama dengan mendoakan Ibadat Harian (SC 83). Sebelum menjawab apa itu Ibadat harian – ada baiknya kita mengenal sekilas sejarah Ibadat Harian.

SELINTAS SEJARAH IBADAT HARIAN

Asal Mula Ibadat Harian

Dalam tradisi bangsa Yahudi, sepanjang kurun waktu pagi, siang dan malam disucikan bagi Allah.

Awal mulanya, atas perintah Allah kepada para imam, penyucian hari dilakukan melalui kurban sembelihan pada pagi dan petang hari (Kel. 29:38-39 – bdk, Bil. 28:3-8, 1Raja 18:36). Praktek ini terus berlangsung hingga ke Bait Allah di Jerusalem. Dan selanjutnya di masa pembuangan Babilon, dimana Bait Allah dihancurkan, praktek ini digantikan dengan pembacaan Torah, mazmur dan madah pujian di sinagoga-sinagoga. Kurban Pujian menggantikan kurban sembelihan.

Jejak-jejak tradisi penyucian waktu ini dengan gampang kita temukan dalam ungkapan-ungkapan perjanjian lama terutama dalam “kitab doa” mereka, yaitu kitab Mazmur, misal :
- Mzm 5:4 TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu
- Mzm 88:14 Tetapi aku ini, ya TUHAN, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan pada waktu pagi doaku datang ke hadapan-Mu (Mazmur ini dipakai dalam Ibadat Penutup hari Jumat)
- Mzm 119:164 Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil
- Mzm 141:2 Biarlah doaku adalah bagi-Mu seperti persembahan ukupan, dan tanganku yang terangkat seperti persembahan korban pada waktu petang.

Umat Israel pada masa pembuangan juga memiliki kebiasaan berdoa pada jam-jam tertentu (lih. Dan 6:10;6:13)

Setelah masa pembuangan dan sisa Israel kembali ke Yudea, kurban pujian ini tetap dilakukan di Bait Allah yang dibangun kembali.

Dan pada saat penjajahan Romawi, kaum Yahudi mulai mengikuti sistem pembagian waktu romawi dalam melaksanakan roda bisnis dan juga kehidupan sehari-hari, termasuk dalam waktu berdoa. Di kota-kota jajahan Romawi, terdapat bel di pasar/tengah kota sebagai penanda jam kerja. Bel mulai berbunyi kira-kira jam enam pagi, sembilan dan jam ketiga di tengah hari untuk menandai saat makan siang, dan selanjutnya untuk memanggil orang-orang untuk kembali bekerja di jam satu siang jam tiga siang hingga akhirnya bel berbunyi terakhir kalinya pukul enam sore untuk menutup waktu kerja.

Jemaat Kristen perdana meneruskan tradisi Yahudi dalam melambungkan doa-doa pada waktu-waktu tertentu di sepanjang hari – dan dengan pengaruh pengaturan waktu versi Romawi di atas. Yesus dan Para Rasul menjalankan kebiasaan Yahudi ini. Injil suci kerap kali mengisahkan Yesus sedang berdoa : bdk. Luk 3:21-22, Luk 6:12, Mat 4:19; 15:36, Luk 9:28-29; Yoh 11:41,dst; Luk 9:18 ; Luk 11:1; Mat 11:25; Mat 19:13; Luk 22:32. Hidup Yesus sehari-hari selalu berhubungan erat dengan doa – bahkan mengalir daripadanya: bdk. Mrk 1:35, Luk 5:16 lih Mat 4:1, Mat 14:23; Mrk 1:35; Mat 14:23.25; Mrk 6:46,dst.

Mereka berdoa pada waktu-waktu tertentu : pada jam tiga, jam enam dan jam sembilan serta di tengah malam hari (bdk. Kis 10:3, 9; 16:25, dll). Mukjijat pertama yang dilakukan para rasul, menyembuhkan orang lumpuh di tangga Bait Allah terjadi saat Petrus dan Yohanes bergegas menuju Bait Allah untuk berdoa (bdk. Kis 3:1). Juga satu moment sangat penting yang diputuskan oleh jemaat perdana, yaitu menerima “bangsa-bangsa kafir” sebagai bagian dari umat Allah terjadi setelah visiun yang dialami Petrus saat dia berdoa di siang hari (bdk. Kis 10:9-49).

Selanjutnya, ketika Kristianitas mulai terpisah dari Judaisme (ditandai dengan hancurnya Bait Allah Yerusalem tahun 70), praktek berdoa di saat-saat tertentu (baca: penyucian waktu) ini terus berlanjut. Doa-doa jemaat Kristen Perdana tetap berisikan elemen yang hampir sama dengan apa yang dilakukan bangsa Yahudi : mengulang-ulang atau menyanyikan (mendaraskan) mazmur, membaca kitab suci, (Kis 4:23-30) dan pada kemudian hari ditambahkan dengan madah kemuliaan serta beberapa elemen yang lainnya.

Para Bapa Gereja – Abad Pertengahan – Konsili Trente hingga Revisi Paus Pius V

Penetapan waktu doa selain dituliskan dalam Alkitab juga terdapat dalam tulisan-tulisan para Bapa Gereja dan kitab-kitab Apokrif. Kitab Didache (95M) menyebut “orismenois kairois kai horeis” (“waktu-waktu dan jam-jam tertentu untuk sembahyang”). Rujukan tentang hal ini juga termuat dalam Dokumen Konstitusi Rasuli (380) dan Bapa Gereja. Basilius Agung (330 – 379) dalam “Regulae Fusius Tractate”, yang bahkan menyebutkan bahwa penetapan waktu-waktu sembahyang itu telah dilakukan di Yerusalem oleh Para Rasul sendiri.

Hampir semua Bapa Gereja menulis tentang tradisi penyucian waktu ini, baik dari Gereja Timur seperti Bapa Gereja Yohanes Krisostomos (354 – 407), maupun di Gereja Barat seperti St. Hieronimus (340 – 420). St.Agustinus dari Hippo dalam Regula-nya (aturan hidup membiara) yang pertama di dunia Barat (ditulis sekitar tahun 397), menganjurkan pada para rahib dan rabib/ rubiah : “Untuk bertekun dengan setia dalam doa pada jam-jam dan waktu-waktu yang telah ditentukan”. Pada abad ketiga, para Bapa Padang Gurun (rahib awali) memulai hidup pertapa untuk memenuhi anjuran St. Paulus agar “berdoa tanpa henti” (I Tes 5:17). Dan mereka melakukan praktek doa ini secara berkelompok.

Di Gereja Timur, perkembangan Ibadat Harian ini beralih dari sekitar Jerusalem menuju Konstantinopel. St. Theodorus (758-826) mengkombinasikan doa ini dengan beberapa pengaruh dari Byzantium dan menambahkan beberapa madah gubahannya sendiri.

Di Gereja Barat, St. Benediktus Nursia dalam regulanya yang terkenal memberikan panduan tentang praktek doa ibadat harian ini. St. Benediktus pula yang dengan tajam menandaskan bahwa konsep doa Kristen tidaklah terpisah antara hidup rohani dan hidup jasmani. Ungkapan Beliau yang sangat terkenal adalah “Orare est laborare, laborare est orare” (“To pray is to work, to work is to pray”). Pada masa Beliau juga doa ibadat harian disebut sebagai doa Ofisi Ilahi (Officium Divinum). Officium berarti karya (Opus) – Divinum berarti Ilahi (Dei). Para pengikut Benediktine menyebut doa ini sebagai Opus Dei atau “Work of God.” (Karya Allah).

Pada perkembangannya format doa Ibadat Harian berkembang pesat dalam praktek hidup monastik Kristiani baik di barat dan di timur. Di abad keempat praktek doa ibadat harian ini telah mendapatkan bentuknya yang lebih pasti, baik untuk kaum monastik, imam sekuler, maupun umat awam. Dan karena perkembangan ini pula dibutuhkan buku panduan doa yang kurang lebih lengkap dan bisa memenuhi kebutuhan gereja saat itu. Awalnya buku panduan doa itu masih dalam keadaan terpisah-pisah. Satu buku berisikan kumpulan mazmur, lain lagi buku berikan kumpulan madah, buku Injil untuk bacaan Kitab Suci, dan sebagainya. Cukup ribet. Belum lagi ditambah dengan perkembangan umat sistem parokial yang secara geografis semakin jauh dari Katedral atau Basilika. Hingga akhirnya disusunlah versi sederhana dari doa-doa ibadat harian itu dalam satu buku yang disebut Brevir (latin har. berarti pendek). Brevir ini akhirnya dikenal luas hingga di masa Konsili Trente yang menghendaki adanya perubahan agar lebih efektif dan terlepas dari unsur-unsur mitos di dalam madah-madahnya.

Konsili Trente (13 Desember 1545 – 4 Desember 1563), dalam pertemuan finalnya 4 Desember 1563 mempercayakan reformasi brevir ini kepada Paus Pius IV. Dan pada tanggal 9 Juli 1568 – Paus Pius V (pengganti Pius IV) mengumumkan sebuah edisi revisi yang kemudian dikenal dengan sebutan Brevir Romawi. Dalam keputusan apostoliknya, Quod a nobis, dengan tegas ditandaskan larangan untuk menambahkan atau pun menghilangkan satu titik pun di dalam brevir tersebut (hal yang sama dilakukannya untuk buku Roman Missal dalam bulla Quo primum) agar tidak terkena murka Allah. “No one whosoever is permitted to alter this letter or heedlessly to venture to go contrary to this notice of Our permission, statute, ordinance, command, precept, grant, indult declaration, will decree and prohibition. Should anyone, however, presume to commit such an act, he should know that he will incur the wrath of Almighty God and of the Blessed Apostles Peter and Paul.” (In Defense of the Pauline Mass).

Konsili Vatikan II

34 tahun setelah revisi Paus Puis V, Paus Clement VIII melakukan perubahan atas brevir tersebut. Setelahnya, Paus Urban VIII dan Pius X juga melakukan perubahan yang cukup significant. Hal yang sama juga dilakukan oleh Paus Pius XII dan Paus Yohanes XXIII di tahun 1960.

Pada perkembangannya sejak akhir abad kelima hingga sebelum konsili vatican II, doa ibadat harian terdiri atas:
- Matutinum : Ibadat tengah malam (Vigile)
- Laudes (ps 148, 149, 150) dilakukan saat fajar menyingsing
- Primus – doa diawal pagi (jam 6)
- Tertia – Doa di awal tengah hari (jam 9)
- Sexta – doa tengah hari (jam 12 siang tepat)
- Nona – Doa setelah tengah hari (pk. 15.00)
- Vesper – doa sore (saat matahari tenggelam dan lampu-lampu mulai dinyalakan)
- Completorium – doa penutup hari.

Konsili Vatikan II melakukan penyederhanaan pada jam-jam kanonik Ibadat harian dan menjadikannya lebih mudah dilakukan pula oleh para awam dengan harapan untuk menggembalikan kembali karakter Ibadat Harian sebagai doa seluruh Gereja (bukan monoplogi biarawan/wati saja).

Konsili menghapuskan doa primus (digabungkan dengan Laudes) dan mengubah karakter Matutinum menjadi Ibadat Bacaan sehingga dapat dilakukan di setiap waktu. Lebih jauh lagi, konsili melakukan penataan ulang sehingga mazmur-mazmur secara keseluruhan bisa didoakan selama empat minggu (sebelumnya hanya satu minggu!).

Sejak Konsili Vatikan II pula, nama Roman Breviary diganti dengan sebutan Liturgy of the Hours / Ibadat Harian (Liturgia Horarum) yang terbagi dalam empat volume sesuai dengan Kalender Liturgi gereja:
• Volume I: Adven & Natal
• Volume II: Prapaskah dan Trihari Suci serta Masa Paska
• Volume III: Minggu Biasa 1 sampai 17
• Volume IV: Minggu Biasa 18 sampai 34

Saat ini, praktek Ibadat Harian dalam Gereja katolik Roma meliputi :
- Ibadat Pembukaan (merupakan ibadat pertama pada hari tersebut, bisa dalam Ibadat Bacaan atau Ibadat Pagi)
- Ibadat Bacaan (Matutinum)
- Ibadat Pagi (Laudes)
- Ibadat Siang, terdiri atas :
Tertia (Ibadat sebelum tengah hari)
Sextia (Ibadat tepat tengah hari)
Nona (Ibadat setelah tengah hari)
- Ibadat Sore (Vesper)
- Ibadat Malam (Completorium)

Sumber : http://parokisalibsuci.org/
Gambar : http://tradisikatolik.blogspot.com/

Selasa, 04 Juni 2013

KEBUN ANGGUR SEORANG IMAM LUDAS BUAH-BUAH ANGGURNYA GARA-GARA FRANSISKUS

Karena sakit matanya Santo Fransiskus pernah untuk beberapa lama berdiam bersama seorang imam miskin di gereja Santo Fabianus yang terletak di dekat Rieti. Pada suatu hari Paus Honorius beserta para pejabat pembantunya mengunjungi kota itu. Karena Sri Paus dan rombongannya sangat menghormati Fransiskus, maka beliau dan banyak kardinal dan para pejabat tinggi Gereja itu datang mengunjungi Fransiskus hampir setiap hari.
e to edit.

Gereja ini mempunyai sebuah kebun anggur yang kecil yang terletak bersebelahan dengan ruangan di mana Fransiskus tinggal. Hampir semua orang yang mengunjunginya melewati kebun anggur dalam jalan menuju pintu rumah di mana Fransiskus berdiam. Pada waktu kunjungan para penggede Gereja dari Roma itu, secara kebetulan buah-buah anggur di kebun itu sudah mulai masak … manis rasanya. Tanpa menunggu lama-lama pohon-pohon anggur di kebun itu sudah kehilangan buah anggur. Tak tersisa sedikit pun! Tidak mengherankanlah kalau sang imam menjadi kesal dan marah. Ia berkata, “Walaupun kebun anggur ini kebun yang kecil, aku biasanya masih mampu membuat air-anggur yang cukup untuk memenuhi kebutuhanku sendiri, akan tetapi tahun ini aku telah kehilangan seluruh tuaian.

Ketika Santo Fransiskus mendengar keluhan sang imam, maka dia minta agar imam itu datang melihatnya, lalu orang kudus ini berkata: “Romo, tidak usah khawatir lagi karena kita tidak dapat melakukan apa pun tentang hal itu sekarang. Namun demikian percayalah kepada Tuhan, karena Dia mampu memperbaiki kerugian Romo sepenuhnya demi aku, hamba-Nya yang kecil ini. Ceritakanlah kepadaku, berapa banyak  ‘takaran’  air-anggur yang Romo dapat peroleh pada waktu kebun anggur Romo menghasilkan yang terbaik? “Tiga bela ‘takaran’, Bapak,” jawab sang imam. Lalu Santo Fransiskus berkata kepada sang imam, “Jangan menyesal lagi, ya Romo. Dan jangan lagi mengucapkan kata-kata keras mengenai hal ini. Percayalah kepada Allah dan kata-kataku, dan apabila Romo memperoleh jumlah yang lebih kecil dari dua puluh ‘takaran’ air-anggur, maka aku akan menambahnya.”  Maka imam itu menutup mulutnya dan dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Ketika waktu untuk memetik buah anggur secara tahunan tiba, imam itu berhasil memperoleh buah anggur yang menghasilkan tidak kurang dari dua puluh ‘takaran’ air-anggur. Imam itu menjadi kaget serta terkagum-kagum dan juga orang-orang yang mendengar tentang mukjizat itu. Imam itu mengatakan, bahwa meskipun kebun anggurnya itu dipenuhi dengan buah anggur, hal itu tidak tetap tidak dapat menghasilkan dua puluh ‘takaran’ air-anggur.

Namun kami yang bersama dengan dia (Fransiskus) bersama ini memberi kesaksian bahwa apa yang dikatakannya tentang ini, dan semua saja yang diramalkannya selalu dipenuhi dengan tepat. 

Sumber: Speculum Perfectionis seu S. Francisci Assisiensis legenda antiquissima auctore fratre Leone nunc primum eidit Paul Sabatier. English version: Mirror of Perfection by Leo Sherley-Price, dalam OMNIBUS, butir 104, hal. 1241-1242. 

Cilandak, 8 Oktober 2010  

Terjemahan bebas oleh Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sumber :  http://ofsindonesia.weebly.com/16/post/2013/02/5-kebun-anggur-seorang-imam-ludas-buah-buah-anggurnya-gara-gara-fransiskus.html