Kamera 1

Selasa, 04 Juni 2013

TIGA PESAN AKHIR FRANSISKUS KEPADA PARA SAUDARA

Sekali peristiwa Fransiskus ingin mau muntah karena penyakit perutnya. Begitu hebat dan keras muntahnya itu, sehingga darah terus keluar sepanjang malam sampai pagi harinya.

Ketika para saudara yang menemaninya melihat dia hampir mati dari rasa lelah dan sakit yang ekstrim, mereka berkata kepadanya dengan rasa sedih sekali sambil berlinang-linang airmata, ‘Bapak, apa yang akan kami lakukan tanpa engkau? Ke bawah asuhan siapakah kami engkau akan serahkan sebagai anak-anak yatim? Engkau selalu merupakan ayah dan ibu kami sekaligus; engkau telah mengandung kami dan membawa kami maju dalam Kristus. Engkau adalah pemimpin dan gembala bagi kami, instruktur  dan korektor, mengajar dan mengoreksi kami lewat teladan hidupmu, bukannya kata-katamu. Kemana kami harus pergi, domba-domba tanpa seorang gembala, anak-anak tanpa seorang ayah, orang-orang kasar dan sederhana tanpa seorang pemimpin? Ke mana kiranya kami harus pergi untuk menemukanmu, O Kemuliaan Kemiskinan, Pujian Kesederhanaan, yang suka mengingatkan kami akan sifat kedosaan kami? Siapakah sekarang yang akan menunjukkan jalan kebenaran kepada kami, orang-orang buta ini? Bagaimana kami akan mendengar mulutmu berbicara kepada kami, dan lidahmu memberikan nasihat kepada kami? Di manakah kami akan menemukan semangatmu yang berkobar-kobar, yang membimbing kami sepanjang jalan Salib, dan menginspirasikan kami kepada kesempurnaan Injili? Di manakah engkau akan berada sehingga kami dapat datang berlari kepadamu, untuk membuat terang mata kami? Ke manakah kami harus mencari engkau, penghibur jiwa kami? O Bapak, apakah engkau sedang meregang nyawa? Engkau meninggalkan kami terbuang, sedih dan penuh keputus-asaan!

‘Aduh sedihnya hari ini! Karena ini adalah suatu hari penuh airmata dan kepahitan, suatu hari desolasi dan kesedihan sedang menimpa diri kami! Tidak mengherankanlah, karena selama ini hidupmu merupakan terang yang secara tetap menyinari kami, dan kata-katamu yang seperti obor-obor menyala, selalu menerangi kami sepanjang jalan Salib kami kepada kesempurnaan Injili, dan kepada cintakasih serta meneladani Tuhan kita yang manis dan tersalib.

‘Bapak, paling sedikit berikanlah berkatmu kepada kami dan kepada saudara-saudara yang lain, putera-puteramu yang telah kau peranakkan dalam Kristus, dan meninggalkan kenangan akan kehendakmu yang akan selalu dapat diingat oleh para saudara, sehingga berkata, “Bapak kita mewariskan kata-kata ini kepada para saudaranya dan putera-puteranya pada saat ajalnya.”’

Kemudian Bapak yang tercinta memandang putera-puteranya dan berkata, ‘Panggillah Saudara Benediktus dari Piratro untuk datang kepadaku.’  Saudara ini adalah seorang imam yang suci dan bijaksana,  yang kadang-kadang merayakan Misa untuk Santo Fransikus pada saat terbaring sakit; karena betapa berat sekali pun sakitnya, dia selalu ingin mendengar Misa apabila dimungkinkan. Setelah Saudara Benediktus datang, Santo Fransiskus berkata kepadanya, ‘Tuliskanlah bahwa aku memberi berkatku kepada semua saudaraku dalam Ordo, dan kepada semua yang akan masuk Ordo ini sampai akhir dunia. Dan karena aku tidak dapat berbicara banyak disebabkan oleh kelemahanku dan rasa sakit dari penyakitku, aku ingin secara singkat membuat kehendak dan tujuanku jelas bagi semua saudara, baik yang ada sekarang maupun yang akan datang di kemudian hari. Sebagai sebuah tanda bahwa mereka mengingat aku, berkatku dan Wasiatku, aku ingin mereka untuk selalu mengasihi satu sama lain, sebagaimana aku telah mengasihi mereka. Hendaklah mereka selalu mengasihi dan menghormati Tuan Puteri Kemiskinan kita, dan tetap setia serta taat kepada para uskup dan klerus dari Bunda Gereja yang kudus.’

Pada setiap penutupan kapitel, Bapa kita selalu memberkati dan mengampuni semua saudara dalam Ordo, baik yang ada pada masa itu maupun yang akan datang, dan dengan semangat penuh gairah kasihnya dia sering melakukan hal itu di luar kapitel. Namun dia biasa mengingatkan para saudara bahwa mereka harus waspada jangan sampai memberi contoh buruk, dan dia mengutuk semua yang karena contoh buruk mereka menyebabkan orang-orang berbicara buruk tentang Ordo dan kehidupan para saudara, karena para saudara yang baik dan suci menjadi dipermalukan dan berada dalam kesukaran besar disebabkan oleh perilaku sedemikian. 

Sumber: Speculum Perfectionis seu S. Francisci Assisiensis legenda antiquissima auctore fratre Leone nunc primum eidit Paul Sabatier. English version: Mirror of Perfection by Leo Sherley-Price, dalam OMNIBUS, butir 87, hal. 1220-1221. 

Cilandak, 9 Oktober 2010  

Terjemahan bebas oleh Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sumber:  http://ofsindonesia.weebly.com/16/post/2013/02/6tiga-pesan-akhir-fransiskus-kepada-para-saudara.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar